Hanabi

10 1 0
                                        


Happy reading and sorry for typo 🙏🏼

****

    Ini bukan diriku, ini bukan tempatku. Aku meyakini itu. Tak seharusnya aku disini, tapi mustahil juga aku bisa keluar sekalipun sampai merengek berpeluh air mata. Bahkan topeng yang masih belum sempurna oleh tangan tak terampil ku, terpaksa harus ku pakai, berakibat sewaktu-waktu hancur tak menentu sampai lakrima ku bocor. Lalu merangkai dadakan lagi - memakai paksa - lalu hancur lagi, terus berputar seperti itu.

****

    Raut murung terpoles di wajah ayu milik seorang perempuan bernama Bina, matanya sendu menatap canda tawa yang ada dihadapannya. Bukan karena ia tak bisa gabung, justru Bina lah yang sering meramaikan suasana, tapi kali ini tidak.

    Hatinya lagi-lagi melayu setelah sering bertingkah penuh semangat, rasa sedih memukul telak dirinya yang nyatanya belum nyaman berada dalam tempat ini. Kembali terngiang-ngiang oleh rasa terkekang yang biasanya coba ia abaikan.

    "Kenapa semuanya melalui ini dengan begitu mudah? Tapi aku? Huftt... Sulit sekali sampai tubuhku serasa diremas remuk," gerutu Bina membuat teman sebangkunya menoleh.

    "Apa maksudmu? Kamu iri?"

    "Bahkan aku kalah telak oleh yang lebih muda dariku, mereka telah diatasku. Aku? Segini-gini saja," tambah Bina mengundang tawa kecil temannya.

    Bina mengernyit, perasaan dia tidak sedang melucu sama sekali. Apa ucapannya hanya dianggap lelucon oleh perempuan yang duduk di sampingnya ini?

    "Kenapa tertawa?"

    "Kamu lucu. Tidak seharusnya kamu iri, Bin," jawab perempuan itu.

    "Aku iri karena aku malu!"

    "Lalu, kamu akan iri dan akan terus menggerutu?" Tanya teman Bina, "itu semua nggak akan ada artinya, percuma. Lagipula kamu nggak tahu apa yang mereka rasakan, tiap orang punya persona, ingat."

    "Dan.. asal kamu tahu, berlari mendahului bukan berarti menjadi yang pertama. Pelan-pelan saja, tak apa. Asal kamu ada di jalurmu yang benar," tambah teman Bina.

    Bina mendengus mendengar nasihat itu. "Jalurku? Ini bukan jalurku, tapi ini tempat pesakitan ku," kesal Bina.

    Teman Bina tersenyum ringan mendengar dengus kesal Bina. Lalu netranya memandang ke arah lain, dan iris matanya memotret seekor kupu-kupu yang sedang terbang melewati jendela.

    Bersamaan dengan itu, gendang telinganya yang menangkap suara histeris teman-temannya yang ketakutan melihat ulat hinggap situ ditubuh salah satu dari mereka.

       Senyumnya makin melebar saat teringat suatu hal. "Bina, bukankah kau suka sekali dengan kupu-kupu?"

    Yang ditanya dahinya mengkerut, tak paham dengan pertanyaan yang tiba-tiba melawan alur pembicaraan mereka. "Apa hubungannya? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

    "Tidak apa-apa, hanya sekedar bertanya. Tapi kamu tahu proses metamorfosisnya, kan?"

    "Tentu saja, aku bukan anak kecil lagi ya!" Seru Bina mengundang kekehan temannya.

    "Iya, aku tahu. Nah, kalau begitu, anggap saja kau yang saat ini adalah ulat menjijikkan--"

    "Hey! Apa maksudmu?!" Potong Bina tak terima.

    "Aku belum selesai bicara, Bin. Jangan memotong!" Jelas temannya, "begini, kalau kau saat ini adalah si ulat, maka kau mungkin hanya menikmati hidupmu sendiri tanpa peduli yang kau lakukan ini merugikan yang lainnya atau tidak. Dalam arti singkatnya, seekor ulat yang egois."

    Bina menyimak, masih belum sepenuhnya paham sebenarnya. Tapi ia percaya kalau temannya ini bisa membantu keluh kesahnya.

    "Lalu, anggaplah tempat yang kau anggap tempat pesakitan ini adalah kepompong mu," lanjut teman Bina.

    Kernyitan bingung muncul di dahi perempuan beralis tebal. "Kepompong?"

    Teman Bina mengangguk sebelum kembali menjelaskan maksudnya. "Kepompong ini akan memenjarakan tiap gerak tubuhmu, bahkan tak jarang ada yang menyenggol sengaja agar si ulat keluar dalam keadaan cacat."

    "Tapi kalau ulat itu mau bertahan, maka ia akan keluar pada waktunya menjadi kupu-kupu indah yang juga bermanfaat untuk yang lain. Bukan lagi si ulat egois," tambahnya.

    Bina membisu, pikirannya bekerja memahami tiap ucapan temannya. Dalam hati berseru setuju dan ingin seperti yang diucapkan temannya, tapi keraguan hinggap di lubuk gumpalan darahnya.

    Sedangkan teman Bina tersenyum tipis melihat Bina diam, ia tahu kalau Bina masih ragu. "Pelan-pelan saja, tak apa. Aku yakin kau bisa. Karena tujuan dari sebuah perjuangan dan pengorbanan adalah kenyamanan dan kebahagiaan, namun bukan untukmu saja, tapi sekitarmu juga," ucap teman Bina memberi semangat.

    "Aku nggak tahu bakal bisa ngelewatin ini semua atau nggak," keluh Bina.

    "Aku yakin kau bisa, Bin. Ambil dua sisimu. Seimbangkan keduanya dengan adil, maka kau akan menjadi kupu-kupu yang memukau saat keluar dari kepompong ini."

****

    Ulat dan kupu-kupu tetaplah satu identitas. Keduanya hanya menjalani metamorfosis dari ulat menjijikkan menjadi kupu-kupu bersayap cantik. Yang mana, jelas tak mudah melewati prosesnya, butuh waktu juga kesabaran. Tapi hasilnya pun tak main-main, yang awalnya egois berubah menjadi penuh manfaat.

****

    "Kamu boleh menangis kalo kamu udah nggak tahan. Kamu nggak harus selalu baik-baik aja. Lagipula... Nggak ada keberhasilan yang tanpa rasa sakit dan pengorbanan. Love yourself, guys!"

    "Liat apa?"

    Gadis kecil itu menoleh, lalu tersenyum lebar terhadap kakaknya, menunjukkan layar handphone yang menampakkan sebuah video yang diputar di YouTube.

    "Lagi liat video QnA channel Hanabi. Aku suka banget sama channel ini, banyak motivasi nya tapi nggak ngebosenin. YouTuber nya juga asik, ramah gitu , tiap traveling selalu punya temen baru. Bener-bener butterfly social lah," cerita gadis kecil itu.

    Sedangkan sang kakak tersenyum lebar, matanya lalu beralih lagi melihat sosok perempuan yang masih asik menjawab tiap pertanyaan penggemarnya.

    "Dia emang kayak kupu-kupu. Cantik dan bermanfaat. Tapi, kamu tahu satu fakta tentang kupu-kupu?" Tanya sang kakak balik menatap adiknya yang juga menatapnya dengan tanya.

    "Sayapnya cantik, tapi nggak banyak yang tahu kalau cantinya menyimpan kerapuhan."

****

End.

Borahae 💜

And for Hanabi, sorry if this doesn't match your expectations😆🙏🏼






HanabiStories to obsess over. Discover now