'Lah hujan, mana mau jalan ke kampus lagi' rutukku dalam hati. Beberapa rintik berjatuhan ria mengguyur tanah di depan kostan ku. Hari masih pagi, kelas akan dimulai beberapa menit kedepan. Mau tidak mau, aku harus bergegas sebelum hujan menyiram semua benda yang ada di bumi.
Ojol sudah tiba di depan pagar, aku bergegas agar tak kunjung basah. Di tengah perjalanan pikiranku jatuh pada hoodie yang tertinggal di dekat rak sepatu.
'huh'
Bergegas turun sembari menyerahkan helm juga ongkos. Berlarian kecil menuju ruang kelas, beruntung; kelas belum ramai. Pasti beberapa dari penduduk kelas memilih menunggu hujan reda atau bahkan melewati kelas hari ini sambil bergumul di dalam selimut. Cuaca seperti ini cocok sekali untuk melanjutkan tidur.
"Untung gak basah seluruhnya" seseorang bergumam di sebelahku.
"Hai" ujarnya saat tatapan kami bertemu sembari menyunggingkan senyuman konyol.
'Dih' seruku dalam hati diikuti raut wajahku yang terlihat aneh.
"Ambil matkul ini juga ya?"
"Enggak, aku ambil matkul lain terus nyasar kesini. Bego banget sih."
"Lah iye mba, selo atuh. Kecepetan ngegasnya baru aja ketemu"
'apaan sih' mataku menyorotkon rasa malas meladeni.
"Namaku Erik, kapan-kapan sok atuh nugas bareng." Tangan kuning langsat yang dililiti jam tangan hitam itu tepat berada di hadapanku.
"Iya, kita lihat nanti" tak kubalas uluran tangannya.
"Lho, nama kamu? Gak adil dong kalau cuma aku doang yang memperkenalkan diri."
"C A R I T A H U S E N D I R I" ejaku.
Aku bergegas pindah ke kursi kosong lainnya. Belum nyaman rasanya memperkenalkan diri dengan mudah kepada orang yang baru saja kutemui. Walaupun seangkatan, yang namanya asing akan tetap asing.
Kelas dimulai dengan omelan buk dosen yang meneliti banyak mahasiswa yang tidak masuk. Padahal, ini hari pertama aktif kuliah setelah libur panjang.
Kutarik ujung kerudungku dan merapikan letak kacamataku.
"Difka Paradina!"
"Saya buk"
Benar, itu namaku. Dihadiahkan oleh ayah tepat di hari kelahiranku.
Tukkk
Pesawat kertas mendarat di kepalaku. Wajahku celingak-celinguk mencari sumbernya. Mataku tertumbuk pada sosok Erik yang melambaikan tangan seolah-olah sedang meminta bantuan.
"Buka pesawatnya." Erik setengah berbisik.
Aku menghembuskan nafas panjang;
Difka Paradina, akhirnya aku tahu namamu. Pasti nama itu dihadiahkan oleh ayahmu pada hari lahirmu
Aku hanya menatapnya lalu mengalihkan lagi pandanganku.
40 menit waktu berjalan, kelas usai dan satu persatu meninggalkan kelas.
"Sampai bertemu lagi, Difka." seru Erik sambil melangkah keluar kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rasa
Fiksi PenggemarAkhirnya kata pulang itu menjadi nyata; kunci hati yang selama ini tenggelam berhasil ditemukan oleh seorang lelaki yang bersahaja. Rumah itu ada, tidak hilang tidak lekang. Alamatnya tepat di hati pemilik rasa
