Angin sejuk di pagi hari begitu menenangkan tubuh perempuan itu, ia menghirup dalam bau basah yang segar dari udara pagi ini yang begitu mendamaian hati dan jiwanya. Sejenak ia bisa melupakan berbagai kepenatan dalam pikirannya 5 tahun ini.
Bahkan dirinya pun tak menyangka masih bisa tetap menghirup udara setelah begitu banyak hal yang belum bisa ia lupakan secara damai dalam hatinya.
Masih begitu membekas, belum terlalu kering, tapi sudah mampu menerima.
Rasanya sekarang sungguh berbeda. Bisa dibilang ia cukup beruntung. Sangat beruntung. Entah apa jadinya jika ia tetap membenci semua orang. Mungkin, dia tak bisa lagi merasakan banyak hal yang patut di syukurinya, seperti saat ini.
"sayang, ayo pulang."
Dari arah yang berlawanan, ia melihat sosok laki-laki tampan dengan lesung pipinya yang manis sedang tersenyum kearahnya sambil menenteng bungkusan makanan yang ia tebak adalah bubur ayam pak jawir yang menjadi langganan mereka setiap habis olahraga pagi bersama.
Laki-laki yang tak ia sangka akan menjadi suaminya sekarang. Begitu mampu memberikan ia kehidupan yang baru, jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Mampu menutupi semua kekurangan yang ia miliki dengan tindakan lelaki itu yang selalu melengkapinya. Mampu menyadarkan dirinya betapa berharga hidupnya ini. Dan mampu meyakinkannya untuk hidup bahagia bersama selamanya dengan lelaki ini.
"sedang memikirkan apa, hm?"
"tidak ada." dengan cepat ia tersadar dari lamunannya yang membuat ia menggeleng kecil dan sedikit menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah dan panas di pipi putih perempuan itu.
"ck, kau tak pandai berbohong sayang." ucap lelaki itu gemas sembari mengacak rambut lembut istri kecil nya itu dan mengecupnya pelan.
"kau sungguh menawan dengan pipi merahmu itu, my kin-kin."
Kinas makin tersipu, pipinya terasa sangat hangat dengan debaran kencang di dadanya ia sangat malu dan senang disaat bersamaan. Ia segera melangkah kecil untuk menghindari suaminya yang masih memandangnya intens itu.
Hugh
Tubuh kinas melayang didekapan suaminya.
"ck, jangan tersipu seperti itu sayang, kita sedang diluar. Aku tidak mau laki-laki lain melihat wajah merah manismu itu." bisik suaminya itu tepat di depan wajahnya.
"tu-turunkan aku, aku malu el."
"baiklah akan ku turunkan," kata suaminya itu membuat kinas segera bersiap untuk turun.
"tapi sesampainya dirumah, aku tidak akan menurunkanmu sedetikpun. Deal?"
Kinas membulatkan matanya, tidak terima dengan ide suaminya itu. Kinas tau bahwa suaminya itu tidak pernah bermain-main dengannya. Kinas makin malu dan bersembunyi di dada bidang suaminya yang harum. Biarkanlah sepanjang jalan ia malu dengan orang-orang yang mereka lewati, daripada menuruti keinginan konyol suaminya itu.
El melihat kinas seperti itu tersenyum tipis dan mengeratkan tubuh kinas didekapannya, ia tidak mau lengah dan membuat kinas jatuh dan terluka.
"aku akan terus menunggumu, kin. Sampai kau menerima aku sepenuhnya tanpa bayangan masa lalu itu. I love you more, my kin-kin."
YOU ARE READING
My Another Purpose
RandomKinastasya Aries Halim, adalah seorang gadis kecil yang mempunyai banyak hal untuk masa depannya yang sudah ia rancang sejak kecil. Dia mempunyai paras yang rupawan untuk seorang gadis yang baru berusia 17 tahun. Tak heran bila banyak pria yang men...
