Aschell

67 6 1
                                        

"Kau seharusnya tidak hadir dalam hidup kami!"

"Kau berkhianat, dasar laki-laki sialan!"

"Ayah! Apa terjadi sesuatu?"

"Jangan bunuh dia, tidak akan ada yang tahu jika dia anakku dan kau!"

"Jalang tetap akan jadi jalang,"

"Kumohon dia hanya bayi kecil,"

"Kau hanya makhluk kotor yang tersesat diistanaku."

"Tidak jangan bunuh!"

"Bunuh saja aku!"

"Aschell"

Ia terbangun dengan nafas tersengal-sengal, wajah ayunya nampak berantakan dengan keringat dingin memenuhi permukaan kulit kuning langsat tanpa dibubuhi sedikit polesan. Mata coklat madu miliknya mengerjap untuk kesekian kalinya, mencoba mengatur penglihatannya yang masih buram sebab terbangun secara tiba-tiba.

"Huft, cuma mimpi," matanya mengedar keseluruh ruangan yang hanya cahayanya remang itu. Mencari sesuatu untuk menenangkan diri dari mimpi yang sudah satu minggu lebih menghantuinya.

Ah, matanya menangkap segelas air putih dinakas sebelah kanannya, setidaknya air bisa menetralkan sedikit rasa takutnya beberapa saat.

Setelah dirasa cukup tenang, ia kembali membaringkan tubuh kurusnya dikasur kecil kamarnya, satu menit, dua menit, kantuk tidak kunjung tiba. Mimpi itu malah datang kembali kepikiran semunya yang kosong.

gadis awal dua puluhan itu pun memilih bangkit dari singgah sananya. Memilih menyegarkan diri ketika matanya melirik jam dinding dekat pintu putih tersebut. Masih terlalu pagi.

Mungkin air dingin dipagi buta bisa membuat otaknya sedikit fresh atau setidaknya sedikit tenang dan nyaman.

...

Aschelli Purnama tengah menyisir rambut hitam sepunggungnya didepan meja rias. membubuhi wajahnya dengan polesan tipis dan sentuhan lipbalm pada bibir merah mudanya. Setelah dirasa telah siap dengan rok tanggung ungu muda dan kaos putih lengan pendek yang dilapisi oleh sweater mocha, ia turun dari kamarnya.

Aschell memang putri dari keluarga berada, papanya seorang pengusaha dibidang properti. sedangkan mama merupakan desaigner ternama dan tak lupa saudaranya, adalah direktur diperusahaan ayahnya. Sehingga untuk kata kumpul keluarga Aschell sangat asing.

Orang-orang mungkin akan merasa iri dengannya. Apa yang membuat mereka iri? Atau mungkin jika mereka berada diposisinya. Mereka akan menyombongkan banyaknya harta keluarga ini. Mereka mungkin tidak akan sempat.

Aschell sendiri memilih menjadi seorang koki disebuah restoran temannya. Setidaknya satu dari keinginannya dapat terwujud. Tanpa adanya bantuan dari papanya, ia sangat bahagia.

Aschell berdiri didapur, menyiapkan bahan-bahan untuk menyiapkan sarapan. Mungkin sup dan telur gulung cukup untuk sarapan pagi ini. Aschell mulai mengiris wortel serta sayuran lainnya. setidaknya ini yang bisa Aschell lakukan untuk keluarganya.

Aschell selesai pukul 6.47, Ia segera memanggil keluarganya untuk sarapan. Sarapan pagi ini dilakukan dengan hikmat, hanya ada suara sendok
yang beradu.

"Wah aku beruntung memiliki adik pandai sepertimu," ucap Kelvin memecah keheningan dimeja makan.

Kelvin memang selalu menjadi pencair suasana diantara kecanggungan. Kelvin tahu betul bagaimana mencairkan suasana. Tapi tidak selalu dianggap lelucon.

"Terima kasih," sahut Aschell kecil dengan sedikit tarikan ditiap sudut bibirnya. Lalu, melanjutkan makannya yang tertunda beberapa detik.

"Ehm, bagaimana dengan pekerjaanmu, Kelv?"

papa menyahut dari sana, ikut bergabung pada perbincangan canggung dimeja makannya. Menghentikan aktivitas sendok-garpu yang beberapa detik lalu masih beradu memperebutkan makanan dipiring tersebut.

"Yah begitulah," kelvin menjawab seadanya, sebab begitulah memang adanya. Tidak ada perkembangan yang signifikan pada perusahaan tapi juga tidak ada penurunan apapun. Semuanya baik-baik saja.

