1.

141 10 6
                                        

"Bubun!"

Wanita yang tengah menyiram tanaman didepan toko miliknya menolehkan wajah dengan senyum lebar.

"Kesayangan bunda udah pulang? Bagaimana sekolahnya?" Wanita itu berjongkok di depan sang anak.

"Iya, bun. Hari ini aku dapat nilai matematika seratus, sains ku juga begitu. Apa bubun bangga?" Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"Mari masuk, kita lihat hadiah apa yang cocok untukmu." Anak itu bersorak gembira mengetahui dirinya akan diberi hadiah. Membuat wanita itu tersenyum lembut.

Keduanya memasuki toko dengan tulisan besar diatasnya. TOILICHTE, Itu namanya. Bau khas masakan menguar begitu pintu dibuka. Restoran sederhana itu terlihat ramai oleh pengunjung, terlebih ini waktu makan siang.

"Bun, aku ingin daging. Boleh?" Wanita itu menatap sang anak. Hatinya sedikit ragu mengingat kondisi kesehatan anaknya yang rentan. Namun melihat mata kecil yang berbinar itu ia jadi tidak tega untuk menolak.

"Sedikit saja ya? Bunda campur dengan daging ayam, bagaimana?" Anak itu menganggukkan kepalanya dengan antusias. Membuat wanita itu terkekeh pelan.

"Sekarang naik ke atas dan tolong jaga dua adikmu. Mereka sedang melukis," lagi, anak itu menganggukkan kepalanya dengan patuh. Sebelum berlari ke atas untuk menemui dua malaikat yang begitu ia rindukan.

"Manager Min, maaf tapi saya ingin bertanya untuk reservasi sore ini."

"Adik," panggilan itu membuat dua anak lelaki berumur 4 tahun itu bersorak gembira.

"Abang!" Keduanya hampir saja menubruk tubuh sang abang dengan tangan dan baju penuh cat jika saja ia tidak menghindar.

"Cuci tangan kalian jika ingin memelukku." keduanya terkekeh malu kemudiam segera berlari menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu.

Pemuda berumur 11 tahun itu menggelengkan kepalanya. Ia kemudian beralih menuju tempat dimana adik-adiknya tadi melukis. Ia memunguti beberapa barang yang berserakkan.

"Abang, sekarang boleh peluk?" Lelaki itu menganggukkan kepalanya ia membuka lebar tangannya membuat kedua adiknya berhamburan.

"Kalian sudah makan?" Tanya anak laki-laki itu dengan lembut, membuat kedua adiknya menggangguk dengan semangat.

"Tadi bubun buat itu loh....apa ya? Eum..oh sup. Bubun buat sup jamur, enak sekali." Mendengar celoteh adiknya yang menggemaskan membuat anak laki-laki itu tersenyum.

"Lalu kenapa tidak tidur sekarang?" Keduanya langsung mengerucutkan bibirnya.

"Kalau kami tidur, tidak bisa jumpa abang. Kalau sore, pasti sudah sibuk kerjain tugas rumah." Sang abang terkekeh pelan mendengarnya.

"Sini kemari, kalian masih kecil harus tidur siang." Sang abang membawa kedua adiknya menuju kamar tidur disana.

Anak laki-laki itu nampak piawai membuat kedua adiknya yang hiperaktif itu cepat tidur. Hanya mengandalkan pukpuk pada pantat dan usapan lembut kepala, sudah cukup membuat mereka tidur lelap.

"Yoon?oh kalian disini?" Seorang wanita kembali masuk. Ia duduk dipinggir kasur dengan perlahan.

"Kamu makan dulu sana, biar mereka sama bunda." Anak yang dipanggil Yoon itu tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya dan berlalu mengikuti perintah wanita yang ia panggil bunda itu.

Wanita itu berbaring diatas kasur seraya menatap kedua anak kembarnya. Kilasan empat tahun yang lalu tiba-tiba menyeruak memenuhi kepalanya.

Hujan deras diluar sana terdengar keras hingga rasanya memekakkan telinga. Wanita yang tengah menatap hujan dari balik jendela rumahnya itu mengernyit takut melihat kilatan cahaya dan suara gemuruh diluar sana.

"Astaga hujan begitu deras, apa dia baik-baik saja?"

Wanita cantik itu mengusap perutnya yang masih datar itu. Ia tersenyum saat merasakan kehangatan di dalam hatinya.

"Sabar ya sayang, bunda pasti akan kasih tahu kehadiranmu ke ayah nanti."

"Ah," wanita itu mengusap air mata yang tanpa izin meluncur dari dua buah mata indahnya.

"Tidak perlu dipikirkan, Aila." Wanita memilih menatap kedua anaknya yang sedang tertidur pulas. Wajah rupawan, kulit putih, rambut hitam,  sungguh kedua anaknya sangat tampan dan manis.

"Bunda sayang kalian,"

AMAVIWhere stories live. Discover now