Aku mencintaimu...
Tanpa tahu bagaimana wujud dan rupamu...
***
Kecelakaan itu yang mengantarkanku padamu
Luka itu yang membuatku bisa bertemu denganmu
Hujan malam itu adalah saksi bisu
Bagaimana dia dan pria itu bertemu dalam takdir
"Brengsek !", umpat gadis itu kesal, sesaat setelah dia sadar dari alam bawah sadarnya, setelah dia tahu bagaimana kondisinya yang sebenarnya, sesaat setelah dia mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya. Kejadian-kejadian itu terus saja berputar dibenaknya, menohoknya dalam satu kenyataan, dia buta.
"Hai, Bagaimana kau bisa masuk ke rumah sakit ini?"
Gadis itu lekas saja bangkit dari duduknya, menunjukkan dengan terang-terangan sikapnya yang mengacuhkan pria asing itu. Pria asing? Ya, karena dia sadar bahwa dia tak mengenal pria itu, pria yang dengan berani mengusiknya.
"Siapa kau?", kata gadis itu akhirnya, setelah sebelumnya mendapati reaksi pria itu yang langsung saja mencekal tangannya hingga dia mengurungkan kembali niatnya, ada sedikit rasa penasaran yang menyusup masuk ke hatinya. Siapa pria itu
"Eric, dan kau?" Kata pria itu santai, menggengam tangan gadis itu sebagai tanda perkenalan, seakan sadar bagaimana kondisi gadis itu. Gadis itu tersenyum kaku, menyambut genggaman tangan pria itu, walau hanya sementara sebelum nalar sehatnya memaksa untuk melepaskan genggaman itu dengan cepat.
"Nara" Katanya pelan, dia tersenyum sekilas saat mendengar bagaimana pria itu menirukan suaranya, entah mengapa ada rasa nyaman yang menyusup kedalam dirinya saat bersama pria itu. Pria yang baru saja dia kenal.
...
Gadis itu sibuk menggembungkan kedua pipinya, seakan tidak suka dengan lelucon-lelucon yang diceritakan pria itu padanya, membuat pria itu menatapnya, dengan pandangan yang sulit dimengerti.
"Kau gadis yang menarik", simpul pria itu, tanpa sadar. Mengubris reaksi gadis yang tampak kaget itu.
"Maaf.", kata itu terus saja disuarakannya, walau dalam hati. Tak ada sedikitpun niat untuk mengungkapkannya.
***
Maaf karena membawamu masuk keduniaku...
Maaf karena membuatmu terluka...
Maaf karena terlanjur mencintaimu...
Maaf...
Pria yang tak lain adalah Eric itu masih saja betah berdiri ditempatnya, masih setia menatap wajah gadis yang sedang tertidur pulas itu.
"Maaf...", katanya pelan, seakan tak ingin gadis itu mendengar apa yang dia katakan. Bukan karena rasa takutnya terhadap reaksi yang akan diberikan gadis itu, tetapi lebih kepada ketidaksiapan hatinya untuk berpisah dengan gadis itu.
"Maaf...", katanya sekali lagi, sembari menggemgam erat tangan gadis itu, seakan sedang menyalurkan sedikit energi kepada gadis itu. Dia menghapus jejak-jejak air mata di wajahnya, tidak ingin gadis itu tahu apa yang terjadi padanya walau dia sangat tahu bagaimana kondisi gadis itu yang masih tak dapat melihatnya.
"Maaf...", katanya dalam hati. Ada sedikit rasa kesal yang menyergapi dirinya, kesal akan hatinya yang begitu lemah, kesal akan ketidakberdayaan hatinya. Menyadari bagaimana isi hatinya, dan itu kembali menohoknya ke titik yang paling dalam.
Pria itu meremas kuat dadanya, sakit itu kembali lagi menguasai jiwanya, sesuatu yang begitu dia takuti. Penyakitnya. Dia kembali menangis walau dalam diam, hatinya terus saja memohon pada Tuhan agar diberikan sidikit saja tambahan waktu. Sedikit saja.
YOU ARE READING
Terlambat (END)
RomanceAku mencintaimu... Tanpa tahu bagaimana wujud dan rupamu... ... Aku menyesal, tidak memohon lebih keras pada Tuhan agar mempertemukan kita lebih cepat. ---
