***
Ini adalah awal dari cerita panjang yang untuk pertama kalinya berani aku pub. Ohiya sebelum kita lanjut nih, aku mau ngingetin klean satu hal. Kalau ini cerita tuh punya setting waktu ga cuman satu yaa. Semoga tidak membingungkan dan tidak membosankan😀
Happy reading😍
***
Seorang pria 30an memeluk arsip tebal di dadanya. Sedang pria lain yang nampak kekar dan besar mengejarnya geram. Keduanya kini berada di sebuah padang savana yang cukup luas. Ilalang telah dibiarkan tumbuh setinggi dada orang dewasa, menandakan tanah ini telah lama tak terurus. Tepat di tengah-tengahnya, ada sebuah pondok kecil yang bagaikan pulau di tengah lautan ilalang.
Keringat mengucur semakin deras. Pria 30an berlari semakin kencang. Tak menghiraukan puluhan goresan luka di kakinya.
“Buk!”
Ia terjatuh.
Pria lain di belakang tersenyum puas. Ia lalu mendekat, mengangkat, dan menggendongnya di bahu kekarnya.
***
2005
Seorang gadis kecil mengenakan gaun biru selutut menghampir pria dewasa yang berdiri di halaman rumah dengan senyuman yang merekah.
“Ayah darimana aja? Aletta kangen ayah tau.” Sang gadis merengek manja. Ia memeluk ayahnya erat.
Seminggu ini, ia memang sangat jarang berjumpa dengan keluarganya. Sebab, ia tengah diberi misi penting oleh atasannya.
“Mas Pram, masuk dulu yuk. Makan siang. Daritadi Aletta nggak mau makan. Katanya mau nungguin ayahnya pulang.” Seorang wanita yang berdiri di belakang Aletta ikut berbicara.
“Ibu tuh. Aletta kan masih mau kangen-kangenan sama ayah,” rengek sang gadis.
“Sekarang Aletta makan dulu. Ayah juga laper tau.”
“Tapi Aletta masih kangen ayah.” Elina, sang ibu, hanya menggeleng melihat tingkah manja puteri semata wayangnya.
Pramudana berjongkok menyejajarkan posisinya dengan Aletta.
“Ayah dinasnya kurang tiga hari aja kok. Habis itu, ayah janji ajak Aletta jalan-jalan ke alun-alun.”
Mata Aletta berbinar. Selama ini ia sangat ingin melihat alun-alun dan toko-toko pernak Pernik di kota. Namun, karena rumahnya yang jauh di pedesaan tak memungkinkan baginya hanya pergi bersama sang ibu.
“Bener? Ayah janji?”
Pramudana tersenyum. Ia mengangkat kelingkingnya yang lalu disatukan dengan kelingking mungil Aletta.
Aletta berlarian kecil menuju ruang makan. Sedang ayah dan ibunya menghentikan langkah mereka di ambang pintu.
“Mas. Ibu minta kiriman uang. Bapak ngedrop lagi. Tabungan kita buat masukin Aletta sekolah udah kukirim ke ibu. Aletta sudah mau masuk sekolah, uangnya juga sudah harus dibayarkan. Kita gimana mas?” Elina berkisah pada suaminya perihal kondisi keuangan mereka yang semakin memburuk.
“Sabar ya, El. Sebentar lagi hidup kita pasti lebih baik. Kerjaanku udah hampir sampai puncak, El. Kamu harus sabar nunggu sebentar lagi.” Pramudana merangkul istrinya. Mencoba mentransfer kekuatan yang ia miliki untuk wanita yang sungguh ia cintai.
“Ayaah! Ibuu! Ayo makan! Aletta laper nihh!” Suara gadis kecil terdengar nyaring. Memecah suasana haru yang barusaja tercipta.
Pramudana dan Elina menyusul puterinya untuk makan bersama.
***
Jakarta, 2019
“Hari ini Partai Maju Jaya akan mengumumkan kandidat yang akan dijagokan di Pemilihan Walikota. Aderald Danindra ikut menjadi nama yang disebut-sebut menjadi salah satu yang akan diajukan. Seperti yang diketahui, Aderald Danindra adalah pemilik Danindra’s Royal’s Hotel, salah satu hotel ternama di Jakarta.”
