Pagi yang cerah untuk memulai hari yang cerah juga. Seharusnya begitu. Tapi tidak bagi Bintang Gia pagi ini.Gadis yang biasa dipanggil Gia itu melangkah dengan malas setelah berpamitan dengan orangtuanya.
Gia menghela napas berulang kali. Lelah sekali menunggu angkot yang tak kunjung datang. Di lihat lagi jam tangannya. Astaga sudah hampir bel masuk. Ayolah sekarang Gia harus jalan lagi kali ini.
Gia mencoba melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Panas banget sii pagi ini."
Gia menyanggah keringatnya yang mulai bercucuran, setelah berjalan cukup jauh
"Huh. Akhirnya nyampe."Ucap Gia sambil tersenyum
Tiba-tiba didepan gerbang Gia hampir saja tertabrak motor. Seorang cowo dengan seragam yang asing dimata Gia, dan ditutupi dengan jaket abu-abu. motor sportnya berhenti cowo itu menoleh kebelakang melihat Gia dengan tatapan tak bersalah. Sambil sedikit tersenyum
Gia mendengus "Heh kalo naik motor itu jangan ugal-ugal dong! Ini tuh area sekolah bukan sirquit balapan!"
Bukannya meminta maaf cowo itu malah pergi. Gia benar-benar gemas. Gemas sangking kesalnya
"Dasar bukannya minta maaf malah pergi." ucap Gia dengan cemberut.
Gia kembali berjalan menuju kelasnya seraya mengomel.
"Dasar orang kaya panas-panas gini pake jaket mahal" Gia mendengus.
"Omong-omong cowo tadi siapa yaa, ga pernah liat deh sebelumnya?"
***
Jam pelajaran pertama ini bener membosankan. Rasa ngantyk pun mulai menggoda Gia.
"Ehh ehh Gia jangan merem. Melek gaa!" ucap Sania. Teman sebangku sekaligus sahabat kesayangan Gia.
Gia mengeluh. "Aduhh Saniaa, aku ngantuk banget nii."
Sambil membaringkan kepalanya diatas meja.
"Gia ini itu masii pagi, makanya jangan begadang teross." ucap Sania sambil mengguncangkan tubuh Gia
***
Bel istirahat berbunyi. Gia langsung membuka mata dan menegakkan tubuhnya dengan semengat, seraya tersenyum.
Sania yang melihat tingkah Gia terheran sendiri.
"Giliran istirahat aja melek" ucap Sania
Gia hanya nyengir-nyengir saja. Kemudia ia berdiri dengan semangat.
"Ayo kita ke kantin" ucap Gia sambil menggandeng tangan Sania.
"Aduhh Gi aku mau ke toilet dulu. Kamu duluan aja yaa" ucap Sania sambil melepas gandengan tangan Gia dan berlari ke luar kelas.
Gia berdiri di depan area kantin, sambil memandang kerumunan siswa disana.
"Duh rame banget." ucap Gia mengeluh
Tiba-tiba ada seorang cowo berseragam berbeda dari keempat temannya melewati Gia memasuki kantin. Gia melirik cowo itu.
"Kaya kenal deh" batin Gia
Gia pergi ke salah satu bilik kantin. Yang tidak terlalu ramai.
"Ibu Es kelapanya 1 yaa" ucap Gia. ia menunggu sambil berdiri diantara siswa-siswi yang lain
"Ini nak Es nya." ucap ibu kanti sambil tersenyum seraya menyodorkan Es kelapa itu.
Aku tersenyum dan menyodorkan tangan berniat menggambil Es itu. Tapi tiba-tiba dari belakang ada tangan yang dihiasi jam tangan dan beberapa gelang. Tangan cowo, pikir Gia.
Gia berbalik "Ehh itu Es ku." ucap Gia sambil membelikan badannya menggikuti arah Es nya.
"Sori. Gue udah pesen duluan sebelum lo dateng"ucap cowo itu.
Gia memperhatikan seragam cowo itu, berbeda dari yang lain. Pasti dia cowo yang tadi
"kamu? kamu yang tadi pagi hampir nabrak aku kan?!" ucapan Gia membuat beberapa siswa menoleh kearah Gia.
"Gi udah" tiba-tiba Sania datang dan memegang bahu Gia.
"Misi" ucap cowo itu dan berlalu didepan Gia begitu saja
***
"Gi kamu ngga tau ya, cowo yang tadi itu kakel tauu" ucap Sania yang berbalik duduk menghadap Gia.
"kakel?" tanya Gia dengan alis berkerut.
"Iyalah. Kamu ga liat temen-temennya itu kakel kelas XI IPA 1" jelas Sania
"Kamu bener-bener tau semuanya yaa Sa" ucap Gia terheran-heran dengan Sania yang mengetahui segala hal. Terlebih tentang cowo-cowo di sekolahnya.
"Tapi kok seragamnya beda dari kita-kita. Aku juga baru liat dia?" tanya Gia lagi.
"Dia itu murid pindahan dari seminggu yang lalu. Dari yang aku denger dia sering bolos. Makanya blum dapat baju, kayaknya sii". jelas Sania
"ohh gitu." ucap Gia
"Namanya Rayfan Viernan. Sekedar info. Mana taukan nanti kamu lama-lama luluh sama dia" ucap Sania menggoda Gia sambil tertawa.
Gia membalas dengan tatapan mematikan. Sania yang melihat itu hanya menyengir sambil mengelus rambut Gia. Agar gadis itu menjadi luluh.
Sementara Gia berkutak dengan pikirannya sendiri
"Rayfan Viernan" ulang Gia dalam hati
***
Hari ini Gia tidak pulang bersama Sania. Karena ia harus pergi ke toko kue. Seperti biasa Gia naik angkot saja.
Setelah sampai. Di lihatnya suasana toko tidak terlalu ramai. Syukurlah berarti Mama tidak terlalu capek. pikirnya.
"Eh Gia, udah pulang?" tanya Mama Gia
"Iya udah. Mama jadi ke rumah Nenek?" tanya Gia
"Jadi dong" ucap Mama dengan senang
"Yahh Mama kan Gia mau ikutt" balas Gia dengan muka cemberutnya.
"Maa Gia ikut yaa, pliss yaa yaa" mohon Gia, sambil memeluk Mamanya.
"Ngga bisa sayang, kamu harus sekolah dan kalo sempet kamu bantuin Mba nana jaga toko yaa" ucap Rena Mamanya sambil mengelus kepala Gia.
Gia melepaskan pelukannya dan memasang wajah sedih.
"Udah Gi jangan manyun kaya bebek gitu" ucap Mba nana sambil tersenyum menggoda Gia.
Gia membalas dengan menatap Mba Nana intens
"liat deh Mba Rena, mukanya Gia galak banget gimana bisa punya pacar kalo gitu. semua cowo di galakin tuu Mba sama dia"
adu Mba Nana pada Rena, Mama Gia.
Gia yang digodain seperti itu makin cemberut.
YOU ARE READING
RAYFAN
Teen FictionRayfan Viernan. Murid pindahan yang sangat lekat dengan segala ulahnya. Sebenarnya ulahnya hanya 1 tapi diulang-ulang sampai menjadi rutinitasnya. Sikapnya cuek, gengsian, dan tidak suka ambil pusing. Sangat suka kopi, tidur dan tidur. Sejauh ini ha...
