Aku tak akan pernah sadar akan semua angan angan ini.
Semua angan angan ini semu.
jauh.
ya, kamu terlalu jauh untuk digapai.
Dan apakah harus merasakan sakit untuk menggapaimu?
-Michellia Nathaniell-
Maaf aku terlalu egois akan perasaanku.
tapi itu...
"Nathaaa!! Woiii!! Laknat lo emang anak setannn!!!" teriak Steffany--sebut saja Steff-- sambil mengejar gadis yang ia sebut Natha tadi. "kejar gue sini kalo lo bisa..wleeek" Natha berlari semakin jauh di koridor SMA Forleza. "woii siniin hape gueeeee!!!" Steff mengejar lebih kencang. "gamauuu huuu..lagian lo jadian ga bilang gua dasarr adzab tuhann" Natha masih meledek Steff sambil berjalan mundur dan melambaikan salah satu tangannya yang menggenggam handphone milik sahabat sehidup sematinya itu.
Natha terus berjalan mundur tanpa menoleh sampai akhirnya punggungnya tanpa sengaja menabrak seseorang dan otomatis jatuh. Handphone Steff sudah terkapar menyedihkan diatas lantai begitu juga Natha yang bokongnya sudah mencium lantai. "ih!! Siapa sih yang berdiri dibelakang gue!! Udah tau gue jalan mundur! Gak liat apa!!" Natha mengomel sendiri sambil mengambil Hp Steff dan berusaha berdiri lalu membersihkan seragamnya dari debu. Natha mengengok melihat siapa orang yang menabraknya tadi. Menabraknya? Oh ayolahh Nath, lo yang jalan mundur bego.
"ooh jadi lo yang berdiri dibelakang gue tadi hah? Udah tau gua tadi jalan mundur! Lo malah berdiri disitu! Jatoh kan jadinya" Natha terus mengoceh didepan orang yg sama sama jatuh dengannya tadi. "Lo bodoh apa bego sih? Yang salah lo! Kalo jalan tuh liat kedepan! Bukan kebelakang! Dasar cewe aneh" jawab cowo itu tak mau kalah. "suka suka gue lah. Kaki kaki gue. Terserah mau jalan kayak gimana. Please deh ya tuan DEVANO ALASKA. Lo gak berhak ngatur ngatur gue" ujar Natha masih tidak terima. "kok lo yang sewot sih. Perasaan yang ditabrak gue. Gaada akhlaq emang. Udah, gue gamau lagi urusan sama cewe konyol bin bego kaya lo. Pergi sana gih" Devano memasang hands free nya lalu berlalu masuk ke kelas. "dasar anak setannnn!! Lo ngusir gue?! Ini kelas gue juga bangsat!" teriak Natha yang tidak dihiraukan Devano. Steff yang baru sampai setelah mengejar Natha bingung melihat Natha dengan wajah merah kesalnya. "eh woi! Nath? Woi bocah lu ngapa?" tanya Steff bingung. "GUA LAPER STEFF! PENGEN MAKAN ORANG!"