“Wahh. Dia nyalonin juga? Manusia tuh emang gaada puasnya ya.”
“Semuanya tujuhbelas ribu lima ratus, Mba.”
“Eh iya. dia tu bukannya anak milyuner yang dulu ngetop itu yah? Si Danindra Wijaya. Gilaaa, kata bokap gue tuh si Danindra ini kaya nyaa minta ampun. Sampe punya pulau pribadi dimana-mana. Mana anaknya si opa Danindra ini lima biji jadi orang semua. Yang empat di luar negeri semua. Sempurna banget gasih keluarga mereka.”
“Semuanya tujuhbelas ribu lima ratus, Mba.”
“Eh iya-iya. sori, ya. Nih”
“Terimakasih. Selamat datang di Flowers Mart, nikmati belanja nyaman anda.”
Seorang gadis mengenakan seragam karyawan berwarna abu-abu menyapa setiap orang yang datang. Memang inilah tugasnya. Sampai mulutnya berbusa pun, ia tak akan digaji jika berhenti mengoceh. Kadang dia berpikir, mungkin mempekerjakan beo lebih bermanfaat daripada Sesil danDanu yang kerjaannya hanya berpacaran di gudang.
“Selamat datang di Flowers Mart..”
“Nikmati belanja nyaman, Anda.” Seorang lelaki berkaus oblong berwarna hitam meniru kalimat yang selalu gadis ini ucapkan untuk menyambur customer.
Ia tersenyum kepada sang kasir. Membuat siapapun yang melihat tertular ingin tersenyum juga. Senyumannya yang manis membuat siapapun betah berlama-lama memandangnya. Namun, tidak dengan gadis kasir yang tengah melingkarkan senyum yang tidak bisa dimaksudkan sebagai senyuman kebahagiaan. Senyuman itu hanya terbit saat customer tiba. Semacam, tuntutan profesi. Melihat senyuman lelaki manis ini pun, ia hanya tersenyum seperti biasa. Tak memandang sama sekali. Hanya satu titik yang selalu jadi pandangannya jika taka da yang mengajaknya berbicara, jam dinding di atas sana, yang berdampingan dengan sebuah televise 14 inch. Persis seperti robot.
Pria berkaus oblong tdi meninggalkan gadis kasir sembari menggelengkan kepala. Menuju almari kaca dimana botol berisi minuman dingin berada. Ia meraih salah satu dan segera membawanya ke kasir.
“Minum dulu. Lo bisa dehidrasi kalo ngomong seharian tanpa minum.” Ujar sang pria. “Gue Aksa.” Lanjutnya. Entah sudah berapa puluh kali ia mengatakan hal ini.
Sejak dua bulan terakhir, Aksa selalu datang setiap petang. Membeli minuman dingin untuk gadis kasir yang juga dingin. Setiap kali Aksa melakukan rutinitasnya ini, sang gadis kasir hanya memberikan senyuman robot andalannya.
Aksa adalah salah seorang penghuni apartemen Flower yang letaknya berhadapan dengan minimarket ini. Jadi, menyempatkan menengok gadis ini setiap petang bukanlah hal yang memberatkan.
Gadis kasir masih tersenyum. Aksa tidak akan beranjak jika minuman dingin itu dibiarkan terkunci segelnya. Tak peduli berapapun manusia yang mengantre di belakangnya.
“Mohon maaf, Mas. Ada orang lain yang ingin melakukan transaksi juga,” ucap gadis kasir datar namun masih dengan senyumannya.
Aksa bergeser. Membiarkan orang di belakangnya melakukan pembayaran. Sedang ia berdiri mematung menemani robot kasir.
Gadis kasir sungguh tak tahan lagi. Aksa benar-benar mengganggu. Ia menghela nafas lalu memasang tampang terjudes yang pernah ia buat. Membuka segel botol lalu menegaknya habis. Aksa tersenyum puas. Menunggui sampai ia membuka segel benar-benar ide yang bagus. Ia menang kali ini.
***
JE LEEST
Another Point
RomantiekSeorang pria 30an memeluk arsip tebal di dadanya. Sedang pria lain yang nampak kekar dan besar mengejarnya geram. Keduanya kini berada di sebuah padang savana yang cukup luas. Ilalang telah dibiarkan tumbuh setinggi dada orang dewasa, menandakan tan...
