Sekarang
Ketika keluar dari mobil, tatapan Jeon Jungkook langsung terarah ke taman.
Ini bukan soal apa yang ada di sana, karena Jungkook sudah bosan bukan main. Berhubung meja kerjanya berada tepat di dekat jendela yang menghadap ke taman, seisi taman itu sudah Jungkook hafal dengan baik. Hanya satu hal yang biasanya tidak ia lihat, gadis itu.
Jungkook tahu gadis itu tetangganya dan Taehyung, apartemen mereka berhadapan. Tapi, ia belum pernah bicara dengannya. Sesekali mereka berpapasan, namun jangankan bicara, gadis itu kadang hanya menunduk sebagai tanda sapaan, seringnya melenggang begitu saja tanpa peduli.
Gadis itu duduk di sana dengan rambut seperti disanggul, buku tebal yang entah apa judulnya terbuka lebar di kedua tangannya, rok panjang bermotif bunga bergoyang karena angin sepoi. Diam-diam Jungkook memanggut melihat wajah yang bebas dari kacamata.
Tiap kali melihatnya, pikiran Jungkook seperti dibawa untuk membayangkan sesuatu. Secara otomatis kepalanya membuat gambaran gadis itu, hanya dalam versi yang berbeda. Sesuatu yang lebih cocok dengan manik hazel dengan sorot liar yang direpresi. Entah ini masuk akal atau tidak, Jungkook pun tak bisa menjelaskan kenapa. Dan itulah yang membuatnya terusik tiap kali melihat si gadis.
"Kau jadi mirip penguntit, Kook." Suara berat itu membuat Jungkook langsung menoleh, mendapati Kim Taehyung sibuk mengambil plastik belanjaan dari bagasi. "Lebih baik bantu aku. Kelakuanmu itu menyeramkan."
"Aku hanya menggunakan mataku, bukan menguntit," Jungkook membela diri, tapi sama sekali tak menolak permintaan Taehyung. Ia ikut membawa tiga plastik belanjaan sekaligus sebelum menggunakan kaki untuk menutup pintu bagasi. Taehyung sempat melirik, dan Jungkook hanya membalasnya dengan bahu mengedik tak acuh, membiarkan laki-laki itu berjalan lebih dulu sementara ia kembali berhenti untuk melihat gadis di bangku taman lagi.
Kali ini Jungkook bukan hanya diam, tapi terkejut. Gadis di bangku itu tiba-tiba berdiri, bukunya jatuh begitu saja di rerumputan. Tatapan Jungkook lantas mengikuti arah pandang sang gadis, tepat ke jendela meja kerjanya yang menyala.
"Taehyung!" Jungkook langsung berteriak. Pemuda yang sudah beberapa langkah di depan seketika berbalik, mulutnya terbuka siap protes. Namun Jungkook sudah lebih dulu melanjutkan, "Tadi pintu apartemen dikunci, kan?"
"Kau yang menguncinya, Kook," kata Taehyung sambil berjalan ke arah Jungkook. "Kau yang terakhir keluar."
Jungkook bukannnya lupa. Memang ia yang mengunci pintu. Tetapi, sekarang ia ragu jika pintunya benar-benar terkunci. Jelas ada seseorang yang masuk ke apartemen mereka sampai membuat ruang kerjanya menyala begitu.
Dengan plastik belanjaan di tangan, Jungkook berlari ke arah taman, mendekati gadis yang ada di sana--lebih tepatnya ia berjalan ke arah jendela--dengan Taehyung yang menyusul di belakang.
"Anak kecil itu terbakar."
Untuk pertama kalinya Jungkook mendengar suara gadis itu. Lembut, bahkan manis, hanya saja kali ini diiringi vibrasi pertanda cemas. Jungkook ingin menyapa, paling tidak membalas sesuatu, namun apa yang ia dengar lebih mencuri perhatian. Kepalanya teralih ke jendela, dan dalam hitungan detik, Jungkook sama histerisnya dengan gadis di dekatnya.
Justru Taehyung yang dengan cepat bereaksi, menjatuhkan plastik belanjaan dan berlari masuk ke apartemen.
Jungkook tahu seharusnya ia melakukan hal yang sama alih-alih berdiri di tempat. Sayangnya tubuhnya membeku, terlebih setelah ia menyadari hal lain.
Si gadis kecil itu terbakar saja sudah jadi anomali mengejutkan. Namun bukan itu bagian paling aneh. Karena siapa pun yang menoleh bisa melihat, gadis itu kelihatan baik-baik saja, bahkan tersenyum sambil melambai dengan mulut yang bergerak dengan jelas untuk berkata, "Akhirnya kalian pulang juga." []
*
Notes:
- This book is inspired by Villain Series by V.E Schwab
- 17+ since this books will include lots of violence etc
- Short chaptered
- Lots of time lapse
- Fantasy, ofc :)
YOU ARE READING
RECONDITE
Fanfiction[17+] Ada alasan kenapa Taehyung dan Jungkook berada di apartemen yang sama dan menetap di Gangnam: Ada sesuatu yang harus diselesaikan. Dua tahun sudah keduanya berada di sana, namun mencari apa yang dianggap tak ada bukanlah hal yang bisa dicapai...
