len pov

29 1 0
                                        

pagi itu saat ku menerima pesan terahir roy sangat sekali memukul hati, entah perasaan bersalah ataukah rasa yang takut sekali kehilangan.
pamekasan 03 maret 2018 dimana aku pertama kali takut kehilangan sosok roy yang bagiku dia sangat menjengkelkan.

lima bulan sebelumnya aku sangat risih saat menerima pesan teksnya lewat WA hampir setiah 3 jam dia mengirim pesan yang sok romantis bagiku.

"sebelum berangkat ke kampus jangan lupa sarapan jaga kesehatan baca doa keselamatan bla bla bla... "

aku dua tahun lebih tua darinya bagiku dia hanya bocah ingusan sok romantis alias bucin taukan yang lagi ngetren sekarang, entah kenapa orangtuaku sangat setuju memilih dia sebagai calon menantunya apa mungkin kepintarannya di kampus atau mungkin sopan santunya terhadap orang yang lebih tua, Entahlah hanya mereka berdua dan tuhanlah yang tau.

aku yang sudah sarjana namun diberi kepercayaan untuk mengelola perpustakaan di kampusku juga kampusnya roy ya kami satu kampus, dia masih semester 6 yang mendapat beasiswa prestasi yang sangat unggul di kampus, entah kapan dia melihatku sampai melamarku mungkin saat dia ke perpustakaan aku pun tak tau bahkan dia berjalan saja hanya melihat gerakan kakinya yang selalu menunduk bagaimana bisa melirikku dengan mukaku yang selalu ku tutupi dengan buku bacaanku sejarah peperangan buku favoriteku. di rumahkulah pertama kali melihatnya saat orangtuaku mengenalkannya kepadaku dan yang katanya satu kampus. sesekali ku meliriknya dia pun hanya fokus pada laptop dan buku yang selalu di peluknya bagaimana mungkin dia sempat melirik-lirik wanita bahkan teman priapun menurutku dia tak pernah tampak punya hahah mungkin.
3 jam kemudian dia mengirimi pesan lagi yang tak ada bosannya
" duduknya jangan telalu lama lebihlah sering minum air untuk menjaga kekebalan tubuhmu jangan lupa istrahat dan jangan lupa sholat"
dengan balasanku yang hanya ku jawab "iya"
tak pernah membuatnya patah semangat untuk mengirimiku pesan pertiga jam.
dan menjelang tidurku pun tetap saja aku pasti diganggi dengan celoteh alaynya

"bagaimana dengan harimu hari ini semoga lelahmu menjadi lillah jangan begadang ya ukhti segaralah tidur biar besok bangunnya dengan keadaan segar bugar dan tetap cantik"

preet........
kataku dalam hati gak mungkinlah ku bales chatnya dengan kata itu kasian juga kan.
tak luput dengan balasaku yang dingin
"iya"

jika bukan karna orangtuaku mungkin aku males sekali punya ikatan dengannya cobak bayangkan dwnga tubuhnya yang gak begitu berisi gk kurus juga sih denga penampilan yang selalu seperti dosen kiler sok rapi dengan kacamata yang selalu diperbaiki meski gk melorot pun karna hidungnya yang lumayan mancung bajunya seperti mao berangkat meeting di selipkan di celananya gk luput juga sabuk celana rapi amat bang ulala,, dan gaya rambut selalu tersisir ke kanan rapi gak modis sama sekali gak kekinianlah lebih jelasnya cara berjalan seperti punya mata empat diatas kepalanya yang selalu menunduk.
para wanitapun enggan menyapanya apa mungkin malu atau memang males entahlah.
lelaki itu bukan typeku sama sekali bolehlah dia pinter tapi kurang gagah,
oh tuhan diakan jodohku nanti mungkin membosankan bersamanya.

cinta datang terlambatStories to obsess over. Discover now