Aku Tahu, Berharap Tak Baik

38 4 0
                                        


Malam ini bintang masih menghiasi langit yang nampak masih setia dengan sedihnya hati seorang pemuda. Pemuda yang diam-diam menaruh hatinya pada wanita yang entah kemana membawa jiwanya pergi. Anggun, ya begitulah sosok itu mengingatnya. Wajahnya yang teduh masih sangat terngiang dalam benaknya. Entah apa yang membuat ia yakin bahwa wanita itu akan kembali pada dirinya.

Jalan masih sangat sepi. Kendaraan seolah tenggelam dengan rindu yang kian semakin dalam. Tak tahu kemana arah datangnya. Suara langkah saja yang menghiasi jalanan yang sangat tenang bagi hati yang kian mati. Melangkah hingga sampai pada tempat yang ingin dituju. Seperti nama yang kian terngiang dalam memori. Memenuhi ruang sukma tanpa ada jeda sedikitpun.

Jam 08.00 aku telah sampai di kampus. Kampus impian dari semasa sekolah. Inginku raih cita-cita setelah lulus dari kampus ini. Membahagiakan kedua orang tua. Mimpi yang masih sangat polos bagi aku semasa menjadi mahasiswa baru. “Ton, elo sudah dapat kabar dari Ali belum, katanya si Ayu bakal ngajar juga di kampus ini sebagai dosen loh,” ujar Akbar dengan rangkulan dipundakku. Aku hanya mendengar ocehan dia. Rasanya aku masih enggan berucap dari masa lalu. Aku berjalan meninggalkan Akbar seorang diri dengan teriakan khasnya yang sudah aku hapal dari zaman maba. Ya, dia Akbar seseorang yang aku kenal merantau dari kampung tuk mimpinya. Sama dengan aku, pemuda dengan segudang ambisi besar dalam hidupnya. Akbar sudah berkeluarga sama dengan Ali sahabatku juga. Sisa aku yang masih membujang.

Kini aku sudah sampai di hadapan mahasiswaku. Kini aku mengajar sebagai dosen muda. Ya, umurku baru 23 tahun. Masih sangat muda untuk kriteria calon suami kata Akbar yang aku hapal diluar kepala. Aku mengajar ilmu biologi. Ya salah satu cabang ilmu IPA yang aku suka. Sorak-sorak mahasiswaku kembali menggelegar ketika kulangkahkan kaki di kelasnya.

“Selamat pagi, saya mulai mengabsen terlebih dahulu ya,” ucapku tuk memulai kelas.

“Kita kuis ya tuk hari ini, biar tidak riuh terus kelasnya, saya malas mendengar ocehan kalian semua,” ucapku kembali agar perasaanku tenang setelah mendengar kabar Ayu. Wanita yang pernah membuatku merasakan getaran aneh yang sampai saat ini aku masih bingun apa yang aku rasakan. Kutampilkan slide soal di papan agar mahasiswaku tidak perlu lagi mencatat soalnya. Itulah aku sebagai dosen tak terlalu mempersulit mahasiswa. Aku ingin mahasiswaku tak pernah mengeluh saat aku mengajar. Waktu berjalan cepat. Kelas  telah usai. Kini kutinggalkan kelas dengan menenteng laptop. Tak perlu bersusah payah membawa tumpukan kertas mahasiswa karena kuisnya langsung masuk ke data laptop. Kuis mahasiswaku secara online. Itulah aku, tipe orang yang tidak terlalu sulit. Tapi mahasiswa tidak bisa mencari jawaban di internet karena aku  membuat soal itu dengan sumber buku yang aku jamin mahasiswaku tak bakal sanggup menyontek. Setiap aku mengajar mahasiswa, mahasiwa harus benar-benar fokus belajar agar semua bisa lulus di mata kuliahku.

Langkah demi langkah aku berjalan kembali ke parkiran. Aku akan kembali ke rumah, lebih tepatnya kontrakan yang aku sewa di daerah perkampungan.  Uang hasil mengajar aku peruntukkan tuk kedua orang tuaku di kampung. Setiap  sekali sebulan aku akan pulkam tuk melihat kondisi orang tua yang tinggal bersama adikku yang kuliah di kampung. Aku melarangnya buat mengejar mimpinya di ibu kota sama dengan aku. Walaupun kutahu adikku itu lebih jenius dibanding aku abangnya. Namanya Indah, dia tahu kisah asmaraku bersama Ayu, tapi dia memang adikku yang kalem bahkan dingin tuk ingin kepo dengan urusan asmara.

