1

32 1 3
                                        

Di suatu pagi terlihat dari kejauhan dengan angin sepoi-sepoi melintasi depan wajahnya dan membuat rambut hitam sebahunya beterbangan ke sana ke mari. Matanya terpejam seolah menikmati pemandangan di depannya. Tangannya yang bersih dan indah mulai terangkat dan tampak sebuah jari yang lentik memasuki sebuah portal hidup dan mati. Dengan gemulainya jari itu bergoyang-goyang dengan sedikit menariknya keluar. Sampai akhirnya sebongkah emas pun tertempel di jarinya dan mulai mengulangi hal yang sama lagi. Mungkin buat kalian itu hal yang sedikit jorok namun, bagiku itu pemandangan yang menarik.

Tak lama aku memandang gadis itu menyadari keberadaanku yang berada di sebuah gubuk tengah sawah yang menghadap ke arah jendela rumah gadis itu yang memang berada di pinggir sawah. Dengan wajah datarnya dia memandangku sebentar dan mulai beranjak dari jendela yang kuduga adalah jendela kamar gadis itu.

Kalian mungkin bertanya-tanya siapa aku? Bagaimana aku bisa sampai berada di tengah sawah? Apa aku seorang petani?. Namaku Barsha Xaquila Yoga dan entah bagaimana aku bisa berada di tengah sawah yang mulai memanas rasanya ingin kabur kembali ke kota. Aku terdiam dengan sedikit malas menatap seorang kakek tua yang sedang membungkuk di tengah sawah. Tiba-tiba suara kakek membuatku terkejut.

" Heh bocah nakal, kau tak ingin membantu kakek mencabuti rumput liar ini! terus saja merajuk aku tak akan membiarkanmu pulang ke kota," Ucap Kakek sedikit kesal.

" Alah, Kek. Jangan gitulah Kek. Masak Yoga disuruh bangun pagi cuma buat nyabutin rumput. Trus Yoga mau pulang, Kek. Kan Yoga juga mau sekolah nanti kalau ijin kelamaan bisa ketinggalan pelajaran." Rengekku pada kakek, siapa tahu nanti Kakek mau mengijinkan aku pulang ke Surabaya.

" Tak usah khawatirkan hal yang tak penting. Kakek sudah meminta orang tuamu untuk mengurus kepindahanmu ke sini. Dan besok kamu bisa masuk ke sekolah yang ada di sebelah kantor kepala desa."

" APA!, Kakek sebegitu niatnya ya tinggal bareng Yoga sampai-sampai gak bilang-bilang kalau mau mindahin Yoga ke sini."

" Sudah, buruan bantuin kakek,"

" Kek, apa sekolah baru Yoga yang ada di lereng gunung itu?! Yoga gak mau, sekolahnya jauh, jalannya susah."

" Kau bicara sekali lagi kakek lempar pakai lumpur kering. Ini bisa membuat kepalamu pusing beberapa hari, mau?"

" Tidak, Kek. Yoga akan bantu ini."

oOo 

Jalan yang berliku naik dan turun, kanan kiri sawah, udara dingin pagi hari membuatku ingin kembali ke rumah. Teganya Kakek membuatku harus bangun pagi dan mandi dengan air dingin. Bila aku sakit dia sendiri kan yang susah karena di rumah kan hanya ada aku sama Kakek saja. Ku percepat kayuh sepeda tua milik Kakek ini agar segera sampai di sekolah.

Sesampainya di sekolah aku tercengang melihat pemandangan di depanku. Ku perhatikan sekelilingku begitu menakutkan. Cahaya matahari masih remang-remang, gerbang sekolah masih terbuka sedikit, keadaan sekolah masih sepi, tak satu pun aku bertemu seseorang di dalam sekolah ini.

" Dasar Kakek, ternyata dia membohongiku. Katanya pelajaran di sekolah dimulai jam 6 pagi. Lihatlah tidak ada satu pun orang di sini. Tahu begini tidur lagi saja aku tadi."

Aku terus berjalan menyusuri satu per satu ruangan di sekolah ini. Ada beberapa ruang kelas, laboratorium, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang TU, Aula, toilet. Dan akhirnya aku kembali menuju ke depan sekolah karena aku tidak tahu di mana kelasku nanti. Aku duduk di kursi di bawah pohon yang rindang, entah pohon apa itu aku tidak peduli. Saat aku akan mengambil ponselku di dalam tas aku mendengar suara benda jatuh, saat kutoleh ternya ada seorang gadis berambut pendek sedang melompati pagar belakang sekolah. Gadis itu tidak melihatku namun, aku tetap memperhatikannya. Setelah turun dari pagar dia mengangkat kepalanya dan langsung menuju sebuah kelas, sepertinya itu adalah kelasnya.

Tak terasa sudah 30 menit aku duduk di bangku itu. Akhirnya aku menuju ruang guru dan seorang guru yang menjadi wali kelasku mengantarku ke dalam kelas.

" Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan seorang teman baru dari Surabaya. Perkenalkan dirimu." Ucap pak guru yang baru kuketahui namanya Pak Candra.

" Perkenalkan nama saya Barsha Xaquila Yoga, saya dari Surabaya, senang berkenalan dengan kalian." Ucapku dengan senyum terpaksa, karena memang aku tidak suka di sini.

" Kalau sudah silahkan duduk di sebelahnya Adora." Ucap Pak Candra sambil menunjuk salah satu siswi yang memang duduk sendiri.

" Iya, Pak,"

Ini cerita pertama yang kubuat, maaf bila masih ada salah-salahnya.

semoga kalian menikmati tulisanku😊

TransitionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang