PROLOG

205 15 1
                                        

"Kamu tuh pembawa sial mama sama papa kamu tau gak?!"ucap seorang laki laki berumur sekitar 45 tahun itu , Joni Prasetya.

"Maaf pah"ujar seorang perempuan bertubuh tinggi dengan badan yang kurus. Ya dia adalah Radisa Aurellia.

"Kamu tau gak kalo apa yang kamu tulis itu semuanya akan terjadi! " Sekarang yang menjawab bukan lagi papanya melainkan ibunya,Nisa.

"Maaf....."jawab Radisa dengan tubuh yang gemetar menahan rasa takut akan kemarahan orang tuanya itu.

"Sekarang ikut papa ke gudang!"  Ujar Joni dengan menarik tangan anaknya yang tidak bersalah itu ke gudang yang kosong.

••••••••••

Radisa diam di sebuah gudang kecil berukuran 4×5 meter itu . Sebuah gudang yang sangat gelap dan juga bau yang sangat menyengat masuk ke hidungnya.

Seketika matanya berbinar saat ia menemukan secarik kertas lengkap dengan pensil yang sangat pendek. Setidaknya dia bisa mengatasi rasa bosannya itu dengan menulis sebuah kalimat

Setidaknya Tuhan masih sayang padaku~ Batin Radisa

Ia menuliskan satu kalimat yang sangat singkat tapi sangat mengerikan

Keluarkan aku dari sini dengan dobrakan kepala ayahku

Radisa tidak sadar dengan kalimat yang ia tulis . Percuma mau dihapus bahkan dirobek sekalipun tidak akan ada yang berubah.  Radisa mendecak kesal. Bagaimanapun juga ayahnya itu tetap ayah Radisa yang sangat ia cintai.

Betul saja tidak perlu waktu lama untuk membuktikan kalimat yang dituliskannya itu, Joni ayahnya Radisa memukul mukulkan kepalanya ke knop pintu sampai knop pintunya itu terlepas dari pintunya.

Radisa yang melihat Joni langsung menangis histeris, yang mana kepalanya itu berlumuran darah yang bercucuran. Dan anehnya lagi saat kejadian itu terjadi pasti melayang kertas yang ada kalimat yang ia tulis dan mendarat di tubuh orang yang dimaksudkan dalam kalimatnya itu.

Nisa yang melihatnya langsung mengurung dia,lagi. Tapi bukan lagi di gudang melainkan di kamar mandi yang sudah tidak terpakai dan yang pasti sangat gelap. Radisa pasrah dengan keputusan Nisa, toh emang mungkin dia memang salah.

Ternyata omonganku salah Tuhan tidak sayang padaku~ Batin Radisa

••••••••••

Dan untungnya tidak ada lagi kertas dan pensil yang terselip di kamar mandi itu. Sehingga setidaknya hati Radisa lebih tenang dan akhirnya ia tidur dalam lamunannya.

••••••••••

Jadi gimana ceritanya , maaf kalo gak rame masih pemula hehe. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara voment . Karena vote sama koment kalian itu sangat berharga bagi para penulis di wp. So aku bakal ngelanjutin ceritanya kalo yang baca udah 5 oke . 5 aja gak pake vote sama komen jga gapapa. So see you 😁😁

Musibah Sebuah Tulisan[On Going]Stories to obsess over. Discover now