Aylan 1

33 2 1
                                        

Gadis cantik dengan tubuh mungilnya itu ia selipkan diantara ribuan banyaknya orang. Bukan-bukan MPLS tapi ia sendiri juga tidak tahu mengapa banyak kerumunan ditengah lapangan sepagi ini.

Mendengar teriakan wanita pada umumnya, membuat Ayla menaikan alisnya semakin ingin tahu. Ketika tubuhnya berhasil menjadi urutan pertama membuat matanya melotot tidak percaya. Ternyata itu adalah Alan-sahabat sekaligus teman satu kompleknya

Ayla semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti, apapun yang dilakukan Alan tentu membuatnya mengernyit. Pria itu sedikit menurunkan kakinya hingga berlutut, memberikan sebuket bunga hidup pada seorang wanita tentunya membuat Ayla membuka mulutnya

Satria yang tak lain sahabat dekat dan satu kelasnya Alan, ia memberikan sebuah microfon pada Alan, dengan sesikit tarikan nafas suara Alan mulai mengisi lapangan

"Kalo kamu nerima ini berarti kamu terima aku, tapi kalo kamu buang ini berarti kamu ingin aku"

"Emang cowok stres si Alan" gerutu Ayla yang masih memandanginya. Jelas saja membuat Nanda tersipu malu, ia segera meraih buketnya dan artinya Alan diterima

Teriakan semakin histeris saat Alan memeluk Nanda tanpa sensor, namun hal ini hanya berjalan sebentar sebab pak Yoga selaku guru olahraga datang dengan tiupan peluitnya. "Priiiiiiiitt"

Semua orang menutup telinganya, lantas membuat Alan hanya memamerkan giginya yang putih. "Udah dilapang aja nih pak?"

"Kamu..mau jadi fakboy?!"

"Temen saya udah fakboy dari dulu pak, kalo gitu kita pamit ya assalamualaikum"

"Waalaikumsalam. Alan-saya tunggu kamu di perpustakaan"

Alan mengacungkan kedua jempolnya ditepi sana, siswa-siswi dengan sendirinya membubarkan diri mereka karena pak Yoga yang mengganggu suasana. Tidak kecuali dengan Ayla, gadis itu masih menepuk nepukan pipinya terbangun.

Menyadari tidak ada orang dilapangan membuat Ayla berlari ke kelasnya. "An-Ana! Gawat na!"

Ana berusaha mengalihkan wajahnya, nampaknya ia sendiri bingung dengan kedatangan Ayla yang masih gelapgapan. "Kenapa Ay?"

Ayla segera duduk disampingnya, menarik nafasnya dan mengeluarkannya hingga tiga kali. "Lama banget sih"

"Gawat, si Alan nembak Nanda si lapang. Gila gak sih tuh anak?"

Ana membulatkan matanya, ternyata Nanda sudah hadir diantara mereka denan buketnya. "A-aa-apaan sih"

Ayla tak mengerti dengan isyarat sahabatnya itu, dengan rasa berat hati ia menegok kebelakang melihat Nanda yang sudah duduk dibangkunya. "Nan?"

Merasa namanya dipanggil, Nanda menolehkan wajahnya tersenyum. "Kenapa Ay?"

"Lo yakin nerima Alan?"

Nanda menaikan bibirnya, sebetulnya ia juga tidak tahu. Alan terlalu memaksa dan Nanda tak bisa menolah sebab pilihan yang Alan berikan seakan menuntutnya.

"Kalo Angga tahu?" tanya Ayla membuat Nanda menggeleng. Nasibnya kini ditangan sendiri, keputusan Nanda yang mendadak pasti akan membuat Angga marah

"Lo pastiin ya Ay, kalo Alan gak bole h ketemu Angga"

"Hmm..gue gak janji, tapi tenang aja. Selama Angga gak disini lo bebas sama Alan" jawab Ayla antusias, tentu saja Angga adalah tifical orang yang keras, penuntut, dan tak ingin dibantah. Siapa coba yang betah dengannya bila tidak dengan ketampanan dan perhatiannya?

##

Sesuai janjinya, Alan menemui pak Yoga di perpustakaan. Tidak lupa Satria yang ikut menemani Alan, kini keduanya mulai duduk pada kursi yang tersedia untuk membaca.

Tidak lama pak Yoga datang dengan kemoceng dan lap tangan. Beliau menyimpannya diatas meja membuat Alan meratapinya dengan setengah percaya. "Aaduhh...saya jadi mencium aroma-aroma gak enak nih pak"

"Saya juga pak, harap maklum kami sodara kembar beda rahim" sambung Satria menaik turunkan alisnya pada Alan yang melirik

"Makannya jangan seenaknya disini. Coba kamu lap buku-buku yang sudah tak terpakai disana, jangan lupa rapikan dipojok kanan untuk dikirim ke tempat lain."

Alan meraih kemocengnya, sedikit membolak-balikan benda berbulu itu membuat Alan diam sejenak. "Ini pake nya gimana pak?"

"Coba kamu elapin sama sodara kembar kamu, dan ini lalu lap semua tempat sampai bersih. Dua jam saya balik lagi kesini"

Pak Yoga meninggalkan tempat, mau tak mau Satria harus ikut dihukum karena Alan yang minta. Sedikit mengusap usapkan pada tubuh Satria membuat pria itu berdiri dan menjitak kepala Alan sampai terkekeh

"Haha baperan lo Sat"

Alan segera berdiri mengikuti Satria, sesuai intruksi pria itu membersihkan tiap buku yang berdebu ke dalam kardus baru

"Lo ngapain sih pake nembak si Nanda segala, jadi kan kena imbas"

"Iya sih, ngapain ya? Gue cuman gak mau kalah saing aja sama si Ayla. Abisnya gue cuman jadi pelampiasan doang kala dia baku hantam sama pacarnya"

Satria sedikit menoleh pada Alan yang masih sibuk membersihkan buku. Menepuk bahunya datar membuat Satria ikut antusias, "Tenang de, kakak selalu ada buat kamu kapanpun itu ya. Kamu yang sobar"

"Najis lo alay"

Alan sedikit menoyornya hingga tubuhnya Satria mendorong Rivaldo, atau yang lebih akrab dipanggil dengan kata 'Valdo'

"Sorry Val, gue gak sengaja"

Valdo menaikan alisnya melerai, tangannya mulai beralih pada ponselnya yang bergetar. Membaca pesan singkat dari pacarnya tentu membuat pria itu tersenyum miring, ia segera keluar setelah memilih bukunya untuk tugas bahasa Indonesia

"Yauda gue duluan ya, Sat-Al"

Alan hanya berdehem tak suka, sebaik apapun Valdo didepannya Alan selalu saja merasa tersaingi. Ia melemparkan kemoceng berukuran panjang itu kesembarang arah, menduduki lantai dengan frustasi dan sedikit mengacak rambutnya

"Lo kenapa sih? Gila ya lo, kalo itu bulu-bulu ilang entar pak Yoga marah lagi"

Dengan sedikit paksaan, Satria memungutnya dan memberikannya kembali pada Alan yang masih diam. "Gue kalah saing Sat!!"

"Kalah apaan sih maksud lo?"

Pertanyaan Satria membuat Alan semakin membungkam mulutnya, dengan energi yang masih tersedia membuatnya sedikit berdiri dan kembali melanjutkan hukumannya.




Jngn kupa vot N komen ya...
Semoga suka dan betah nunggu cerita selanjutnya:)

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 26, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

AYLAN StoryWhere stories live. Discover now