Aku melirik woodka yang melingkari pergelangan tangan kiriku, sudah dua puluh menit berlalu, dan aku baru mengerjakan dua soal dari sepuluh soal yang harus selesai dalam waktu setengah jam.
"Sudah selesai?" Baru saja aku mau menelungkupkan kepalaku pada meja, membuat posisi seakan-akan aku ketiduran ketika suara laki-laki itu menginterupsi kegiatanku.
Matanya yang kelewat tajam itu menatapku, "Jangan coba-coba tidur ketika kamu belum menyelesaikan tugasmu."
Haduh, kenapa dia jeli banget sih?Seingatku tadi Ia tengah membaca The Emperor of All Maladies dengan khusyuknya deh. Makanya aku berani curi-curi kesempatan.
"Mata lo ada empat ya?"Celetukku iseng membuatnya mengernyitkan dahi.
"Duanya lagi ada di jidat 'kan? Makanya lo bisa merhatiin apa yang mau gue lakuin, padahal lo lagi fokus baca buku-antah-berantah lo,"
Laki-laki itu mendengus, siap untuk mengomeliku dengan suara rendahnya yang mengintimidasi-seperti biasa.
Tenang, Argatama Wijaya, telingaku ini sudah cukup resistant untuk mendengarkan omelanmu.
"Kaelyn Dalarisa,"
Tunggu, ada angin apa tiba-tiba Ia memanggil nama lengkapku walau kurang satu kata sih.
"Kamu lapar nggak?"
Double shit! Ini jin dari mana sih yang merasuki jasad Argatama?
YOU ARE READING
EL
Teen FictionKalau beberapa bulan yang lalu ada yang bertanya padaku 'mau masuk jurusan apa?' Pasti sudah kujawab dengan lantang 'IPS lah,' Secara, aku belum mau mati muda karena pelajaran eksakta. Namun, itu dulu. Sebelum bertemu dengan mentor kelewat judes yan...