👑
Bel istirahat berdering, semua siswa SMA Forleza berhamburan keluar kelas, tujuan mereka ke kantin, perpustakaan, atau taman belakang sekolah. Begitu juga dengan Natha dan Steff. Mereka sudah duduk manis di kantin dengan makanan dan minuman yg mereka beli dihadapan mereka. "btw tadi pagi lo kenapa si? Kayak singa betina lagi pms?" tanya Steff penasaran. "gara gara itutuh si tengil Devano. Ya tuhann! Muka boleh cakep tapi kalo nyebelin kaya dia kaga tertarik gue" ujar Natha ketus sambil memakan dimsumnya. "emang dia ngapain lo?" bukan aneh lagi kalau otak Steff dipenuhi rasa ingin tau alias kepo. Memang itu sifatnya sejak dalam kandungan. Natha pun menceritakan kejadian bodoh yang menimpanya tadi pagi. Steff langsung tertawa jahannam mendengar cerita sahabatnya itu. "itumah elu yang bego nona Michellia Nathaniell astagaa" Steff masih menertawakannya. "bodo amat. Pokoknya gua kesel! Eh iya Steff, lo kok gak sama cowo lo? si Bara?" tanya Natha baru menyadari. "oh iya!! Astagaa! Gue lupa Bara Nath!" ujar Steff heboh dan langsung mengeluarkan hp nya menghubungi Bara, kekasihnya. "ekhm! Aku samperin ke kelas ternyata udah kesini duluan ya?" ujar seseorang dari belakang Natha. Natha sontak menoleh dan Steff meringis mendapati Bara yang masih memasang handphone ditelinganya. Bara datang tidak sendiri. Ia datang dengan teman teman nya. Bisa disebut..genk mungkin? Devano, Bara, dan Raja. Mereka bertiga cukup terkenal karena prestasi yang bisa dibilang membanggakan dan garis wajah yang cukup tampan bagi Natha. Ingat, CUKUP tidak lebih. Most wanted? Itulah istilah yang sering Natha dengar. "kita gabung sini aja ya. Penuh juga tuh meja" ujar Raja. Natha menatap tajam Devano dan sebaliknya. "iyaudah. Sini aja" ujar Steff mempersilahkan yang langsung ditatap tajam oleh Natha. Steff memang menyebalkan. Devano dan kedua temannya tadi duduk dimeja Natha dan Steff. Bara duduk di sebelah Steff, sedangkan Natha berada diantara Devano dan Raja. "oh shit mood makan gue ilang" Natha menyilang tangannya di dada dan merubah posisi duduknya yang sebelumnya tegak, ia menyenderkan punggungnya ke bahu kursi dan mendorong piring dimsumnya agak menjauh. "emang beneran aneh nih cewe" gumam Devano kecil. "GUE BISA DENGER!"
👑
Natha berjalan sendiri menuju parkiran. Jam belajar sudah berakhir. Steff ada latihan untuk cheerleader sekolah jadi ia tak bisa menemani Natha. Natha menunggu supirnya di halte depan sekolah. Ia terbiasa dijemput supir pribadi keluarganya. "eh cewe cakep tuh" "anak Forleza ya? Gila bening banget" "deketin jangan?" "buat gue aja, lumayan"
Natha merasa risih dengan beberapa anak laki-laki disekitarnya. Mereka bukan siswa Forleza, mereka anak SMA Himalaya. Musuh? Bukan bukan, hanya saingan. "eh ekhm. Kenalin, gue Arga, anak Himalaya" seorang dari mereka memberanikan diri mendekati Natha terang terangan. "sorry, gue punya temen udah banyak, gak perlu kenalan lagi" Natha tersenyum sinis lalu pergi meninggalkan halte bus itu karena dia sudah tidak nyaman berada disana. Natha beralih ke gerbang sekolah. "ck! Pak Dimas lama banget sih! Pengen rebahan nih gue" Natha terus mengecak dan mengumpat sambil beberapa kali melihat jam tangan putih yang melingkar ditangannya. "gue nawarin tumpangan. Gaada dua kali tawaran. Mau ikut naik gamau gue cabut" Natha kaget karena tiba tiba sebuah motor sport hitam berhenti didepannya. Natha menaikkan sebelah alisnya heran. "hah?" hanya itu yang keluar dari bibir mungil itu. "lo lama. Gue duluan" pengemudinya menyalakan kembali motornya dan berancang ancang pergi. Bersamaan dengan itu supir Natha datang. Natha tidak menghiraukan Devano dan motornya. Ia berlalu menuju mobil jazz merah milik ayahnya dan lalu tak lama mobil itupun berlalu. "shit! Harga diri gua jatoh cuma gara-gara cewe aneh itu! Sialan lo Natha!".
👑
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.