“Hmmm.. semoga ini akan menjadi liburan yang menyenangkan.” Begitu gumam Chella sambil mematikan ponselnya berharap tidak dihuhungi papanya yang sering mengkhawatirkan dirinya semenjak kepergian mendiang ibunya.
Hari semakin sore, suara-suara jangkrik mulai sahut-menyahut, senja buru-buru pamit meninggalkan sisa kemerah-merahan pada langit mengijinkan kabut menyapa. Resya, Chella, Tora dan John akhirnya tiba di tempat mereka akan menghabiskan waktu liburan singkat bersama. Keempat sahabat ini adalah mahasiswa dan mahasiswi fakultas kehutanan di salah satu Universitas Negeri di Yogyakarta.. Kecintaan mereka pada alamlah yang menyatukan persahabatan mereka, sehingga tidak heran, untuk menikmati liburan semester pertama mereka, Kota Kembang menjadi pilihan yang disepakati bersama.
“Hmmm…Akhirnya sampai juga guys,” seru Tora sambil meletakan tas carriernya di atas kursi rotan.
“Jadi, rencana kita apa malam ini teman-teman?” sahut Chella yang sibuk mengotak-atik kameranya. “Ya, sesuai rencana dong, setelah makan malam kita kan pengen buat api unggun kan ya? sambil cerita-cerita gitu.” Suara Resya tak kalah semangat merespon pertanyaan Chella.
Kemudian untuk beberapa saat suasana menjadi hening, masing-masing sibuk sendiri sampai terdengar suara deringan hp ….
“Eh Resya, Hpmu bunyi tuh…”
Suara Chella memecahkan keheningan. Resya yang sedang membereskan barang-barangnya meminta tolong pada Chella untuk mengangkat telfonnya.
Tanpa melihat nomor, Chella langsung mengangkat panggilan tersebut. “Halo, selamat sore, mohon maaf ini dengan siapa ya?” Tanya Chella dengan nada lantang. “I..iya..Halo, ini Chella? Ini papa nak. Gimana kabarnya?” Tanya Pak Dharma dengan nada cemas namun pasti karena mengenali suara putri semata wayangnya. Tak langsung menjawab, Chella langsung menyingkir dari teman-temannya tak ingin mereka mendengar percakapannya.
“Halo, Pa, ada apa lagi sih pa? Papa sering banget nanyain kabar Chella.. Kan Chella udah bilang, Chella lagi ngumpul sama temen-temen Chella. Chella baik-baik aja kok pa. Jangan sering-sering hubungi Chella dong pa, Chella malu. Malu Kalo sampai temen-temen tu tahu papa sering hubungi Chella. Chella udah besar pa, udah bisa jaga diri sendiri. Sudah ya pa.. daaaa..” Chella mengakhiri percakapan singkat dengan kesal tanpa memberi kesempatan bagi papanya untuk bersuara lagi.
“Siapa yang nelfon Chel? Kok kayak marah-marah gitu? Tanya Tora penasaran. “Papa!” Jawab Chella ketus. “Lho, emang kenapa? Sampe sebete itu?” Tora penasaran.
“Helowwww Tor!! Aku tuh bukan anak kecil lagi yang setiap satu jam musti ditelfonin, ditanyain, dikhawatirin. Bete tahu nggak!!”
“Hmmm…btw Papa kok bisa dapet nomormu sih Res?” Tanya Chella dengan nada curiga.
“Loh, kan kamu pernah sms aku pake nomor papamu waktu kamu kehabisan pulsa.” Balas Resya.
“Ya ampuuuun…. Kok nggak aku hapus ya.. huft.” Gerutu gadis yang memang dasarnya pelupa.
Melihat Chella yang sangat kesal Resya berusaha untuk menenangkan Chella, “Udah, udah.. mendingan sekarang kamu sama Tora Shalat Maghrib dulu deh Chel, biar aku yang urus makan malamnya dan John siapin api unggunnya… Oke??”
Chella hanya mengangguk dan dengan langkah berat beranjak untuk menunaikan ibadah Shalat. Sambil menanti Chella dan Tora yang Shalat, John dan Resya sudah lebih dulu di halaman villa menunggu teman-teman yang lain untuk makan malam bersama.
Waktu menunjukkan pukul 18:15 dan keadaan menjadi lebih cepat gelap karena kabut yang menyelimuti. Meski demikian, menu makan malam yang disertai pemandangan api unggun jauh lebih menggairahkan.
Akhirnya Tora dan Chella menyusul kedua temannya di halaman yang sudah siap untuk menyantap ayam bakar yang menggugah selera.
“Wuaaah… kelihatannya enak nih. “
Ujar Tora bersemangat.
“Yuk langsung aja diambil guys.” Resya mempersilahkan.
“Sebelum makan jangan lupa cuci tangan dan berdoa guys.” Celetuk John.
Ayam bakar saus tiram begitu nikmat, membuat mereka pelit untuk bersuara. Hanya sesekali saja mereka saling bicara. Resya memang jago untuk mencari tahu info-info tentang menu makanan yang sering diserbu massa.
“Chel, gue mau nanya, kenapa sih musti malu ditelfonin sama bokap lu? “ Tanya Tora membuka perbincangan.
“Ya, malulah Tor… aku uda besar. Masa tiap 2 jam nelfon? Kan gimanaaa gitu..Udalah nggak usah dibahas.” Jawab Chella ketus.
“Chel, tahu nggak. Lu harusnya bersyukur, itu artinya lu diperhatiin. Nggak kayak gue. “ Lanjut Tora.
