[Belum Direvisi] Semenjak cinta pertama yang mendorongnya dengan paksa untuk kembali, hidup Hayoung tidak pernah tenang. Gadis itu langsung pergi ke Amerika untuk menyusul Jungkook setelah satu tahun lebih tidak bertemu.
Memiliki rencana matang sup...
15+ Buku ini mengandung konten kekerasan, bahasa kasar, etc. Mohon kebijaksanaannya ketika hendak membaca.
Buku ini hanyalah fiksi semata. Karakter yang digunakan hanya sebagai pendukung imajinasi ✨
original story by :
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
status : Completed
support this by vote and comment
***
Ia menggigil kedinginan. Penghangat ruangan mati dan rumah kecil yang ditempati jelas tidak menjamin. Hujan yang mengguyur begitu deras menciptakan tetesan air yang merembes melalui atap. Suasana makin kelam tatkala pintu terbuka dengan keras hingga membuat anak laki-laki yang sedang bergelung dengan selimut itu terlonjak kaget. Buru-buru ia bangkit dari sofa dan melongok ke arah pintu depan. Terlihat seorang wanita paruh baya mendekat ke arahnya dengan cekatan.
" Dengar, Nak. Hak asuhmu akan jatuh ke tangan Paman. "
" Ibu mau kemana? Kenapa ibu ketakutan? "
" Ibu harus pergi. Istana meminta ibu. Kau harus ikut Paman. "
" Kata ibu, ibu akan mengajakku tinggal di istana dan menjadi pa—"
" Dengar, " Suara wanita paruh baya itu mengeras. " Semua tidak sama lagi. Kau harus kuat dan tumbuh dengan baik. Lalu kau bisa pergi ke istana konyol itu dengan mudah, Nak. "
" A-apa yang terjadi? " tanya anak laki-laki itu, menahan tangis.
" Ayo cepat ki—"
Bam!
" Bu? Apa itu? "
" Sembunyi! Sembunyi sekarang juga! " bisik wanita itu sambil memegang kepala sang anak lalu memaksanya sembunyi dibawah meja.
" Bu? "
Wanita itu bergegas pergi dan tak menghiraukan anaknya yang menggigil ketakutan. Anak lelaki itu duduk di bawah meja sambil memeluk lututnya erat. Yang bisa ia dengar hanya suara perdebatan yang keras diikuti debaman pintu. Sejak saat itu, ia tidak pernah melihat ibunya lagi.
Semuanya terjadi dengan cepat. Tiba-tiba datang berita pemakaman. Anak lelaki itu harus datang dibalik punggung pamannya. Mereka memakai baju hitam. Berduka, ya berduka. Tapi kenapa dia tidak merasa begitu terpuruk? Kenapa ia tidak menangis keras seperti bibinya—istri dari pamannya itu?
" Hei, kau tidak apa-apa? "
Gadis kecil itu bertanya dengan mata bulat cemerlang. Entah sejak kapan dia datang. Lelaki itu mundur sedikit ke balik tubuh sang paman. Kenapa ada gadis dengan gaun cemerlang di pemakaman ibunya? Dan kenapa ia disuruh diam? Kenapa ia tidak boleh mengungkap identitasnya?
" Tuan Puteri, maaf dia sedikit pemalu. Sebaiknya Tuan Puteri bergabung dengan anggota kerajaan yang lain. "
" Eoh, begitu? Jangan sedih ya. Bibimu pasti sayang padamu. " balas gadis itu sambil tersenyum hangat. " Ini, aku ada permen. Dulu sewaktu ibuku meninggal, aku diberi permen. Katanya biar tidak sedih. "
Anak lelaki itu hanya diam dan menerimanya. Kemudian gadis itu pergi menuju anggota kerajaan yang sudah naik kereta—hendak kembali ke istana. Ia menatap permen itu dalam diam. Ah, baru kali ini ada yang memberikan permen padanya. Dan itu manis sekali.
Tapi senyumannya perlahan luntur. Yang meninggal itu bukan bibinya. Tetapi ibunya.
Ah, tidak apa-apa. Mungkin ia memang ada harapan lain. Ya, gadis itu harapannya. []
Why you? Because you're the one who looked at me without pity.
di book 2 ini juga akan mengungkap bagaimana Jeon Jungkook bisa melakukan semua hal nekad di book 1
yang selama ini kalian sangka itu hal tak masuk akal dan gila, memiliki alasan dibaliknya