01

57 30 13
                                        

Aku harus memulai dunia baruku, dan aku tak akan melupakan dunia lamaku.

-Rose Aileen Himeka-

•••

"Liam, maafin Aileen ya. Aileen harus pergi. Liam baik-baik ya disinii." Seorang gadis kecil berambut sebahu dengan kisaran umur 7 tahun itu menangis dipelukan sahabatnya.

"Alien hati-hati ya. Jaga diri di sana." Liam ikut menangis, mereka semakin mengeratkan pelukan mereka, seperti tidak ingin berpisah.

Sejak berumur 2 tahun, saat keluarga Liam baru saja menempati rumah disebelah rumah Aileen, mereka mulai dekat. Bermain bersama, makan bersama, tidur bersama, hingga mandi sekalipun.

Mereka seperti kakak dan adik. Liam menganggap Aileen sebagai adiknya, dan Aileen menganggap Liam adalah kakaknya.

"Aileen Liam, bukan Alien. Liam nyebelin." Ia melepaskan pelukan mereka secara paksa, dia sedang kesal.

"Sama aja. Aileen, Alien. Bagusan Alien buat kamu." Liam menjulurkan lidahnya.

"Liam nyebelin banget sihh."

"Yaudah maafin Liam ya." Ia mulai memeluk Aileen, dan Aileen mulai membalas pelukannya.

"Alien nggak bisa ya perginya diundur?"

"Nggak bisa Liam." Aileen kembali menangis. Tak terasa, air mata Liam juga menetes. Dia tidak rela jika harus berpisah dengan sahabatnya.

Aileen harus pindah ke Yogyakarta, karena ayahnya sudah membuka usaha baru di sana, dan memerlukan pengawasan yang lebih.

"Oiya, Aileen punya sesuatu buat Liam." Ia mulai melepas pelukan mereka dan berlari membuka mobil, mengambil kenang-kenangan untuk Liam.

"Ini buat Liam. Ini boneka kesayangan Aileen. Kalo Liam kangen, Liam bisa peluk bonekanya." Boneka beruang berwarna putih dengan ukuran luamayan besar itu Ia serahkan kepada Liam.

"Makasih Alien. O iya, Liam juga punya sesuatu buat Alien. Tunggu sebentar ya." Setelah berucap itu, Liam segera berlari ke rumahnya.

"Ini bola kesayangan Liam. Kalo kangen Alien bisa kok main bola ini." Liam menyerahkan bola berwarna putih-biru itu kepada Aileen.

"Terima kasih, Liam." Mereka kembali berpelukan, mereka menangis dan saling mengeratkan pelukan. Mereka tidak ingin berpisah.

"Aileen sayang, ayo berangkat. Nanti ketinggalan pesawatnya lho." Citra—Mama Aileen—mendekati putrinya, dan segera mengajaknya masuk ke taksi. Sedangkan Papa Aileen—Haris, sudah berada di Yogyakarta.

"Bentar Ma. Aileen masih pengen sama Liam." Aileen masih terus memeluk Liam.

"Sayang, ayo. Liam, Aileen berangkat dulu ya. Liam baik-baik di sini." Citra melepaskan pelukan mereka, dan mulai menggandeng Aileen.

"Iya tante," jawabnya sambil segera bersalaman dengan Citra.

"Liam, Aileen berangkat dulu ya. Dadah Liam." Mereka saling melambaikan tangan, dengan raut wajah kesedihan.

Aileen dan Citra segera masuk ke taksi. Liam terus memandang taksi yang mulai menjauh. Tak terasa air matanya kembali menetes. Ia langsung menghapusnya. Dan berlari masuk ke dalam rumahnya.

Liam sedih, mulai saat ini dia tidak akan punya sahabat lagi. Aileen telah meninggalkannya. Tidak ada sahabat sebaik Aileen lagi dalam hidupnya. Tidak akan ada yang bisa menggantikan Aileen dihatinya.

•••

"Aileen bangun, kita udah sampai." Citra mulai membangunkan Aileen. Karena mereka sudah sampai dibandara Adi Sucipto-Yogyakarta.

PILIHANKUStories to obsess over. Discover now