Episode 10

4K 307 21
                                    

Sudah beberapa hari berlalu, tapi masih sangat jelas di benak Manela ketika menyaksikan Tika berteriak kesetanan sambil menyebut nama Disa. Mulutnya komat-kamit seperti sedang merapalkan mantra. Tapi, juga seperti ingin memberitahu kabar buruk tentang petaka yang akan menimpa nama yang diucapkannya itu.

Untung saja hari itu Manela bersama Tio. Dan tak lama setelah itu, Kula menyusul ke alamat rumah Tika. Dengan gemetar dan ketakutan, Manela menceritakan apa yang yang terjadi dan apa yang dilihatnya kepada Kula. Suara Tika yang berulang kali memanggil nama Disa bagai menggasing di kepalanya.

Kula nyaris frustrasi mendengar semua ini. Kemarin, Ibu Disa kembali meneleponnya. Dengan nada suara yang cemas campur takut, ia menceritakan kejadian ganjil yang beberapa hari ini terjadi di rumahnya. Kula tidak tahu bagaimana meresponsnya, selain berharap semua ini segera berlalu.

Manela juga sudah membeberkan dugaannya tentang sesuatu yang tidak beres soal Arman kepada Kula. Persis seperti teori dalam kepalanya ketika ia menjelaskan ke Tio. Sekarang, apa yang dialami Tika dan Disa baginya sudah cukup jelas sebagai bukti, bahwa semua ini pasti ada hubungannya dengan Arman. Arman harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini.

"Tadi tuh aktif loh padahal nomornya, sekarang kok jadi nggak aktif?" Karena kesal Kula membanting telepon selulernya ke kasur. Kula kemudian duduk di bibir ranjang. Manela malam ini menginap di rumahnya. Lani kali ini absen.

"Coba lagi deh sekali lagi," usul Manela. Kula menekan nomor Arman. Terdengar suara operator... "The number you are calling is not active or out of complidge area..." "Tuh, kan, nggak aktif emang nomornya," Kula menyerah kali ini.

"Kalau medsosnya gimana?" tanya Kula.

"Aku udah cek semua media sosial. Facebook, Instagram, Twitter, semua akunnya sudah deactivate," Manela menunjukkan layar laptop ke arah Kula. Dan semua akun media sosial milik Arman lenyap bersama menghilangnya Arman secara tiba-tiba.

"Aku sudah cek juga tempat main biliar langganannya. Aku juga udah tanya anak-anak tongkrongannya. Satu pun nggak ada yang tahu di mana Arman coba." Kekesalan Manela sampai di ubun-ubun.

Kula memijat-mijat dahinya. Dalam kepala saat ini hanyalah bagaimana cara melacak Arman.

"Kalau misalnya kita ketemu Arman, kita bakal ngapain?" Kula pun tidak yakin dengan apa yang harus ia perbuat saat ini. Ia hanya ingin keanehan demi keanehan yang menimpa Disa segera berakhir dan sahabatnya itu bisa hidup dengan tenang.

"Kalau aku berhasil nemuin Arman, kuseret dia sampai ke rumah Disa, dan bikin hidup Disa kayak dulu lagi," ucap Manela.

"Kalau semua ini tetap nggak berhenti?" tanya Kula lagi pesimistis.

"Kalau Disa tetap menderita kayak gini, kugorok lehernya!" ucap Manela dengan nada suara diseram-seramkan sambil menyeret jari telunjuknya di leher.

***

Karena hari itu ia sampai di kota ayahnya pada larut malam, Arman memutuskan mencari motel yang tidak jauh dari jalan besar. Sudah masuk dua malam ia menginap di tempat ini. Ingin rasanya ia pergi meninggalkan kota ini, lalu berkelana entah ke kota mana. Ia ingin menjauh. Sejauh yang ia mampu. Tapi, ia sadar, waktunya tidak banyak. Meski sudah sampai di kota yang dituju, sebuah peperangan masih terjadi dalam batinnya. Ia membenci ayahnya itu. Ia bersumpah, tidak akan pernah memaafkan kesalahan yang telah diperbuat ayahnya.

Arman sudah tidak tahu tempat mana yang harus ia tuju saat ini. Ia sudah tidak punya siapa-siapa. Ya, kecuali pria itu. Dari dulu, ia menganggap ayahnya sudah mati. Sekali lagi, ia bersumpah, tidak akan pernah memaafkan kesalahan ayahnya. Ia membawa dendam sepanjang hidupnya. Ia akan membawa dendam itu hingga ke liang lahat.

RantaiWhere stories live. Discover now