"Parad?" Hiiro mengernyit, merasa heran saat Parad memaksa untuk bertemu dengannya. "Kata Emu, kau ada turnamen game hari ini. Lalu, kenapa menemuiku?" Tanya Hiiro.
"Itu benar. Hanya saja, ada yang ingin aku berikan padamu, Hiiro-san." Parad menjulurkan selembar kertas pada Hiiro.
"Buka dan lihatlah."
Hiiro memandangi kertas yang terlipat itu dengan bingung. Atensinya ia arahkan kembali pada Parad.
"Hiiro-san akan tahu setelah membukanya." Parad memperhatikan raut wajah Hiiro yang mengerut. "Kalau begitu, aku permisi dulu, Hiiro-san. Aku tidak mau terlambat untuk turnamen game-ku." Ujar Parad, seraya membungkukkan badan.
Hiiro memperhatikan kepergian Parad dalam diam. Kertas yang ada di tangan, ia buka secara perlahan. Begitu melihat secara ke seluruhan, tubuh Hiiro menegang sesaat. Ekspresi wajahnya sulit untuk ditebak. Yang jelas, Hiiro sungguh terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini.
***
"Coba jelaskan padaku, apa maksud dari kertas bergambar diriku ini."
Hiiro tidak membuang waktu untuk menanyakan hal yang dari tadi membuatnya penasaran. Selembar kertas yang terlipat - yang tadi diberikan oleh Parad padanya - itu merupakan gambar dirinya yang digambar oleh sang dokter pediatrik itu sendiri. Di dalamnya terlihat, gambaran dirinya yang sedang tersenyum saat menikmati cake kesukaannya.
Itu bukan hal yang terlalu membuatnya penasaran. Hanya saja, tulisan yang berada di sudut paling bawah gambar - yang ditulis dengan tinta hitam itu - bertuliskan sesuatu yang membuat Hiiro terkejut tadi.
EMU ♡ HIIRO!
Emu yang baru saja menyeruput kopi hangatnya dan menaruh kembali cangkir di meja, tersentak kaget. Mata itu terlihat membelalak, dengan mulut yang terbuka lebar. Wajahnya juga terlihat memucat.
"Hi-Hiiro-san, bagaimana bi-bisa ..." Ujar Emu pelan, suaranya tergagap. Iris kecokelatan itu menatap pada kertas yang ia gambar sendiri dengan perasaan cemas.
Tidak ada yang tahu tentang gambar itu selain ...
"Parad yang memberikannya padaku." Ucap Hiiro, seakan tahu isi pikiran Emu. "Aku ingin tahu maksud dari gambar dan tulisan ini, Emu!" Hiiro sedikit memaksa.
Apa, sih, yang Parad pikirkan?
"Emu, aku yakin kau belum tuli untuk mengabaikan ucapanku tadi!" Hiiro berkata ketus. Ia butuh penjelasan sekarang juga. Tetapi, Emu malah terlihat melamun dan terkesan mengabaikannya. Hiiro tidak suka itu. "Jawab, Emu!" Tuntut Hiiro lagi.
Emu menggigit bibir bawahnya, lalu perlahan memberanikan diri menatap pada Hiiro yang juga sedang menatapnya. Ada rasa terbakar yang menjalar di wajahnya, membuatnya merona.
"Itu adalah gambar dari Hiiro-san." Emu memulai. "Aku menggambarnya karena teringat saat aku melihat Hiiro-san yang tersenyum ketika menikmati cake kesukaanmu itu. Jadi, aku menggambarnya sambil membayangkan momen itu kembali."
"Hiiro-san sangat jarang mengulas senyum. Makanya, aku berinisiatif menggambarnya." Lanjut Emu lagi.
"Begitu." Hiiro berdehem. "Lalu, maksud tulisan ini, apa?" Hiiro masih butuh sedikit penjelasan lagi dari Emu.
Debaran jantungnya menggila. Wajah Emu telah memerah hingga ke telinga. Itu merupakan hal yang paling membuat Emu panik saat ini. Ia sungguh malu jika harus mengatakan maksud dari tulisannya itu.
"Emu, apa kau menyukaiku?" Tebak Hiiro langsung. Sorot mata itu begitu serius.
Emu semakin sulit untuk berkata-kata. Tubuhnya berkeringat dingin, dengan perasaan malu yang semakin membuncah. Tulisan itu terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.
YOU ARE READING
Confession
FanfictionHanya cerita pendek tentang Kamen Rider Ex-Aid, Khususnya (Hiiro x Emu) Emu Houjou yang memberanikan diri untuk mengakui tentang perasaanya pada Kagami Hiiro. [Kamen Rider Ex-Aid By TOEI] [Two Shot By Marvasha] [Cover by Tumgir.com] [Boys Love] [AU]
