PROLOG

36 3 0
                                        

Hai, gue Ummu. Lengkapnya 'Ummu Nazma Maheera'. Gue ditakdirkan sekolah di Madrasah Aliyah Negeri di kota ini.

Terkadang gue masih mikir, kenapa ya gue gak ditakdirin ngerasain indahnya hidup di dunia santri.

Gue emang belum mulai sekolah, baru akan masuk ajaran baru minggu depan. Sekarang masih libur naik kelas.

Gue gak kebayang akan gimana mos gue besok. Eh,bukan mos, tapi namanya MATSAMA. Gue juga kurang tau sih kepanjangannya apaan.

"Assalamualaikum, Um. Ngelamunin apaan sih? Kok sendiri disini?" Sepupu gue anak pesantren yang lagi libur juga, namanya Amalia menghampiri gue yang lagi duduk di bangku teras rumah.

"Eh, waalaikumussalam. Gak ngelamunin apa-apa kok" gue lagi gak mau berbagi.

"Udah, bilang aja kenapa nya! Mana tau aku bisa bantu" bener juga ni anak. Gue bisa minta tolong sama dia secara ni anak pesantren kan.

"Gini, Lia. Gue tuh bingung, kenapa sih gue gak ditakdirin buat sekolah di pesantren. Padahal kan gue pengen banget. Lo bisa bantu gak?"

"Wah, kalau bantu kamu buat masuk pesantren sih, aku gak bisa. Tapi ada cara lain loh selain harus di pesantren." Jelasnya yang seketika kepala gue berkerut mikirinnya.

"Maksud lo?"

"Kamu gak perlu sekolah di pesantren pun kamu bisa kayak anak pesantren sungguhan" gue makin bingung dibuatnya.

"Maksud lo apaan sih? Gue beneran gak ngerti deh."

"Di pesantren ada banyak aturan yang harus dipatuhi. Aku bisa Jelas in ke kamu apa-apa aja. Dan kamu bisa melakukannya walaupun gak di pesantren" jelasnya. "Kayak pakai jilbab. Kamu udah hampir kayak anak pesantren dengan penampilan kamu yang kayak gini. Tapi, masih ada yang kurang"

"Kurang?" Tanya gue membeo.

"Iya. Kamu pakai jilbab itu udah bener. Cuma... kamu harus pakai jilbab yang menutupi dada. Minimal sampai batas siku. Terus..." Amalia mulai menelusuri penampilan gue dari atas ke bawah.

Gue ikut memperhatikan penampilan gue sendiri.

"Ganti celanamu dengan rok panjang, dan selalu pakai kaos kaki keluar rumah." Dia men jelaskan banyak hal sama gue. Menghabiskan waktu setengah jam demi dengar aturan pesantren, gue rela. Gue ikhlas banget. Bahkan seneng.

"Hmm... jadi gitu ya. Emang hafalan lo udah berapa?" Tanya gue. Entah kenapa sedikit kepo sama ni anak.

"Rahasia dong. Udah tanya itu. Yang penting sekarang kamu udah ngerti kan?"

"Iya, gue ngerti."

"Alhamdulillah..." Amalia mengusap kedua telapak tangannya di wajahnya.

"Thanks, ya"

"Iya. Aku juga seneng bisa dakwah sekalian" dia tersenyum sangat manis. Untung aja Amalia gak sekolah di tempat gue. Yang ada ntar cowok-cowok pada ngincar dia lagi karena senyumnya manis banget.

"UMMU... AMALIA... WAKTUNYA MAKAN SIANG..." itu suara mama.

"Ya udah. Yuk masuk" ajak Amalia. Menarik tangan gue masuk ke rumah.

FYI, kenapa Amalia ada di rumah gue, karena dia minta izin sam Ummi nya nginap di sini sebelum pulang ke pesantren.

Perjalanan UmmuDonde viven las historias. Descúbrelo ahora