chapter 1

31 4 0
                                        

Seorang gadis yang baru saja tiba dengan dua kopor yang cukup besar di samping kiri dan kanannya menatap pemandangan di depannya dengan sedih.

Tak pernah di sangka dia akan menginjakan kakinya di pelabuhan kecil tempat bersandarnya sebuah kapal kayu yang tidak terlalu besar yang di tumpangi nya tadi.

Bahkan ini tak pantas di sebut pelabuhan. Ini lebih terlihat seperti jembatan tempat bersandar nya kapal.

Jembatannya juga tak terlalu luas. Mungkin jika ada sebuah trek yang lewat, maka mobil atau bahkan motor tak bisa sejalur.

Gadis itu menghela berat. Apa yang di lakukannya sampai bisa tersesat di pulau kecil yang serba keterbatasan ini!

Sedari tadi bahkan dia tak mengerti apa yang di ucapkan orang-orang di sekitarnya, mereka tampak menggunakan bahasa daerah di sini.

Gadis itu tak berminat untuk bertanya pada siapa-siapa. Dia hanya berdiri dengan dua kopor besar di sampingnya sembari menunggu jemputan.

Tak lama orang yang di tunggunya datang dengan motor gigi-gigi. Entahlah dia menyebutnya motor gigi-gigi karena itu memang mempunyai gigi-gigi.

Gadis tersebut menatap tak percaya orang yang di tunggunya. Bagaimana bisa dua kopor muat dalam satu motor. Nanti dia duduk dimana?

Saat orang tadi tiba di depannya, gadis tadi memaksakan senyumnya, sebagai bentuk tanda hormat nya. Bagaimanapun walau ini bukan pertama kali, tapi ini ke dua kalinya dia bertemu dengan orang tersebut setelah 6 tahun lamanya. Jadi suasananya masih tetap sama baginya.

Orang tadi membalas dengan senyum lebar yang tulus. Dan tak lupa memeluk gadis tadi.

"Waahh kamu sudah cukup besar, hhmm.."

Kata pertama yang orang tersebut ucapakan setelah memeluk gadis tadi.

"Ehh iya.." sejenak gadis tadi bingung mau memanggil apa. Tak lama dia kembali tersenyum lebar

"Papa"

Orang yang di sebut papa tadi pun mengambil kedua koper gadis tadi dan di berikan ke salah satu orang yang mengikutinya di belakangnya tadi.

"Yuk kita pulang! Mama pasti senang liat kamu" ajak orang tadi.

Gadis itupun mengikut saja. Dia cukup bersyukur ternyata dia tidak akan sempit-sempitan dengan dua koper besar di motor ini.

Motor yang di tumpangi nya mulai berjalan. Terjadi keheningan antara gadis tadi dan papanya.

Gadis itu memfokuskan dirinya untuk melihat-lihat tempat barunya.

Kebanyakan orang-orang di sini masih memakai rumah panggung. Bahkan sejauh ini dia dapat menghitung dengan jari rumah batu yang di laluinya.

Dan rumah batu yang di laluinya itu rata-rata di jadikan tempat jualan di depan rumahnya. Yah, bisa di sebut warung-warung kecil lah.

Duk..dukk..dukk
Motor yang ini jalannya mulai terbata-bata dan berbelok-belok.

Rupanya di sini masih ada juga jalan yang rusak. Tapi tak lama kemudian motor tadi kembali berjalan seperti biasa.

Tak semua jalan di tempat ini yang di aspal. Ada beberapa juga yang masih berupa tanah dan batu-batu kerikil kecil.

Setelah melewati pemukiman, mereka melewati hutan-hutan lagi. Gadis tadi bergedig ngeri. Hutannya cukup lebat. Dan beberapa kali mereka melewati pohon beringin yang sudah cukup tua. Pohon bambu bahkan bisa dia lihat dengan jelas.

"Pa tadi itu pemukiman tempat lain ya?" Penasaran gadis tadi

"Iya, kita akan ke desa di mana kamu akan tinggal."

change my lifeGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt