Satu.

72 2 2
                                        

Shora Ariani.

...

Tetesan air deras jatuh menggenang kepermukaan tanah. Buliran bening banyak menempel di kaca kelasnya. Ketiga perempuan itu sedang berdiri menunggu hujan reda di dalam kelas. Anak-anak lainpun juga begitu, sebagian ada yang memakai jas hujan mencoba untuk menerobos hujan.

"Mau pulang sekarang aja gak?" tanya teman perempuan itu masih memandangi hujan yang tak kunjung henti. Dia Zahra, duduk disamping Shora.

Shora menoleh."Besok aja pulangnya yuk, gue betah kok di sekolahan,"jawab Shora sembari terkekeh.

"Ayoo, gue suka jawaban lo!" Zahra terkekeh juga.

Zahra Amellina. Dia adalah cewek yang banyak ngomong, mulutnya pedas, kalau ngelihat hal yang gak disuka akan berontak. Tipikal cewek susah diatur. Tangannya juga enteng, kalau ada orang bikin dia kesal, maka tangannya akan melayang buat ninju orang tersebut. Sudah ada tiga kasus yang berurusan dengan Zahra. Nyawa mereka sih gak melayang, palingan cuma lebam doang diwajah.

"Yaudah kuylah nginep sekolahan," ucap Dhera mengiyakan.

Dan Dhera Salsabilla. Cewek ini dilihat dari luar lugu, namun jika sudah membuat dia kesal maka jurus andalannya keluar. Menampar orang. Dia tipikal yang gak suka ikut campur masalah orang, dan lebih gak suka lagi jika ada yang ikut campur masalah dia.

Satu hal paling menarik. Orang tua Dhera itu kaya, apa saja yang dia inginkan bisa didapatkan dengan mudah. Dhera tidak pernah sombong akan hal itu, dia terlihat sederhana di manapun dia berada.

Dhera duduk menghadap kebelakang, di depannya kini ada Shora dan Zahra.

"Ayuuu. Gue si yes, tapi lo harus jadi guling gue ,"timpal Zahra membuat orang dihadapannya manyun.

"Maksudnya, lo bilang gue gendut, gitu, hm?" Wajah Dhera mendekat.

Zahra menjauhi wajah orang di hadapannya ini dengan tangan yang mengepak."Kagak. Gue bercanda serius."

"Apaansih. Ngeselin lu." Tangan Dhera mulai membekap wajah tirus Zahra yang ada di hadapannya ini.

"Bodo, wle!" Zahra menjulurkan lidahnya sembari mengelak.

Aksi tampol-tampolan mulai terjadi. Shora melirik dua sahabatnya ini kesal. Dia ingin segera pulang, ingin suasana tenang. Tapi mereka malah asik ribut, dan ributnya di samping dirinya bahkan.

"Bacot lu berdua."

Zahra dan Dhera terkesiap. Mereka berdua menunduk dan memalingkan wajah masing-masing.

"Oke kita diem," kata mereka berdua serempak saat melihat mata Shora melotot.

Bukan Shora Ariani namanya kalau gak sensitif. Shora sama halnya seperti Dhera. Seorang perempuan lugu yang sudah diracuni berbagai hal tindak kekerasan. Jangan pernah melihat orang dari luarnya, contoh saja cewek ini--Shora. Dia lebih banyak melamun, gerakannya lamban. Namun jika ada yang main-main dengannya satu detik juga orang yang bersangkutan akan pingsan ditempat.

Tangannya bagai kapak besar milik Thor. Kuat dan tahan banting.

Shora menghela nafas pelan. Tidak habis fikir, kenapa dua temannya ini sangat suka ribut tidak jelas.

Setengah jam berlalu...

Dan sekarang mereka bertiga mulai bosan. Sudah satu jam menunggu hujan. Namun masih juga belum berhenti.

"Terobos ajalah!"teriak Shora segera menyambar tasnya.

"Woi! Gua ikut!" sahut dua sahabatnya ikut menyambar tas.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 03, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Seputih KapasWhere stories live. Discover now