Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Dream

16 0 0
                                        

Bukankah hidup ini hanya tentang sebuah mimpi? Menggambar apa yang kamu inginkan dan berjuang untuk mendapatkannya. Ya setidaknya itu yang ada dipikiranku, sejak aku kecil hingga saat ini. Mengejar mimpi bukan hal yang mudah, jatuh bangun itu yang pasti ku alami dan disinilah aku sekarang, incheon airport.

Memulai karir sebagai model di Indonesia dan mencoba melebarkan sayap di negeri gingseng, ini salah satu list mimpi yang telah ku gambar dalam hidupku, mimpi yang indah bukan? Dan sekarang aku berjuang untuk itu.

Drrrtt... Drrttt
"Uh.. eonni, eodi? (Dimana)
"Yola-ya, jalanan sedikit macet. Aku akan sampai 10 menit lagi, tunggu sebentar eoh?" Jelas seseorang diseberang sana. Aku dapat mengetahui jika dia sedang sedikit frustasi disana. "Hahaha.. baiklah. Kau tidak perlu buru-buru eonni. Berhati-hatilah, boja~"

Ah.. cuaca sangat indah. Entahlah bagiku langit negara ini akan sangat cantik di waktu tertentu. Dan itu yang ku lihat sekarang.

'Oh oppaaaa!!!!'.'Ya! Ya! Tampan sekali!!!!'.'Annyeoongg..!!!'

Samar ku dengar banyak teriakan di salah satu gate bandara ini. Aku mencari sumber suara dan benar saja, dapat ku lihat kerumunan di ujung sana. "Apa ada idol?" Monolog ku. Ya, bukan hal baru lagi melihat hal seperti ini di inchoen, seorang idol yang akan berangkat atau kembali dari perjalanan luar negeri dan bahkan mungkin kalian bisa melihatnya setiap hari.

"Yola-ya!! ..." aku mendengar seseorang memanggil namaku, sontak hal ini membuatku menoleh. "Eoh? Kau sudah datang?". Seperti sebuah ritual yang tidak bisa dilepaskan, perempuan berusia 5 tahun di atasku ini selalu memelukku setiap kali menjemputku di bandara ini.

"Hahaha.. apa sebegitu merindukanku? Kau memelukku sangat erat eonni" ucapku dengan membalas pelukan hangatnya.

"Eo.. aku benar-benar merindukanmu. Akhirnya kau kembali setelah 4 bulan lamanya". Ya aku menghabiskan 4 bulan ku di Indonesia, pandemic covid membuatku tidak bisa kembali ke Seoul untuk beberapa waktu.

"Apa eonni sehat? Mian membuatmu kesepian disini" tanyaku . Dapat kurasakan anggukan kepala di bahuku, "eo.. seperti yang kau lihat. Ya benar aku sangat kesepian karena tidak ada anak kecil yang merepotkanku selama 4 bulan" cecarnya mengurai pelukan kami.

Tentu saja, perempuan yang tingginya hanya sebahuku ini selalu kurepotkan, dia adalah managerku. Apalagi yang akan ku lakukan selain merepotkan dia? Oh ayolah, kalian pasti paham maksud dari kata 'merepotkan'.

"Bae joo-hyun-ssi..?". Membuat kami berdua menoleh, ya itu adalah nama managerku.

"Ah, Kim minjun-ssi. Kau disini?" jawab perempuan didepanku.

"Ah ternyata benar kau. Lama tidak berjumpa" menunjukkan senyuman yang sangat manis. Siapa laki-laki ini? Apa teman eonni? Aku tidak tahu dia memiliki teman setampan ini, monolog ku dalam hati.

"Ne, lama tidak berjumpa. Kau ... berbeda, makin tampan" ungkap eonni malu-malu.

"Eoh? Hahaha.. benarkah?" Jawab pria itu yang juga malu-malu, dapat ku lihat laki2 didepanku ini menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

Oh ayolah, situasi macam apa ini. Aku baru saja kembali, apa langsung disuguhkan adegan picisan dari 2 orang ini? . Aku yang merasa menjadi figuran ini memutuskan untuk menyapa laki-laki didepan kami ini, "Annyeonghaseyo.." sapa ku sopan.
"Ah annyeonghaseyo.. apa kau yola?"
"Eoh? Kau mengenalku?"
"Hanya sekedar tahu, joo-hyun bekerja untukmu"
"Ahh... ne, eonni dan aku bekerjasama".

Aku tidak terlalu menyukai ungkapan bahwa seorang manager bekerja untuk artisnya. Aku lebih menyukai istilah kerjasama, bahkan seorang idol pun akan berantakan tanpa seorang manager. Bukankah ini seperti simbiosis mutualisme ?

Becoming TrueStories to obsess over. Discover now