Kami berpencar ke segala penjuru arah dan berlari di kerumunan orang yang hendak memasuki stadion kota. Tentu saja, kami tidak ada maksud sedikitpun untuk ikut masuk dan menikmati pertandingan hari ini, tapi sesuatu yang lebih penting membawa kami ke tempat terbesar di kota kami ini, hari ini.
"Kanan, kanan! Aku bilang kanan! Bisakah kau percaya pada matamu ini?!"
"Kanan mana?!" jawab kami bertiga serempak.
"Oh, aku bicara pada kalian bertiga secara bersamaan, ya? Aku lupa," Matt berucap dengan konyol. "Maksudku, arah kananmu, Dok. Tepat di sebelah suporter tim lawan," koreksi Matt.
"Sepertinya aku melihatnya," ucap Theo ragu namun terdengar akan mengejarnya bagaimanapun.
"Arah utara," kata Matt kembali memberi arahan.
Aku diam sejenak. Kulihat bangunan besar itu, mencoba mengingat arah pintu masuk utama yang menghadap ke barat, dan keberadaanku tepat di belakang pintu utama alias pintu belakang stadion, maka aku ambil kanan untuk menyusul teman-temanku yang lain. Tapi ternyata, berlari dalam kerumunan tidak semudah yang kubayangkan, terutama karena aku tidak bisa mengandalkan lencanaku, untuk menghindari kepanikan publik. Beberapa gerombolan orang aku terobos sambil mengucapkan maaf. Aku juga bertemu rombongan cheerleader yang barusan turun dari bis dan hendak masuk stadion. Kupercepat lariku dan terpaksa menerobos kerumunan pemain, hingga bahuku terbentur keras oleh seseorang. "Maaf," kataku cepat.
"Kenda?" orang yang menabrakku tadi menatapku.
Aku memandang tak percaya, "Andro?"
Laki-laki itu tertawa dan menghampiriku. "Bagaimana kabarmu? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Urusan pekerjaan. Bagaimana denganmu?"
Ia menunjuk bajunya, "aku berhasil masuk tahun kemarin. Hari ini pertandinganku,"
"Ya, bisa kulihat," kataku memahami. "Oh aku harus pergi," kataku sebelum kami berlanjut ke obrolan lain.
"Ya, ya. Tentu saja," ia mengangguk. "Hei, Kenda!" panggilnya lagi saat aku akan melangkah.
"Ya?" jawabku.
"Bisa kita,.. mungkin lain kali kita bisa,.. ehm," ia menunjukku dengan tangan kanannya, "keluar bareng? Maksudku hanya ngobrol atau minum kopi?" ia segera menambahkan kalimat keduanya dengan cepat.
Aku tersenyum tenang, "ya, tentu. Lain waktu,"
"Ya, nomor yang sama, kan?"
"Ya," anggukku. "Aku harus pergi. Sampai nanti," kataku sebelum melangkah.
"Seseorang sedang bernostalgia?" tebak Matt.
"Diamlah, Matt," jawabku kembali berlari. "Kemana perginya?"
"Dia menuju ke arah jalan," Theo nampak masih mengejar.
Dengan cepat, kuputar badanku melihat arah jalan. Dan dengan mudahnya aku melihat seseorang dengan setelan rapi yang dihampiri oleh sebuah mobil. "Hei! Hei!" panggilku sambil tetap berlari menghampiri.
Orang yang kami kejar awalnya nampak tak menghiraukan kami. Namun kemudian ia memandangku dan—anehnya—tersenyum, membuatku diam sejenak. Lalu ia masuk ke dalam mobil yang menghampirinya saat aku mencoba kembali mengejarnya.
"Berhenti!" teriakku yang terlihat sia-sia. Kejaranku tidak berhenti bahkan saat mobil itu mulai melaju kencang. Aku mencoba mengejarnya hingga beberapa meter.
"K, K!" panggil Dokter yang mencoba menyusulku. "Hentikan. Ia sudah pergi," ucapnya begitu mendekat kepadaku yang telah melambatkan langkah.
Aku mengatur nafasku sambil menunggu kedua orang tim-ku berkumpul.
"Hei, kalian. Bagaimana?" tanya Tech yang mulai menghampiri kami sambil terengah-engah.
"Dia naik mobil. Kita tidak bisa mengejarnya," jawab Theo. Lalu ia memandangku, "kau tak apa, K?" tanyanya yang melihatku tidak bersuara.
Kutegakkan badanku, lalu memandang mereka. "Dia tersenyum," kataku bingung. "Randy Adolf. Dia tersenyum ke arahku tadi. Seakan—"
"Ia sudah tahu tentang kita," sambung Theo.
Aku tidak berkomentar, hanya memandang mereka untuk mencoba mencari jalan yang terbaik untuk kami saat ini.
