Pernah denger cerita dalam diam? Lumayan banyak cerita seperti itu. Dimana si wanita hanya memendam perasaan itu sendiri, hanya mampu berharap sendiri, hanya bisa menahan rasa sakit itu sendiri, meski cemburupun tak bisa diungkapkan.
Dari awal cerita pasti diawali perkenalan dengan tokoh-tokohnya.
1. Callista Balqis Maharani / Rani, wanita yang anggun berparas Cantik bagaikan ratu balqis. Banyak digemari para kaum hawa di pondoknya.
Pondok Darul hikmah, yang dipimpin oleh Ust. Zefri Balqis albuchori dan Ustzh. Balqis Darratul Hikmah.
Memiliki 2 anak yaitu :
-ustd.Balqis Fayruz Zaman, anak pertama, usianya masih 20th masih muda dan belum menikah, namun sudah memiliki calon istri.
-ustdzh. Callista Balqis Maharani, anak kedua, usianya 17th masih tergolong anak remaja namun sikap dan prilakunya lah yang menampakan seperti orang dewasa, banyak yang mengaguminya namun ia acuhkan, toh ia pikir itu tidak penting. Ya kalo disapa dia jawab kalo tidak ya dia abaikan, namun ia juga tidak sombong. Ia ramah, lebih-lebih pada orang yang lebih tua darinya. Dia hanya gadis lugu dan polos.
2. Fayyola Chayra Nadhifa, putri yang memiliki pribadi yang baik dan hati yang tulus dan bersih. Salah satu sahabat Callista Balqis Maharani.
3. Khalida Chayra Khansa, aslinya baik, sangat baik. Namun ntah kenapa dan ada apa dia orang yang sulit ditebak dengan ekspresinya. Anaknya pendiam.
4. Makailah Jihan Fakhirah, salah satu orang yang sangat menyukai afnan secara terang-terangan. Tanpa rasa malu.
5. Afnan Husaen, Laki-laki yang berparas tampan namun tidak bisa dijelaskan.
6. Danish, sibijak laksana embun penyejuk. Awokawokawok😂
Orangnya ceria dan tidak sombong.
7. Dhabit, sibiang onar dan sang pembawa acara/ penggosip. Selalu ingat dengan segala masalah yang orang lain punya.
Baiklah cukup disini perkenalannya mari kita lanjut dengan singkat cerita.
♡♡♡
Seorang wanita anggun berjalan tergesa-gesa melewati setiap manzil khasabi atau pondok santri. Ia berjalan sambil menunduk. Banyak pasang mata yang memerhatikannya namun ia hiraukan. Sampai disebuah masjid yang ada dipondok Darul hikmah ini.
"Ran, Kowe nang endi biyen?(ran, kamu ini kemana aja sih? Lama banget)"
Tegur fayyola sahabat rani dengan kesal.
"nuwun yol, aku nggoleki karpet pandonga ora ditemokake (maaf yol, aku tadi nyari sajadah ga ketemu)" katanya sedih.
"dhuh Gusti, saiki ora nggawa karpet pandonga?( ya allah, sekarang gak bawa sajadah?)" Rani menggelengkan kepala sambil mengerucutkan bibirnya.
"banjur apa? apa sampeyan loro nggunakake mine? (terus gimana? apa berdua saja pakai punya ku?)" Ucap yola.
Ada seseorang menyodorkan sajadah dengan tiba-tiba. Rani dan yola melihat kearah orang yang menyodorkan sajadah lalu mereka saling tatap tak lama orang itu berucap "Pakai saja punyaku".
Yola melihatnya sedikit menyipitkan mata lalu mendekati rani "ambil saja ran dari pada kena hukuman" ucapnya berbisik.
"Tapi kan dia nanti..." balas rani berbisik. "gausah kelamaan ran ambil saja" potong yola dan mengambik sajadahnya dari tangan laki-laki itu.
Rani mencubit lengan yola pelan sambil berbisik " kamu ini apa-apaan si yol?" Geram. "Apanya yang apa-apaan si ran? Lagian kamu emang butuhkan? Udah lah" balas yola berbisik juga.
"Yasudah, saya kedalam dulu, permisi" ucapnya sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka.
Rani melihatnya kagum, "eh syukron ya nan" ucap yola sedikit teriak. Ia tak menghiraikannya. "Ayo ran masuk" ajak yola menarik tangan rani.
YOU ARE READING
Cinta diam-diam
Random"ayolah ran, itu pipi kamu udah merah gitu, serius deh" "is yola" sedikit geram pada yola. bersenandung ria mendengarkan musik menggunakan aerophonnya. Pikir ia 'besok gabisa digunain lagi takut kangen mending dihabisin sekarang' aneh memang. Mamah...
