Berubah sudah. Kehidupanku kembali menjadi hidup tanpa romansa. Di tahun kedua SMA-ku, tak ada lagi ketertarikan dalam diriku untuk merajut kisah cinta dengan gadis baru. Keseharianku hanya diisi dengan sekolah, have fun sama teman-teman, tidur di kelas, dan pulang. Pulang pun diisi dengan porsi seimbang antara belajar dan main game. Sama halnya dengan rutinitasku pada masa SMP. Persis sama.
Tiga tahun lalu, awal tahun 2014, aku duduk di kelas VIII. Dalam bahasa sederhananya, aku masih kelas 2 SMP, semester 2. Saat itu, kegiatanku di kelas ya kalau tidak mengobrol dengan Ahmad, teman sebangkuku, ya tidur. Kalau aku tidur, namaku yang ada di urutan pertama daftar hadir selalu disebutkan berulang kali tanpa guru-guru peduli akan kebiasaanku. Sebagai contoh,
"Adam Alfandy Syahputra!" sahut Pak Sigit, guru IPS-ku di SMP.
"Adam, Alfandy, Syahputra!" ulangnya.
"Woi, Dam, bangun 'ego...! Pak Sigit...!" bisik Ahmad seraya menepuk pundakku. Saat itulah aku terlepas dari alam mimpi dan kembali sadar, kemudian lantas mengangkat tangan kananku. "Hadir...!" seruku. Aku tahu kalau Pak Sigit langsung mengabsen setiap masuk kelas, menyebutkan nama yang terletak di paling atas daftar yaitu namaku. Mungkin sudah refleks. Ahmad berada di nomor absen dua, tepat setelahku. "Ahmad Ikhsan!" panggil Pak Sigit, bersamaan denganku membetulkan kacamataku. Kulihat Ahmad mengangkat tangan kanannya dengan segera, bagaikan kilat menyambar. "Hadir, Pak!" balasnya sebelum membuang napas panjang bersamaku. "...Untung aman. Pak Sigit, sih," bisikku pada Ahmad sebelum Pak Sigit kembali mengabsen. "Enak sih, punya nilai IPS bagus mulu," timpalnya.
Seru, memang. Namun, itu tidak ada heboh-hebohnya dibandingkan kegiatan gila yang kulakukan bersama sahabat-sahabatku. Sebagai contoh, aku pernah ngamen keliling koridor bersama teman. Kami menggotong gitar klasik—atribut wajib mata pelajaran seni musik, sambil bernyanyi ria. Pernah juga aku memainkan topeng Darth Maul yang kubawa untuk tugas drama di depan kelas bersama Ahmad yang menjadi seorang pengguna Lightsaber. Dan lain sebagainya, banyak kisah seru yang tertulis semasa SMP.
Akan tetapi, satu aspek yang menurutku kurang penting tidak ada pada diriku saat itu. Romansa. Kisah kasih. Cinta monyet. Apapun sebutannya, hal yang lumrah di SMPku saat itu belumlah terjadi padaku. Aku memiliki anggapan saat itu, 'Cinta-cintaan pas SMP itu percuma kalo gedenya nggak kawin'. Sebenarnya, aku juga malas 'menembak' gadis-gadis di sekolahku, pun tidak ada kutaruh ketertarikan kepada satupun cewek di sana. Sampai-sampai Ahmad bertanya padaku, "Lu kok gak nembak cewek, Dam? Gak sebel jomblo mulu?" yang langsung kubalas dengan membakar kalbunya, "Di sini gak ada yang gua demen samsek. Lagipula mestinya gua yang ngomong ke lu, Mad. Siapa yang lebih ngenes di sini?"
Suatu hari Jum'at yang menyenangkan, karena akhirnya aku akan bertemu dengan akhir pekan. Sepulang sekolah, Kanaya, sepupuku, tiba-tiba meneleponku. "Halo, Adam? Sabtu nanti aku mau ke tempat kamu buat syuting tugas. Di sana kan rumahnya gede, jadi tolong bilangin Tante ya kalo aku mau numpang. Aku berdua sama temen, ya!" ujarnya. "Oke, Nay. Ntar aku bilangin Ibu," jawabku sebelum panggilan terputus. Jum'at itu, sepulang sekolah, aku segera beberes rumah dengan ibuku. Kamar tamu yang terpenting, kemudian kamar-kamar lain juga ikut. Ibuku bertanya-tanya, "Penasaran, deh, Kanaya mau syuting buat tugas apaan," gumamnya. Selagi tersenyum melihat rumah hasil karya almarhum ayahku yang telah dirapikan, aku membalas ucapan ibuku, "Sama. Yang pasti sih buat film."
Keesokan harinya, datanglah Kanaya di depan rumahku. Sabtu pagi itu, sahutan "Assalamu'alaikum!" dari Kanaya terdengar dari kamar tidurku. Aku lantas turun, membukakan pintu depan dan muncullah dua orang perempuan berambut kecokelatan. Yang rambutnya panjang sudah pasti aku kenal karena dialah Kanaya. Sedangkan yang satunya lagi, rambutnya pendek sebahu. Sorot matanya tegas, tidak seperti Kanaya yang terkesan nyelo. "Permisi, aku masuk, ya." Tutur katanya, intonasinya, terdengar tenang, kaku, dan serius. Saat itu belum kukenal perempuan yang walaupun wataknya sangat bertolak belakang dengan Kanaya, dia adalah teman baik Kanaya. Ada saja orang yang se-serius itu, seolah-olah hidupnya harus dijalani dengan sempurna.
Heran.
BINABASA MO ANG
Atas
Teen FictionWaktu itu, awal tahun 2014, Adam Syahputra yang masih kelas 8 SMP, enggan bersentuhan dengan dunia romansa. Ia terlalu diasyikkan oleh kawan-kawannya, membawa pikiran bahwa pacaran itu merepotkan. Entah bagaimana, pikiran tersebut perlahan-lahan ber...
