Gemerlap Mencekam

54 2 0
                                        

Di sekolah itu semua murid berpakaian sopan dan rapi, kecuali satu anak. Ya, itulah aku. Aku memakai pakaian yang tak sepantasnya kupakai. Namun tak seorang pun yang memerdulikanku. Aku tak mempunyai teman.

Orangtuaku telah jauh dariku dan kini aku tak hidup bersama mereka. Mereka menghilang begitu saja. Ketika itu aku sedang bermain boneka di kamar. Saat aku memanggil ibuku, aku sempat heran karena tak terdengar jawaban. Aku tidak dapat menemukan mereka. Aku ketakutan dan trauma atas kejadian itu. Setiap hari aku hanya merenung dan menangis. Berharap suatu hari mereka akan kembali.

Beberapa hari setelah mereka menghilang, seseorang datang menemuiku.

    “Lathifah...” panggil seseorang.

    “Ibu Hana?” Aku terperanjak kaget.

    “Mulai sekarang kau tinggal di rumahku.”

    “Apa? Bagaimana dengan...” Aku menangis tersedu.

    “Sudah biarkan saja. Kau mau ikut denganku atau tidak? Kalau tidak rumahmu yang akan kusita.” Nada bicaranya meninggi. Ancaman itu membuatku semakin ketakutan.

    “B..baiklah,”

    Sepanjang perjalanan aku hanya menangis. Aku pasrah. Aku harus menghadapinya dan menjalani hidup baru. Aku juga harus tetap sekolah walaupun kenyataannya pahit. Sebenarnya, aku tak begitu mengenal dirinya. Yang kutahu, dia teman ayahku dulu. Entah mengapa tiba-tiba dia menyuruhku tinggal di rumahnya. Barangkali ia ingin memberiku kejutan? Ataukah ada orangtuaku di sana?

Rumahnya tak jauh dari rumahku. Di jalan aku terus berharap supaya aku bisa bertemu orangtuaku.

Ternyata dugaanku salah besar. Aku tak sekalipun melihat orangtuaku. Aku disuruh menempati gudang yang keadaannya tak layak. Selama di sana aku hanya merenung dan berharap bisa bertemu ayah ibuku.

Sampai saat ini aku masih diasuh Bu Hana. Ternyata ia tidak pernah memberi sedikit pun perhatian. Ia tak peduli hidupku. Sejak saat itu semua kebutuhanku tak terurus. Mau minta bagaimana, dia bukan orangtuaku.

Tak hanya itu, ia memanggilku dengan “Bubun”. Julukan yang aneh dan tak memiliki arti. Bu Hana memang sangat membenciku. Ya, aku tahu itu.

Suatu ketika aku pulang dari sekolah. Sesampainya di rumah, Bu Hana membawa sekantong plastik dan memberikannya padaku.

“Apa ini, Bu?” tanyaku.

“Ini apa? Inilah makanan untukmu. Tadi Ibu  makan di warung dan ini sisa makanan yang Ibu makan tadi. Makanlah!” ucap Bu Hana sembari meninggalkanku.

“Baiklah, terimakasih.” aku hanya menatap ‘sisa makanan’ itu tadi.

Untuk makan pun aku harus seperti itu. Selain meminta-minta, kadang aku berhutang kepada penjual makanan.

Suatu malam aku melihat ke luar jendela. Ayah, Ibu, maafkan aku telah menyusahkan kalian. Di manapun keberadaan kalian, maafkan aku. Aku berjanji, aku akan menjadi lebih baik.

Malam itu biasanya ibuku menemaniku belajar. Namun kali ini benar-benar menyakitkan. Semua buku pelajaranku diambil. Semua buku pelajaranku disita Bu Hana.

Selama ini aku masih duduk di bangku SMP. Sudah dua kali aku tidak naik kelas. Aku tertinggal jauh teman-temanku. Kebanyakan dari mereka telah sukses. Hilanglah semua harapanku. Guru dan teman-teman di sekolahku tak pernah mau memperdulikanku karena aku dianggap bodoh. Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah aku.

Mukena PutihStories to obsess over. Discover now