“Emang kamu kenapa?” Tanya Chella sambil melirik ke arah Tora dengan nada sedikit kesal.
Dengan kepala tertunduk, Tora pun mulai bercerita. “Lu tahu nggak, gue tu iri sama lu. Lu punya bokap yang perhatian banget sama lu. Nggak kayak gue.. Bokap gue sibuknya minta ampun, sampe lupa kalo punya anak.” Keluh Tora dengan suara yang tertahan. “Lu enak. Lu dicariin bokap lu, lah gue, gue telfon bokap gue cuma untuk say hi, eh malah di reject telfonnya. Bahkan gue sampe bikin tato, gondrongin rambut cuma untuk satu alasan Chel! Supaya bokap gue lihat gue. Marahin kek, apa kek, tapi… bokap gue nggak peduli tuh. “
Chella terdiam tak mampu bersuara.
Dia hanya tertunduk dalam diam dihantui rasa bersalah.
“Hmmm… Tora bener Chel. “ Sambung John. “Kita harus bersyukur dengan keadaan kita masing-masing” Suara John terdengar lirih.
“Kalian beruntung punya sosok papa atau bokap. Apapun keadaan papa atau bokap kalian, kalian bersyukur bisa mengenal mereka.” Jelas John sambil menghela nafas.
“Untuk yang bokapnya baik, gampanglah untuk bersyukur. Tapi bokap gue?? Yang jarang di rumah, nggak pernah nanyain kabar? Heh… !!! Ya, mungkin keluarga lu enak sih John. “ Kilah Tora.
“Hmm ….. Kamu bener Tor. Keluargaku beda. Aku yang paling beda di antara kalian semua“ John memulai ceritanya dalam keadaan tertunduk.
"Sejak kecil, aku nggak pernah tahu muka papa itu seperti apa, muka mama seperti apa. Mama meninggal saat ngelahirin aku. Papa, sudah lama tinggalin mama sejak aku masih dalam kandungan."
Kenang John berusaha mengontrol nada suaranya yang bergetar menahan air mata.
“Aku Cuma dengar cerita dari nenek yang besarin aku. Boro-boro dimarahin, ditelfonin, kenal papa saja tidak. Tapi sejak punya teman-teman kayak kalian, aku ngerasa punya keluarga.”
Mendengar cerita John, Chella tak mampu membendung air matanya. Isak tangisnya makin menjadi hingga terdengar oleh sahabat-sahabatnya. Rasa malu, perasaan bersalah bercampur jadi satu. Resya tak tega melihat sahabatnya menangis, perlahan ia mendekati Chella dan memeluknya.
“Nggak ada hidup yang sempurna Chel.” Ujar Resya bijak sambil mengusap rambutnya.
“Setidaknya malam ini, kita semua belajar satu hal. Nggak ada hidup yang sempurna. Kalau seluruh dunia mengeluh, siapa yang akan bersyukur? Keluarga aku juga nggak sempurna kok Chel. Sejak awal mula kita bereempat jalan bareng, kalian nggak ada yang tahu kan kalo papaku dipenjara karena tersandung kasus korupsi dana BOS? hmmmm….Orang yang belakangan beredar di berita, yang sering kalian caci maki itu, itu …………..hmmm papaku” Resya menarik nafas dalam-dalam berusaha untuk kuat. Gadis berbadan jangkung yang selalu terlihat tegar tak ada yang menyangka bahwa ia menyimpan cerita yang tak kalah pedih.
Resya memang sangat jarang menampakkan wajah sedih di hadapan sahabat-sahabatnya. Selain jago bermain basket, Resya dikenal sebagai pendengar yang setia oleh sahabat-sahabatnya. Wajar kalau dia jarang mendapat kesempatan untuk curhat. Namun malam itu suasana seakan memaksanya untuk harus berbagi cerita untuk bisa mendukung teman-temannya.
“Trus, gimana kabar bokap lu Res?” Tanya Tora dengan logat Betawinya yang khas.
“Ya, papaku divonis penjara 10 tahun dan ini baru masuk tahun kedua. Artinya, selama 8 tahun ke depan, aku nggak bisa ketemu papa dengan leluasa. Yah.. itu kalo papa umur panjang ya…” Jelas Resya menyembunyikan perasaan malunya.
Malam makin larut, suasana begitu sendu dengan setiap cerita yang penuh haru. Hangat api unggun yang menyala ramah di hadapan merekalah yang menghangatkan tubuh mereka yang mulai gemetar. Tak terkecuali, pipi mereka semua basah karena air mata yang berlinang.
“Te… terimakasih se..mua…cerita ka..kalian bu..buat aku jadi sa..sadar..” Ucap Chella terbata-bata dalam tangisnya.
“Sama-sama Chel… Aku selalu ingat pesan nenek yang bilang, Yang selalu tersenyum tak selalu jadi pemilik cerita yang paling bahagia, dan yang sering murung tak selalu berarti hidupnya yang paling pahit.” Jawab John dengan tambahan kata-kata bijaknya.
Harapan Chella terkabul. Liburannya bersama keluarga barunya memberikan dia sebuah pelajaran yang sangat berharga. Setidaknya malam itu membuat keempat sahabat ini menjadi semakin akrab dan saling peduli satu dengan yang lainnya.
YOU ARE READING
PAPA
General FictionChella putri semata wayang Pak Dharma kini beranjak dewasa. Ibunda Chella telah meninggalkan kedua darah dagingnya 10 tahun silam. Bukan hal yang mudah bagi Pak Dharma untuk bisa menjadi seorang Papa sekaligus mama buat Chella. Karena sangat menyaya...
