Tubuh kurus itu di peluk angin. Desau lirih dengan gigi bergemelutuk yang menyayat hati. Pakaian tipis, yang lusuh, tidak mampu menghalau angin malam yang semakin membekukan. Mata sayu nya terasa panas untuk di paksa terbuka.
Pukul 22.30 malam.
Masih terlalu dini jika dirinya kembali. Yang ada, tubuhnya akan berakhir di kamar mandi. Mau tak mau, dan dengan terpaksa, dirinya tetap bertahan disini. Menunggu taman sedikit sepi, dan dirinya akan pulang bersama dengan riuh angin.
"Masih belum pulang?" Suara berat, sarat akan kehangatan, mengalun merdu. Dengan tepukan halus yang terasa di bahu.
"Belum. Kamu sendiri kenapa masih disini?"
Yang bertanya lebih dulu, menarik napas panjang. Lalu di hembuskan, hingga berbaur dengan angin. "Nungguin Papa." Kemudian menaikkan resleting jaket nya sampai ke pangkal. Sesekali tangan nya mengusap ujung hidung, yang mulai berair. Sudah dipastikan, hidungnya sudah semerah tomat.
"Sering lembur ya, Sam?"
"Yaa gitu." Jawab nya malas.
"Samudera. Ayo pulang!" Teriakan dari ujung jalan, terdengar keras memekakan telinga. Yang bernama Samudra lantas berdiri lalu perlahan mulai melangkah menjauh.
Sisa seseorang lagi disana. Si penunggu waktu yang sedang melihat kedekatan Samudra dan Papa nya. Bibir tipis dan kering itu, tersenyum. Iri dalam hatinya memberontak saat melihat bagaimana Samudra tampak begitu dipelakukan baik.
Papa Samudra mengusap kepala Samudra dengan lembut. Lantas merangkul bahu Samudra dengan hangat.
"Malam?!" Seorang perempuan mendekat.
"Ah, iya?" Tiba-tiba ia tersentak.
"Kenapa ngelamun? Taman sudah sepi, Lam."
Perempuan tadi duduk disebelah Malam. Lelaki yang masih belum tersadar dari lamunan. Sampai beberapa detik, barulah Malam bangkit. Mengambil gitar nya dan menggendong nya di punggung. Tersenyum tipis pada perempuan yang kini masih menatap lembut kearah nya.
"Aku pulang duluan ya, Kak." Ucap nya.
Perempuan itu--Mila-- mengangguk. "Iya. Hati-hati. Besok nggak usah pulang terlalu larut. Sudah mulai sekolah. Nanti telat bangun dan berakhir kesiangan."
Malam hanya menanggapi dengan senyum tipis. Sudah terlampau biasa mendengar Mila yang berucap panjang lebar tak ada hentinya seperti sekarang.
Lalu Malam mulai berjalan pelan. Kaki berbalut sepatu yang sudah koyak disana-sini itu menapak tanpa beban. Malam tersenyum sepanjang jalan. Tak sabar untuk sampai di rumah. Semoga saja, pintu masih terbuka untuk dirinya.
Lima belas menit. Malam sampai di depan gerbang hitam menjulang yang tertutup rapat dari dalam. Sejenak, Malam menghela napas panjang. Tangan kurus nya mulai mendorong gerbang itu perlahan. Napas Malam seolah kembali. Lega karena gerbang nya belum terkunci.
Tapi langkah Malam terhenti di depan pintu besar yang sama menjulang nya. Ada perasaan ragu untuk mengetuk atau sekadar memanggil orang dalam. Malam takut hanya mendapat penolakan.
Malam menunduk dalam. Menatap lantai putih dengan mata yang memanas.
Tak lama, pintu terbuka. Tubuh Malam tersentak sampai mundur beberapa langkah. Tubuh Malam juga mulai bergetar ketakutan.
"Baru pulang?" Tanya seorang perempuan yang barusan membuka pintu. Suaranya rendah dan dingin. Membuat Malam semakin tak berani mengangkat kepalanya.
"Telat lima menit. Garasi sudah terkunci. Malam ini tidur di luar."
Malam hanya mengangguk pelan tanpa berani mencela. Lalu perempuan yang biasanya dia panggil 'Bunda' itu melempar selimut tipis yang langsung Malam tangkap.
Pintu kembali tertutup dengan kasar.
Senyum Malam mengembang menatap selimut yang barusan diberikan Bunda. Hatinya sedikit berbunga. Jarang-jarang Bunda memberikan nya selimut seperti ini. Malam masih memiliki harapan, jika sebenarnya Bunda masih lah sayang.
Lalu Malam melangkah ke halaman depan. Duduk disebuah kursi taman yang cukup panjang. Setelah meletakan gitar, Malam merebahkan tubuh nya. Dan mulai menyelimuti dirinya sendiri.
Pandangan Malam beralih pada angkasa. Walau tidak ada bintang yang muncul malam ini, tapi setidaknya angkasa cerah. Malam hanya ingin beristirahat dengan tenang. Tubuh nya sudah remuk sampai ketulang.
Kedua mata Malam mulai terpejam. Hembusan napas nya terdengar pelan.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Lelah ku untuk Bunda. Senang ku untuk Bunda. Dan tawa Bunda, adalah impian ku." -Andrea Malam Diaksa-
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.