"Itu bagus, itu yang papa harapkan dari anak papa," aschell tahu betul maksud papanya, tetapi ia diam. Sedangkan sang kakak hanya tersenyum menanggapi tidak ingin ikut campur oleh pertengkaran yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Tetapi sayang sekali, sang papa memilih untuk melanjutkan kalimatnya.

"Yah setidaknya kamu cukup berguna berada disana. Tidak hanya bisa bernafas diantara tumpukkan kemewahan," aschell mendongak, menatap mata kakaknya yang memohon agar jangan ditanggapi. Sedangkan sang mama tidak peduli pada percakapan yang menurutnya tidak berguna tersebut.

Kali ini saja, Aschell akan menuruti permintaan kakaknya itu. Anggap saja ucapan terima kasih atas pujian pada makanannya. Ia melanjutkan makanannya.

"Benar sekali, papa bangga pada putra papa. Setidaknya dengan membuat perusahaan tetap stabil kau dapat berguna bagi kita," aschell menggenggap alat makannya erat hingga jemari lentiknya memerah.

Ia faham betul maksud papa nya itu. Maksud kalimat papanya itu begitu menuduh kearahnya. Ia juga sadar akan itu, namun menjadi pion pria itu. Maaf saja, ia tak sudih.

Aschell mencoba tenang, menguatkan hatinya yang teriris-iris oleh lidah yang papa tersayang. Bahkan Aschell merasa jijik untuk menyebut kata sayang kepada papanya yang gila harta.

"Yah mungkin karena memang kakak lebih pandai mengurus perusahaan dibanding papa," aschell menyendok sup dimangkuknya dengan tenang. Kakaknya menunjukkan tatapan horor, takut akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

Tak hanya kakaknya itu, sang mama bahkan rela menghentikan aktivitas makannya karena Aschell.
Ah, betapa bangganya aschell. Menjadi pusat perhatian dimeja makan mereka yang luas.

"Cih, mulut mu itu sungguh rendahan rupanya," ujar pria itu tak terima dengan tanggapan Aschell. Menimbulkan urat-urat lehernya nampak karena menahan amarah.

Papa sangat tidak suka kejadian tiga tahun lalu diungkit, peristiwa paling menegangkan seumur hidupnya. Lebih-lebih dari proses melahirkan sang istri dahulu, berlebihan mungkin tetapi itulah nyatanya.

Tiga tahun lalu, ketika dia harus memecat banyak karyawan karena penurunan saham perusahaan. Seorang pemegang saham menarik semua investasinya dan menghasut banyak pemegang saham lainnya. Saham anjlok, jatuh. Mereka hampir bangkrut jika saja putranya Kelvin yang kembali setelah kuliahnya usai. Kelvin membuat saham stabil dalam waktu 1 setengah tahun, bahkan ditahun-tahun berikutnya Kelvin telah mendirikan cabang dibeberapa negara.

"Mulutku ini warisan papa tahu," Aschell sedikit menarik sudut bibirnya. Meninggalkan senyum manis yang mengandung arti lain. Dia baru saja merendahkan papanya sendiri didepan mama dan juga kakaknya. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk seorang Aschell Purnama.

Aschell melanjutkan makannya yang tersisihkan akibat obrolan ringan atau perdebatan panas antara ia dan papa biadabnya itu.

Sedangkan, sang papa hanya terdiam mengepalkan tangan nya, sepertinya menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

Mamanya pun tampak tidak peduli sebab sudah pergi beberapa detik yang lalu. Sedangkan kakaknya, lelaki akhir dua puluhan itu meringis, sedikit melirik adiknya itu, menyampaikan rasa takutnya, mencoba mengatakan ' apa yang baru saja kau lakukan? '. Tetapi tidak dapat tanggapan dari sang adik.

"Aku akan berangkat," aschell segera bangkit dari meja makan meninggalkan papa dan kakaknya yang berada pada suasana canggung.

Ia tidak ingin berlama-lama didekat papa yang akan meledak kapan saja. Ia tahu akibat dari membuat papa marah, itu sama saja membuat singa betina yang lapar bangun dari tidurnya. Dan benar saja, baru saja Aschell keluar dari pintu rumahnya, suara menggelegar papa terdengar layaknya auman singa lapar. Ia jadi merasa bersalah pada kakaknya itu.

ah, persetan dengan keluarganya.

...

A TasteDonde viven las historias. Descúbrelo ahora