Theo mengangguk, entah untuk apa. "Kita kembali ke kantor. Matt, periksa semua CCTV dalam stadion, mungkin ada sesuatu yang janggal luput dari kita tadi,"
-----
Sesampainya di ruangan MCI kami, Matt sudah menyuguhi kami dengan tayangan CCTV stadion pada layar utama.
"Hallo, Bung! Pesananmu!" kata Tech sambil melemparkan sekaleng soda ke arah Matt.
"Terima kasih, Bro!" Matt menangkapnya dengan mudah. Ia membukanya tanpa menunggu waktu, lalu meneguknya dengan lega. "Oke, aku sudah melihat beberapa CCTV dan sejauh ini tidak ada yang menarik perhatian,"
"Kau tidak melihat apa yang Randy Adolf lakukan di stadion?" tanya Theo.
Matt menayangkan sebuah rekaman, "hanya ini. Melihat dari jas dan setelannya, ini memang Randy Adolf sedang bertransaksi dengan seseorang," jelasnya pada salah satu sudut rekaman yang hanya menayangkan bagian pinggang hingga kaki dua laki-laki yang berhadapan.
"Itu tas kecil. Bisa berisi apapun," kata sang Dokter sebelum meneguk minuman yang ia ambil dari kulkas.
"Tas yang biasa digunakan untuk jam tangan," Matt menambahkan. "Tapi ada yang menarik dibanding Randy Adolf," ia menayangkan diriku yang tertabrak oleh Andro saat mengejar target kami. "Seseorang sedang bertemu seorang pemain,"
Aku tetap menikmati apelku sambil duduk di sofa, cuek dengan apa yang ditayangkan di layar TV kami.
"K?" Matt meminta penjelasan. "Siapa laki-laki itu?" tanyanya usil saat aku hanya memandangnya sebagai jawabanku.
"Hanya pemain dari tim Red Eagle," kataku cuek.
"Pemain yang tahu namamu,"
"Hanya teman," kataku dengan nada yang sama.
"Benarkah?" tanya Matt jelas tidak percaya.
Kunikmati apelku sambil melihat-lihat data yang telah kami kumpulkan beberapa hari ini.
"Andro Lyson. Woo, dia juga punya beberapa sosial media," ucap Matt jelas mulai menelusuri. "Lihat apa yang kutemukan," ia memajang beberapa foto saat aku masih sekolah bersama Andro dan teman-teman kami yang lain. "Kalian pernah satu sekolah, melihat beberapa fotonya, kalian cukup dekat, dan—" ia menampilkan sebuah gambar, "kalian pernah pacaran,"
Tidak ada tanggapan dariku. Aku hanya melihat semua gambar yang Matt tayangkan dan masih menikmati apelku yang mulai habis. Kulihat Theo yang melihat layar kami beberapa saat sebelum memandangku untuk mendapat penjelasan. "Apa? Matt sudah mengatakan semuanya," kataku malas.
Thoe hanya melihatku sekilas, lalu mengambil beberapa map, "aku ada janji bertemu dengan departemen kesehatan tentang penelitian anti bakteri. Telepon aku kapanpun kalian punya berita baru," ucapnya sebelum beranjak.
Aku berdiri, membungkus sisa-sisa apelku sebelum membuangnya. "Aku juga ada janji,"
Matt dan Tech langsung menatapku dengan pandangan mencurigakan.
"Dengan Lisa! Makan siang dengan Lisa," kataku mengetahui pikiran mereka. "Dia juga mencoba membantuku mendapatkan beberapa data," tambahku sebagai alasan. Aku mengambil tasku lalu beranjak, "kalian tahu apa yang kalian lakukan. Telepon aku kapanpun jika ada sesuatu,"
"Ya, tentu saja. Kami akan tetap di sini untuk menonton pertandingan hari ini," kata Matt mulai mencari channel lokal.
Aku berhenti tepat di ambang pintu, lalu memandang mereka dengan tatapan berharap mereka hanya bercanda dengan rencana barusan.
"Atau kita akan memeriksa lebih lanjut di sekitar stadion," Tech mengoreksi dengan ragu-ragu.
Aku memiringkan bibirku, mengedikkan bahu, membiarkan mereka sendiri yang memutuskan. Lalu aku kembali melangkah keluar sebelum mendengar keduanya berteriak saling mendukung salah satu tim.
YOU ARE READING
MCI - Got Him!
Science FictionAksi saling dorong itu tidak berlangsung lama, karena mereka langsung mengepalkan tangan dan meninju satu sama lain. Mereka bergelut, berguling di trotoar, lalu kembali bergulat saling mencengkram tangan dan mencoba saling menjatuhkan. Bahkan wajah...
