Ada ucapan yang bilang kalau dalam hidup itu kita akan melewati tiga fase.
Dilahirkan, belajar, mati.
Singkatnya, ya hidup kita dari awal sampai mati hanya untuk belajar.
Yang benar saja?
Tapi perlahan dalam perjalanan hidup ini, saya diam-diam menyetujui ucapan itu.
Bagi saya hidup adalah seberkas naskah yang dilakonkan menjadi film. Kita sebagai pemerannya hanya mengikuti arahan dan naskah yang telah dibuat oleh penulis.
Perlahan semua yang saya anggap normal dan wajar dalam hidup saya, mulai berubah. Waktu berjalan maju, meninggalkan yang sudah lalu kemarin, menyambut dengan berdebar apa yang akan terjadi besok harinya.
Begitu juga dengan tokoh-tokoh didalamnya. Sama seperti film yang diputar dibioskop itu, hidup juga punya namanya pembagian peran. Ada yang berperan sebagai antagonis, protagonis, utama dan pendukung. Jika peran mereka sudah usai dalam film kita, mereka akan keluar dan tak muncul lagi, tapi bisa saja namanya akan disebut kembali.
Terakhir saya tahu namanya adalah kenangan.
Mengenang,
Mengingat mereka yang telah meninggalkan.
Ego saya bicara dan memaki buat apa mengingat mereka yang telah meninggalkan? Mereka pergi meninggalkan tanpa peduli yang ditinggal akan bagaimana, akankah masih punya nyawa untuk tersenyum esoknya setelah ditinggal.
Mereka yang meninggalkan apa pernah berpikiran seperti itu?
Apa mereka yang meninggalkan saya pernah berpikir betapa hancurnya saya setelah ditinggal?
Apa mereka yang meninggalkan saya pernah berpikir apa saya sudah siap untuk ditinggal?
Apa mereka yang meninggalkan saya pernah berpikir apakah setelah ditinggal saya masih baik-baik saja?
Apa mereka yang meninggalkan pernah berpikir apa setelah ditinggal saya dan semuanya akan tetap sama?
Apa mereka juga tahu bahwa tak peduli mereka memikirkan keadaan saya setelah ditinggal, saya tetap mengenang mereka?
Saya tetap menangisi kenangan yang tak pernah bisa diputar ulang.
Saya tetap mendoakan dan diam-diam berharap bahwa mereka yang meninggalkan saya akan kembali datang pada saya.
Tapi mau bagaimana pun hidup harus terus berjalan kan?
Kita harus terus bersikap biasa saja kan?
Kita harus terus tersenyum ketika disapa teman lama saat tak sengaja bertemu dikafe dekat kampus kan?
Kita masih harus terus bangun tidur dan bersiap memulai hari walau semua telah tak sama lagi bukan?
"Jangan lupa antar tugas yang sudah dikumpul itu keruangan saya ya."
"Baik Pak."
Kita masih terus melanjutkan perjalanan, perjuangan, impian.
Menjadi yang lebih baik setelah ditinggal bersama kenangan yang menguliti perasaan.
YOU ARE READING
Epiphany
Romance(Slow Update) "Aku mencintaimu, itulah sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu." -Sapardi Djoko Damono ⋆⋆⋆ Saya percaya tentang analogi anonim bahwa hidup adalah perjalanan panjang, mencari sesuatu yang gak ada habisnya. Sampai...
