Di koridor rumah sakit yang sepi, seorang pria gagah berwajah cemas tengah duduk saat kakinya terus saja bergerak gelisah di bangku rumah sakit. Tangannya bergetar tidak terkendali, saat dia ingat bagaimana wajah pucat pasangannya bersarang dalam dekapan eratnya. Steve telah melakukan semua hal agar pasangannya itu selalu aman dalam lindungannya, tapi kenapa takdir selalu bersikap seakan dia membenci pasangannya? Semua orang yang dia percayai selalu berhasil mengkhianatinya. Mereka semua selalu berusaha melukai pasangan manisnya. Al-nya, seseorang yang tidak pernah memiliki dosa apapun pada mereka.
Dia hanya ingin Al bahagia selama hidupnya. Dia ingin pasangan manisnya itu selalu tersenyum selama nafasnya masih berhembus. Al tidak pernah menyinggung siapapun, tapi kenapa dia selalu terluka bukannya Steve yang jelas-jelas ditutupi oleh dosa?
Al harus baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja kali ini. Steve benar-benar akan gila jika Al kembali memburuk. Steve kembali merasa tidak berguna saat Al terluka seperti ini. Steve sudah berusaha sekuat yang dia bisa, namun semua itu bahkan tidak cukup untuk membuat Al selalu tersenyum setiap harinya.
Clek
Tubuh Steve sontak berjengit saat pintu ruang rawat Al terbuka dan para dokter mulai keluar dari sana. Tampilan dingin dan kejam Steve langsung luntur seketika, saat dia berdiri dan mencengkram bahu dokter dengan gugup.
"A-al......"
"Kau bisa tenang Tuan Steve. Tuan Al hanya mengalami beberapa luka kecil yang akan sembuh dalam beberapa hari. Kepalanya memang mengalami benturan ringan, namun tidak cukup untuk membahayakan hidupnya. Hasil pemeriksaan CT scan akan keluar esok hari, sementara Tuan Al mungkin akan sadar dalam beberapa jam kedepan"
Tubuh Steve langsung merosot saat dia mendengar penjelasan dokter tersebut. Al baik-baik saja, Steve terus saja mengulang kalimat itu sampai para dokter undur diri dan Steve dengan langkah bergetar perlahan masuk ke ruang rawat Al.
Pasangan kecilnya kini tertidur nyenyak di ranjang besar dengan infus di salah satu tangannya. Nafasnya terdengar normal, sehingga Steve perlahan tenang dan menjatuhkan dirinya pada kursi yang disimpan tepat disebelah ranjang rawat Al.
Tangannya yang dingin dia gunakan untuk menggenggam telapak tangan Al secara hati-hati. Jantung Steve baru berdetak normal saat kehangatan Al perlahan menjalar pada tangannya sendiri. Tubuhnya yang telah tegang sepanjang waktu perlahan rileks. Matanya memerah saat dia menatap wajah Al. Segala kecemasan yang terkunci dalam tubuhnya akhirnya terlepas. Steve menangis sambil menggengam tangan Al erat. Dia meringkuk sambil menggengam tangan ramping itu, terus berbisik bahwa Al akan baik-baik saja mulai sekarang.
Ya, mereka akan baik-baik saja mulai sekarang.
-
-
"Tidak perlu merasa kasihan lagi. Pemerintah telah memberi ijin pada kita. Kalian bisa membasmi mereka dengan cara apapun, hanya pastikan klan lain tahu apa yang akan terjadi jika mereka berani menganggu kita"
Al perlahan terbangun saat dia samar-samar melihat bayangan Steve yang tengah berbicara dengan seseorang. Al ingin memanggil Steve dengan suaranya, namun yang keluar dari mulutnya malah suara batuk ringan karena dia tiba-tiba bangkit. Steve yang semula tengah bicara dengan Bert segera berbalik saat mendengar suara halus itu. Wajahnya berubah panik, saat Steve dengan hati-hati mengambil segelas air untuk Al minum.
YOU ARE READING
Special Chapter : Mate Series
RomancePotongan kisah tokoh-tokoh Mate Series Didedikasikan untuk semua pihak yang telah mendukung cerita aku selama ini^^
