Siji

0 0 0
                                        

Udara sejuk pagi hari di kota Ngawi seakan menggelitik pori-pori wajah Kanaya, gadis itu mengendarai motor scoopy berwarna hitam sembari bersenandung kecil.

Jam menunjukan pukul tujuh tepat saat ia tiba di lapangan parkir sekolah nya, ia tidak terlambat karna jadwal dimulai pelajaran pukul tujuh lewat lima belas menit.

Kanaya berjalan menuju kelas nya XI-2 IPA, ia duduk dibarisan kedua dari belakang, sembari menunggu bel masuk Kanaya memainkan ponsel untuk mematikan kejenuhan.

"Eh kamu Nay, tumben banget dateng jam segini." sapa Laras, teman sebangku Kanaya.

Kanaya hanya tersenyum menanggapi Laras, ia kembali fokus pada ponsel nya. Laras hanya mendengus melihat tingkah Kanaya, sudah biasa. batin Laras.

"Ras, nanti kamu ada rencana sehabis pulang sekolah?" pemuda berkulit kecoklatan itu duduk tepat didepan Kanaya yang asyik berselancar via Instagram. "Enggak, Dan. Kenapa?" Zidan Permana nama lengkap pemuda tersebut, ia tersenyum hingga lesung pipi pemuda itu nampak jelas.

"Gue mau ke mall nyari bahan buat mading lusa, lo ikut ya? acara pemilihan ketua osis masa jabatan tahun depan kan tiga hari lagi, nah gue mau nyari bahan buat promosi calon-calon ketos." Laras tampak menimang tawaran Zidan, tidak heran sih karna Laras seorang sekertaris osis sehingga ia juga ikut berperan dalam kegiatan yang bersangkutan dengan organisasi yang menaunggi nya.

"Oke deh."

"Eh Nay, mau ikut juga?" Kanaya melirik Zidan dan Laras secara bergantian, sebenarnya Kanaya juga tidak ada kegiatan sehabis pulang sekolah, tapi Kanaya tidak ada sangkut paut nya dalam kegiatan ini. "Engga deh, gue langsung balik kerumah aja."

"Oh, oke deh." Zidan kembali ke tempat duduk nya, tak terasa bel pun berbunyi pertanya pelajaran pertama akan segera dimulai, Kanaya memasukan ponsel nya kedalam saku rok abu-abu miliknya dan mengeluarkan buku cetak Biologi.

"Nay, menurut lo Danis atau Adam ya?" Laras meminta saran kepada Kanaya, selain karna Kanaya tidak cepu, gadis itu juga terkesan masa bodo dengan kisah percintaan Laras, tapi jawaban tak terduga keluar dari bibir gadis berpipi gembil tersebut.

"Hah? Lagi? Selain Irvan, Nanda, Ferdian, Bima, Gio sama siapa tu lupa gue, lo mau nambah lagi? langsung dua pula." ucap Kanaya histeris, the power of cewe cantik katanya.

Laras memang memiliki yang cantik, bentuk wajah gadis itu tirus dengan bulu mata lentik dan alis yang lumayan tebal, kulit nya yang sawo matang membuat gadis itu ayu jelita dengan ciri khas nya sendiri.

"Hehehe, abis gue bingung Nay. Semua nya ngasih perhatian misal nya gue tolak, terus mereka kecewa sama gue, jadi ya gue tanggepin aja deh." Jawab Laras tanpa dosa.

Kanaya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Laras, bagi nya cinta itu tidak bisa dianggap main-main, jika dari awal niat nya sudah tidak serius lebih baik tidak usah diteruskan apalagi cinta itu melibatkan perasaan.

Mantan pacar Kanaya juga selisih jauh dengan mantan pacar Laras, Kanaya memiliki tiga mantan pacar, Adit, Hanz dan Lucas. Sedangkan Laras hanya hafal jumlah mantan nya tetapi lupa nama dari masing-masing individu, saking banyak nya.

Alasan Kanaya saat putus dengan mantan pacar nya juga hampir terbilang klasik, dengan Adit ia harus memutuskan hubungan sepasang kekasih karna Adit pindah ke Magetan sementara Kanaya berada di Ngawi, kedua nya sama-sama tidak bisa menjalani LDR.

Lalu dengan Hanz, karna selalu bertengkar karna hal-hal sepele kedua nya memutuskan berpisah secara baik-baik, watak Hanz yang keras karna telah dididik oleh ayah nya yang juga keturunan Arab asli membuat Hanz mempunyai sifat sedikit tempramental, saat Kanaya meminta berpisah Hanz awal nya tidak terima tapi Kanaya berusaha memberikan pengertian kepada remaja itu sehingga Hanz dapat menerima dengan lapang dada sampai-sampai Kanaya speechless sendiri karna Hanz berdoa agar Kanaya mendapatkan imam yang nanti akan mendidik nya dengan baik kelak, aamiin.

Kanaya Stories to obsess over. Discover now