Kurebahkan badanku di kasur, menatap langit-langit kamar yang sudah lama aku tinggali. Aku menyukai suasana ini walaupun aku mampu membeli rumah tapi aku tidak ingin sebelum semua kebutuhan keluargaku tercukupi. Mengenai asmaraku, aku masih tetap jalan ditempat. Tak pernah ada kemajuan yang aku lakukan tuk menemui secercah harapan. Aku yakin Allah punya rencana mengenai semua yang aku rasakan.

Nada dering Hpku kembali bersuara menandakan ada pesan yang masuk. Kutatap lekat-lekat siapa pengirimnya. Ya, degupan jantungku masih tetap sama dengan apa yang aku rasakan sampai saat ini, ya, ia adalah wanita itu. Wanita yang telah membawa ragaku sebagian pada rindu yang entah kepada siapa aku menuntaskannya. Ayu Maulida namanya, ia merupakan mahasiswi berprestasi semasa kuliah. Namun, aku setingkat lebih dari dia. Aku mengabaikan pesannya, tak bermaksud tuk memberikan harapan. Aku yakin, saat Allah berkehendak mungkin suatu saat nanti aku akan meminangnya. Tapi, tuk saat ini aku masih ingin sendiri. Kupejamkan mata sesaat agar aku bisa melupakannya sejenak.

***


Esoknya aku kembali bekerja paruh waktu, banyak yang tidak tahu aku memiliki kerjaan sampingan. Aku bekerja menjadi pelayan cafe. Rasanya miris terdengar seorang dosen yang menjadi pelayan. Aku tak malu karena aku sudah lama bekerja di cafe. Bukan tanpa alasan aku memilih pekerjaan ini. Karena bosnya memberikan aku kesempatan kerja hanya pada waktu malam saja. Dua tahun aku bekerja di cafe tersebut. Uang yang aku dapat aku peruntukkan tuk anak-anak yang aku bina sepulang mengajar di kampus. Untuk kedua orang tuaku saja tidak tahu apa yang aku kerjakan selama ini. Beliau hanya tahu aku bekerja sebagai dosen.

Mataku tiba-tiba  terasa ingin memuntahkan laharnya. Aku terasa ingin menahan semua amarahku. Aku memang sangat lambat dan terlalu berharap banyak ke sosok itu. Rasanya aku memang benar-benar bodoh jika harus menantinya sampai saat ini. Kulangkahkan kaki menuju mejanya bersama anak dan suaminya. Aku tersenyum seakan aku tak pernah bersedih mengetahui fakta yang baru saja memporak porandakan akal sehatku. Matanya menatap tajam mataku, namun aku hanya membalas dengan senyuman paling tulus. Suaminya juga ikut tersenyum. Mereka memesan makanan paling spesial di cafe ini. Aku telah mencatat semua pesanannya. Dan aku meminta permisi tuk meninggalkan keluarga itu.

Aku berjalan dengan membawa catatan menu yang dipesan  tanpa menunduk tuk membawanya ke chef. Kulihat tuk terakhir kalinya ia menyungginkan senyuman.

Aku bersandar pada dinding toilet dan kagetnya aku bertemu ia kembali dari arah balik toilet dan dia menyapaku. Aku hanya bisa tersenyum paksa.

“Anton, maafkan diriku jika selama ini aku membuatmu berusaha keras, sekali lagi maaf,” ujarnya dengan tatapan yang sulit aku artikan apa maksudnya.

“Tak masalah ... Ayu, mungkin aku yang terlalu berharap banyak. Tapi aku bukan pria yang selalu memberikan harapan kepada wanita. Aku hanya pemuda yang akan memilih jalan yang lurus tanpa harus menyakiti.” Ucapku dengan senyuman. Aku meninggalkan Ayu yang hanya bengon dengan ucapanku.

Aku sadar salah meletakkan rasa ini sampai membuatku begini. Sakit, ya, rasanya sakit tapi  kusadari mungkin ini cara Allah menguji. Dan aku kembali  tahu, berharap tak baik. Ini kisahku tentang berharap, semoga doaku ... aku bisa melupakan dirimu Ayu.

 Tertanda pemuda dengan seribu diamnya di masa lalu.

Anton Nur Muhammad...

Dosen PelayanWhere stories live. Discover now