Kring....kring...
Bunyi alaram pada jam walker kini mengema seisi kamar,menggangu gadis yang sedang tertidur pulas.
Dengan terpaksa gadis yang memiki nama anatasya aurella membuka kelopak matanya ,menerawang pada langit-langit kamar,dilihatnya jam di atas nakas menunjukan 6:00,segera ana membawa tubuh mungilnya beranjak dari tempat ternyaman menuju tempat menyeramkan yaitu kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama kini ana sudah rapih dengan seragam putih abu-abu yang melekat pada tubuh mungilnya,tidak lupa pula ana menguncir rambutnya dengan rapih,mengoleskan lipbam pada bibir pucatnya agar terlihat berwarna,ana tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.
"perfect ana" katanya sambil memamerkan deretan gigi putihnya dengan lesung pipi yang menghiasi serta memberi kesan bahwa ana memanglah gadis yang sempurna.
Ana segera turun melewati anak tangga untuk sampai tujuannya yaitu meja makan,ana menerawang matanya mencari sosok yang ingin di lihat pagi ini.
"pagi bunda" sapa ana pada wanita parubaya yang sedang menyajikan sarapan untuk anak sulungnya.
"pagi juga anak bunda" balas Elina yang merupakan bunda ana.
Elina menyuru ana untuk segera menyantap sarapan yang sudah di buatnya pagi tadi,agar ana tidak terlambat datang kesekolah.
pasalnya ana masih menjadi murid baru di sekolah SMA GARUDA baru satu minggu yang lalu ana mengikuti kegiatan masa orientasi siswa di sekolahnya,elina tidak mau membuat ana menjadi anak yang pemalas,oleh sebab itu elina selalu mengingatkan ana untuk tidak tidur berlarut malam agar tidak kesiangan untuk pergi kesekolah.
"bun ana berangkat ya"
"iya sayang kamu hati-hati ya" pesan sang bunda,ana langsung berdiri dari kursinya tidak lupa pula ana mencium pungung tangan sang bunda.
*****
"makasih mang aan,nanti jangan lupa jemput aku ya" ucap ana setelah sampai di gerbang sekolah,segera ana menutup pintu mobil dan melangkah masuk kehalaman sekolah.
Kaki jenjang ana terus membawa ana untuk cepat sampai pada tujuannya,sepanjang koridor ana tak henti-hentinya bersenandung kecil,sesekali ana melihat awan yang cerah seperti wajahnya saat ini.
Bruk..
"aduh..." rintih ana saat tubuhnya terhempas kelantai,dilihatnya tali sepatu yang kini sudah terlepas,lagi-lagi ana teluka karna kecerobohannya, bodoh sekali.
Tak henti-hentinya ana berucap serapah dalam hati atas kecerobohannya,saat sedang asik berkomat- kamit ana di buat mendadak susah bergerak bagaimana tidak sekarang ada Uluran tangan yang melayang di udara kini sontak membuat ana langsung mengalihkan pandangannya,di lihatnya laki-laki yang kini telah tersenyum hangat kearahnya,senyum yang begitu manis.
ana terlihat syok pada sosok laki-laki yang masih setia mengulurkan tanganya.
makhluk apa ini,kenapah begitu tampan? Tanya ana pada diri sendiri.
bukanya menerima uluran tangan itu alih-alih ana malah terlihat sedang mengamati wajah tampan laki-laki yang ada di hadapannya itu,sudah telihat jelas mata hitam pekatnya tak bergerak sama sekali.
Merasa tidak ada respon laki-laki itu memetik jarinya di depan wajah ana,segera ana sadar dari lamunannya dan menerima uluran tangan tersebut.
"ma..kasih...." ucap hanya sambil melirik name tage dan angka bet yang melekat pada seragam laki-laki tersebut.
"...ka arfian" lanjut ana sambil tersenyum hangat dan menghembuskan nafas pelan berharap rasa gugupnya sedikit berkurang.
