Prolog

3.1K 173 10
                                        


Dua garis itu tampak begitu nyata dan mengerikan. Ini serius, memang terlihat seperti adegan di televisi dan novel-novel. Namun, ada dua jenis reaksi di situasi seperti ini. Pertama, si perempuan bahagia, atau yang kedua si perempuan tidak bisa menerimanya. Dan yang lebih dramatis lagi, aku berada pada posisi kedua. Jelaskan padaku bagian mana yang bisa membuatku bahagia menerima hal ini disaat aku bahkan belum menikah? Yang kurasakan saat ini hanya suram, bingung harus berbuat apa. Yang ada di otakku hanya memikirkan bagaimana caranya keluar dari kegelapan ini. Aku takut, jujur saja. Bahkan sekarang jantungku tidak bisa mengatur detaknya sendiri. Aku merasa seperti hilang arah dan berada ruangan yang begitu hampa. Aku takut.

Hingga tak terasa air mata berlomba-lomba keluar dari mataku seperti ingin terbebas dari hal mengerikan ini. Perlahan, dadaku mulai sesak. Aku kesulitan mengambil napas. Yang kulakukan hanya menahan jeritan ini. Ingin menunjukkan pada sesuatu yang ada di perutku kalau aku tidak akan tumbang hanya karena kehadirannya yang seolah merenggut kebahagiaanku. Namun itu terasa sulit, semakin aku berusaha, sesuatu di perutku seakan mengejekku dan pada akhirnya merobohkan pertahananku. Aku menangis sejadi-jadinya. Menjerit berharap aku hilang dari dunia ini. Ah tidak, atau dia yang hilang dari perutku.

Aku bukan wanita yang tidak ingin memiliki keturunan, hanya saja kehadirannya terlalu cepat. Ini membuatku gila, tidak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi kenyataannya sejak aku melihat dua garis itu aku selalu menyumpahinya. Dia salah karena ada di perutku, tapi dia juga menamparku dengan kenyataan bahwa dia tidak akan ada kalau saja aku tidak melakukannya.

Saat tenggorokanku mulai terasa sakit dan suaraku nyaris hilang, aku mulai berhenti berteriak. Namun keinginan untuk menangis itu masih terlalu kuat. Tubuhku menggigil, air yang turun menimpa tubuhku mulai terasa semakin dingin. Aku tahu tubuhku tidak bisa lagi menerima semua siksaan ini. Aku hanya bisa duduk menangis di bawah guyuran air. Menyedihkan sekali, ini adalah adegan yang selalu kucemooh. Menganggap perempuan dalam tv atau novel itu bodoh dan berlebihan, namun ternyata rasanya memang sesakit itu, bahkan lebih menyiksa. Dan aku lebih bodoh dari mereka.

Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini. Berpura-pura tak terjadi apapun, lalu membuangnya diam-diam? Tapi aku tidak sekejam itu. Jika dia pergi, akupun harus ikut dengannya, bukan? Paling tidak itu adil untuknya. Tapi aku juga tidak seberani itu, aku tidak tahu apakah kehidupan setelah mati akan lebih baik. Mungkin itu baik bagi mereka yang mati karena memang sudah waktunya, apa itu berlaku bagi dia yang bunuh diri? Ditambah bunuh diri karena hamil sebelum waktunya? Aku rasa itu bukan hal yang bisa dijadikan pilihan. Tapi sungguh, aku tidak tahu harus melakukan apa.

Aku pun menunduk dan menatapnya, perutku yang sama sekali tidak terlihat ada kehidupan disana. Mungkin aku bisa menahan ini untuk beberapa saat. Tapi setelahnya aku pun tidak yakin apa aku akan sekuat itu. Ini terlalu mengerikan, jantungku seperti mendapat kejutan listrik dengan tegangan tinggi. Bisakah aku menguji siapa yang lebih kuat disini, aku atau dia. Jika aku yang lebih kuat, mungkin dia yang akan tersingkir. Tapi jika dia yang lebih kuat, aku akan coba mengizinkan dia untuk tumbuh di perutku, lalu bagaimana selanjutnya? Apa aku akan merawatnya? Aku pun tidak tahu. Tapi bagaimana jika tidak ada yang lebih kuat diantara kami? Semuanya selesai, kehidupan aku dan dia, berakhir.

__________

Melenceng dari rencana awal. Mungkin kalo kalian baca dulu deskripsi cerita, pasti tau kalo ini ceritanya Bella. Dan kalo kalian ada yang baca KISSELLE sebelum revisi, pasti tau cerita Bella yang ini loncat jauh banget dari cerita yang awal aku post.

Nikmati dulu aja cerita ini, kalo gak nikmat ya udah gpp mungkin halu-nya kita beda. Halu-ku ya gini. :v

COBA AGAK DIKOMEN SEDIKIT!

Jika ada kesalahan atau hal yang tidak bisa diterima, mohon proteslah dengan baik-baik. Karena saya hanya manusia biasa yang tidak bisa jauh dari kesalahan.

15 April 2020

Titik RasaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora