Truth or Dare

191 8 12
                                        

Gerimis membasahi kota Jakarta sore ini. Jalan raya, gedung, pepohonan di pinggir jalan mulai dibasahi oleh rintikan air. Sesekali petir menyambar, menyebabkan jantung para manusia berdetak lebih cepat karena keterkejutan. Semakin lama, tetesan air yang terjatuh menjadi semakin banyak. Gerimis sore ini berubah menjadi hujan.

Beberapa siswa SMA Angkasa memilih untuk menunggu sang hujan reda. Ada yang bersiap memakai jas hujan untuk pulang menaiki motor, ada yang dijemput menggunakan mobil oleh sopir atau orang tua. Namun tidak bagi seorang gadis cantik dengan cardigan berwarna biru langit. Ia justru memilih untuk menerobos hujan sore itu.

Langkahnya begitu cepat. Tas ransel yang ia gendong beralih fungsi menjadi payung. Sepatunya basah karena terciprat air berkali-kali. Gadis itu terus berlari hingga akhirnya ia sampai pada tempat yang ia tuju.

Tempat itu adalah, Sweetbrew Cafe. Kafe dengan tema vintage yang menjadi favorit bagi anak-anak remaja. Tempatnya begitu nyaman. Apalagi tempat ini adalah tempat seseorang menyatakan cinta pada gadis itu.

Dengan baju yang sedikit basah, ia meraih gagang pintu kafe. Langkahnya begitu santai. Aroma kopi tercium oleh hidung mungilnya. Ia memesan kopi kesukaannya kemudian duduk di meja bernomor tiga belas. Meja yang biasa ia duduki bersama kekasihnya.

***

Sebuah koin dilambungkan tinggi oleh seorang cowok diujung meja sana. Koin itu jatuh tepat di tengah meja. Berputar, berputar, semakin pelan, dan berhenti. Diatas koin tersebut tampak sebuah tulisan 'dare', artinya dia akan membuka satu kartu dengan tulisan dare juga di sudut meja dan membaca tantangannya.

"Suruh salah satu teman kamu untuk memberimu tantangan," ia meletakkan kartu itu kembali dan mengangkat kedua tangannya ke atas. "Nggak. Gue nggak mau."

"Apaan nggak gentle banget lo!" ujar salah satu temannya.

"Gue terpaksa ikut permainan kalian. Gue kan udah bilang dari awal gue nggak ikutan," dia mengacak rambutnya frustasi.

Nggak diragukan lagi, teman-teman kampretnya pasti akan memberikan tantangan yang ngaco. Super ngaco.

"Nggak gitu bro. Daripada kelamaan mending gue aja yang kasih lo dare," celetuk si cowok ber-jersey dengan nomor punggung sepuluh itu memutuskan. "Deal?"

"Iye-iye agh, jangan susah-susah dan jangan bikin malu," jawabnya pasrah.

"Enggak kok. Lo coba liat cewek yang lagi ngopi tuh, yang pakai cardigan biru, ajak dia kenalan. Tapi jangan bilang ke dia kalau ini dare dari kita. Udah itu aja," ujarnya tanpa dosa.

"Udah itu aja!? Itu aja lo bilang!? Ini menyangkut harga diri gue bego!" nada bicaranya naik satu oktaf.

"Atau gue pacarin adek lo?" ujar temannya lagi.

"Gue nggak ikhlas, adek gue sama lo,"

Dengan terpaksa, akhirnya ia melaksanakan dare yang paling menyebalkan itu. Tinggal beberapa langkah lagi ia sampai pada meja yang dituju. Ia tak mengenal cewek itu sama sekali. Beda sekolah pula. Perlahan tapi pasti, jaraknya mulai dekat dengan si target.

"Ehem, permisi, boleh duduk di sini?" tanya-nya dengan senyum yang dipaksa. Biar nggak dikira judes.

Bukannya menjawab pertanyaan, dia malah sibuk memerhatikan seisi kafe. Perasaan bangku kosong masih banyak, batinnya.

Pandangannya beralih pada tiga orang yang ber-jersey sama dengan cowok yang menghampirinya. Bukannya tadi dia disitu? Ia membatin lagi.

RATIONALEWhere stories live. Discover now