Arfian prasetya nama laki-laki yang berada di hadapan ana,arfian sempat kaget darimanah gadis ini tau namanya,tapi setelah melihat pandangan mata ana tertuju pada name tagenya arfian berusaha acuh.
"Sama-sama,lain kali kalo iket tali sepatu yang keceng biar ga lepas,bahaya buat diri lo sendiri" pesan arfian sambil menatap mata ana.
"gue duluan ya,,,lain kali hati-hati" lanjutnya dan langsung meninggalkan ana yang sedang merasakan detak jantungnya bekerja lebih cepat.
Ana menghembuskan nafasnya kasar,segera ia berjongkok dan mengikat tali sepatunya yang tadi sempat terlepas.
"aku malu loh ,kenapah si kamu harus lepas gini"grutuk ana sebal pada benda mati yang sudah membuat dirinya malu.
Sudah merasa rapih dan aman ana segera melanjutkan perjalananya menuju kelas,tak henti-hentinya ana mengrutuki kebodohannya,kecerobohannya membawa malapetaka buat ana,sakitnya enggak seperapa tapi malunya itu loh,mau taro dimanah muka ana kalo sampai ketemu kakak kelas tampan itu.
Tak terasa kini ana sudah sampai pada tujuannya yaitu kelasnya,kericuhan terdengan ditelinga ana,segera ana masuk dan mendaratkan bokongnya di kursi tempat ia duduk.
"pagi ana,kusut amat muka lo" sapa arin yang merupakan teman sebangkunya ana sambil ikut duduk di samping ana.
"kenapah? Lo sakit?" tanya arin penasaran melihat keanehan pada raut muka ana.
"gara-gara tali sepatu lepas,gue jatoh" ucap ana sambil memasang raut bete,sesekali ana menghembuskan nafas kasar.
"ck! Dasar ceroboh" ledek arin
"udah si engga usah bete gituh,muka lo makin jelek" arin masih melanjutkan ledekannya pada ana,ana hanya memutar bola matanya malas.
"gue malu rin,tadi ada cowo kaka kelas yang nolongin gue jatoh" jelas ana sambil menatap arin yang sedang tertawa,mendapat penjelasan tak masuk akal arin memasang muka bingung.
"di tolongin ko malu,yang ada lo bersyukur ada yang mau nolong lo"ucap arin sambil sesekali menatap ana yang juga menatapnya.
"ini tuh beda,yang nolongin gue kaka kelas,ganteng lagi" sahut ana sambil mengatikan posisi duduknya menyamping kearah arin.
"kaka kelas? Ganteng? Siapa namnya?" tanya arin kepo sambil menghadap ke ana juga persis berposisi seperti ana
"hooh,namanya arfian" jawab ana enteng.
"ohh... Kaarfian,,,,WHAT KA ARFIAN!!" teriak arin histeris ketika sadar dengan nama yang di sebut ana.
Segera ana menutup mulut merconnya arin,semua yang ada di kelas menatap ana dan arin heran.
"berisik lo rin,,bacot lo jaga!" kesel ana dan langsung meluruskan duduknya,malas berhadapan dengan arin yang tidak mau menjaga omonganya,selalu seperti itu tiap kali ana bercerita.
"yaa maap an,khilaf gue" cengir arin sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"eh,,tapi beneran yang nolongin lo tadi kaarfian?" tanya arin memastikan,ana hanya membalas dengan anggukan.
"lo tau engga si,kaarfian itu,,,,,,,
"Selamat pagi anak-anak,sudah siap belajar hari ini" sapa bu indah guru matematika sambil tersenyum manis.
"kita lanjut nanti ya an" ucap arin santai.
*****
YOU ARE READING
Rasa Yang Berbeda
General Fiction"Kita bukan lagi kata,tapi hanya sebatas cerita yang berakhir kecewa" ~Ana~
