"𝑳𝒐 𝒑𝒆𝒓𝒆𝒎𝒑𝒖𝒂𝒏 𝒌𝒖𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒈𝒖𝒆 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒍, 𝑳𝒖𝒏𝒂."
Inshira Aluna Raveena, Hanya dijadikan pelampiasan oleh seorang lelaki yang ia kira baik dan beda dari yang lain.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
***
Gadis itu sedang menatap langit dengan serius, Menatap beberapa bintang yang terang pada malam ini. Luna menghela nafas, "Kapan gue bahagia?" Pertanyaan itu selalu ia tanyakan saat sedang seperti ini, berada di taman belakang menikmati angin dan memandang bintang dengan damai.
"Kalau aja, Bunda gak selingkuh pasti disini. Disini, nemenin Luna sama Ayah," lirinya.
Ia tertawa kecil, "Masih untung Lun ada Ayah, coba kalau hidup lo sendiri..."
Wajah Luna menjadi datar, "Jangan sampe deh. Mungkin ya, disana Bunda udah bahagia sama keluarganya."
"Agatha, lo beruntung bisa punya orang tua kayak Bunda. Pasti dia bahagia. Aneh ya, Padahal dulu gue jadi penyemangat lo kalo lo lagi sedih karena gak ada Mama lo. Sekarang gue yang sedih karena ditinggal Bunda, bedanya ini lo sama bokap lo ngerebut," Luna tersenyum tipis.
Dulu, dirinya memiliki satu sahabat yang bernama Agatha Aeera Felicia. Teman Luna yang paling dekat, karena rumah nya samping-sampingan. Agatha hanya hidup dengan Papanya, Mama Agatha sudah meninggal saat melahirkan Agatha.
Entah bagaimana ceritanya, yang ia tahu Bundanya meminta cerai dan fakta mengejutkan adalah Bundanya menikah dengan Papanya Agatha. Sampai sekarang, Luna tidak tahu kenapa alasannya. Yang ia tau, Bundanya selingkuh. Memang itu kan alasannya? Apalagi.
Luna menghela nafas seraya berdiri, "Percuma sih gue ngomong kayak gini, gak ada yang denger."