Chapter 01. Come Across

497 67 15
                                        

Sasuke memejamkan matanya perlahan. Mencoba mengalihkan sakit yang dirasakan di sekujur tubuhnya. Kakinya yang sedari tadi berusaha melangkah sekarang sudah siap untuk menyerah, membiarkan tubuh tegapnya jatuh menyentuh kerasnya trotoar jalan yang basah akibat hujan.

Mungkin ini adalah akhir hidupnya. Jika iya, dia sudah sangat siap meninggalkan dunia ini.

Manik onyxnya kembali terbuka sesaat sebelum gravitasi menariknya jatuh. Sekilas ia melihat payung berwarna ungu mengayun turun sebelum gelap mengambil alih pandangannya.

*-*
REDEMANCY
a SasuHina Fanfic
By Dyniaism

Enjoy

*-*

Apakah aku sudah mati?

Aku masih belum ingin membuka mataku kala aroma obat menyapa indra penciumanku. Kuyakin, bahwa aku masih ada di dunia ini. Menyedihkan.

"Apa dia baik-baik saja?" Sayup suara perempuan terdengar begitu dekat. Suaranya bergetar.

"Dokter bilang ada beberapa retak tulang di lengan dan bahunya. Ah, tapi tidak begitu parah." kali ini kudengar suara familiar yang membalas pertanyaan si perempuan. "Chokan, pasti akan marah."

Aku dengan cepat membelalakan mataku dan mendapati Kakashi Hatake, yang juga tengah menatapku balik. Si sialan itu, kenapa ia bisa ada disini

Pria berambut keperakan itu adalah salah satu dari ratusan bawahan ayahku di kepolisian. Karena kecerdasan dan kemampuannya membuatnya menduduki posisi ketua di bagian investigasi kriminal di usia muda.

Bahkan dirumorkan ialah yang akan menggantikan posisi ayahku sebagai Jenderal Pengawas, jika ayah pensiun.

Aku mengalihkan fokus ke tubuhku dan mendapati bahwa tangan kiriku telah dibalut erat oleh gips.

"Kau beruntung tangan kirimu yang terluka. Aku tidak bisa membayangkan jika itu adalah tangan dominanmu. Tidak menyangka seorang sepertimu melakukan tindakan bodoh macam ini."

Aku mendecih dan membuang mukaku kesal.

"Aku tidak menghubungi Chokan untuk masalah ini," katanya dan mendekatiku. "Tapi aku tidak menjamin bahwa ia tidak mengetahui masalah in-"

"Dia tidak akan peduli," ucapku mutlak.

Perkataanku nampak sedikit mengejutkan si gadis asing yang ada di dalam ruangan. Ia memundurkan tubuhnya kala aku menatapnya dengan ujung mataku lalu meninggalkan ruangan dengan cepat.

Si orang-orangan sawah mengelus lehernya melihat sikapku. "Kalau tidak ada gadis itu kau bisa cacat atau bahkan mati ditempat," matanya tertuju ke arah pintu yang dilalui si gadis. "Dirinya yang menelepon kantor polisi terdekat ketika melihatmu dikeroyok oleh para preman."

Bayangan para preman yang menghambur karena sirine polisi terputar diingatanku.

"Dirinya bahkan terus mengikuti di belakangmu setelahnya. Jalanan saat itu sangat sepi dan banyak preman yang mungkin berkeliaran disana, beruntung ia tidak apa-apa saat itu."

Gadis itu terlalu baik atau bodoh.

Pikiranku menguap kala tangan si bodoh dengan berani-beraninya mengacak rambutku. "Sepertinya aku sudah bisa meninggalkanmu. Aku akan mengantar gadis itu pulang ke rumahnya." Dirinya bersiul pelan kala mengucapkan itu, menjijikan.

"Jangan macam-macam kau."

Kekehan pria itu menggema sebelum ia menutup ruang rawatku.

*-*

RedamancyStories to obsess over. Discover now