HUJAN

75 16 4
                                        

Dari balik jendela, seorang gadis menatap nanar sepasang sejoli keluar dari rumah yang berada di seberang. Ia hanya tersenyum miris ketika menyadari dirinya tak akan pernah terlihat di mata lelaki yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil itu.

“Isya, kamu lagi liatin apa?” tanya Laras—bunda Daisya.

Daisya membalikkan kepalanya dan tersenyum manis pada bunda, “Nggak liatin apa-apa kok, Bun.” Secepat kilat, tangan Daisya menutup tirai jendela kamarnya.

Bunda hanya menggeleng dan berjalan mendekati jendela. Ia membuka sedikit tirai tersebut untuk melihat apa yang sedari tadi menarik perhatian anak semata wayangnya.

Bunda menghela napas dan menutup kembali tirai tersebut, “Kamu suka Nathan?”

Daisya menggeleng cepat. Ia tak mau Bundanya mengetahui bahwa ia menyimpan perasaan terhadap sahabat kecilnya.

“Baiklah. Tapi pesan Bunda jangan terlalu berharap  dengan apa yang kamu tau tak akan bisa diraih.”

Daisya mematung mendengar ucapan Bunda. Ia menatap punggung bunda hingga menghilang di balik pintu kamarnya.

Apakah bunda tau perasaanku?’ tanya Daisya dalam hati, ‘semoga tidak.’

Tak lama kemudian, hujan pun turun seakan mewakili luka yang telah mendiami hati Daisya. Ia menghela napas panjang lalu menulis kata demi kata yang menggambarkan isi hatinya dalam buku diary hitamnya.

Dear Lara

Telah berapa lama kau mendiami batinku? Belum puaskah dirimu melihat tetesan air mata keluar akibat ulahmu—Lara, yang seakan tak berkutit dari kalbu. Ku mohon akhiri semua sebelum rasa perlahan mati. 
{}


Jangan lupa vote dan komennya ditunggu ya.
Dukungan kalian sangat berarti untuk kelangsungan cerita ini.

COEURStories to obsess over. Discover now