Bercerita tentangmu seperti tidak ada habisnya. Kau selalu menjadi objekku dalam bergelut dengan rima dan pena. Kau begitu istimewa untukku yang biasa saja.
Aku menyukaimu. Akan tetapi ketika ditanya mengapa dan sejak kapan, aku bisu. Karena aku pun tak tahu itu.
Biarkan aku mencintaimu dalam diam. Tenggelam dalam rasa kagum. Meski fisikmu tak semampai dan rupamu tak menawan. Aku tak peduli karena aku merasa nyaman.
Aku ingat betul bagaimana kita menjadi dekat. Dengan sikapmu yang begitu hangat. Sehingga rasa itu jatuh begitu saja. Aku tak berdaya, logika kalah oleh rasa.
Kau mengajakku berbicara. Tentang apa saja. Awalnya aku berfikir bahwa kau hanya mau berbicara dengan mereka saja. Yang pandai bergaul dan membawa diri. Tak seperti aku ini, yang pendiam, membosankan dan senang menyendiri.
Ketika bersamamu aku bahagia. Mereka mengatakan rasa itu hanya sementara. Katanya aku hanya kagum sesaat saja. Awalnya kukira iya. Tapi tidak sepertinya. Rasa itu bertahan lama hingga sulit untuk menyingkirkannya.
// Arunika //
Surakarta, September 2019.
YOU ARE READING
Arunika dan Fajar
Poetry"Rimaku tak pernah usai menceritakan tentangmu. Meski rasaku tak sampai tetapi kalimatku tak pernah selesai. Tak mengapa jika kita tak pernah searah, tapi bagaimana aku menjatuhkan rasaku padamu akan menuliskan sejarah." Arunika adalah matahari terb...
