"Ngaa bun, kakak ga mau mesantren" ucap ku sambil menahan tangis.
"Rashka sayang, inikan demi kebaikan kamu, demi masa depan kamu nak" Jawab Ibuku, berharap aku tenang.
Namun tangisku tak tertahankan, air mataku mulai keluar, hingga pipiku kini terasa basah, karena tidak mau terlihat oleh orang lain, tangan ku sontak menghapusnya. Namun sayang, tanganku tak sanggup menahan tetes air mata yang terus mengalir, bingung karena malu aku pun menunduk agar yang lain tidak tahu. Tapi nahas, aku tak bisa menahan isak tangisku. Mungkin sekarang tangisanku terdengar oleh banyak orang. Tapi aku tidak peduli, aku terus menangis.
Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat itu, pikiranku kacau, aku takut, aku sedih, bimbang, semuanya tercampur aduk. Rasanya ingin sekali aku berlari kearah mobil, ingin sekali rasanya aku pulang lagi ke rumahku.
Berkali kali aku meminta kepada orang tuaku agar tidak masuk pesantren. aku ingin ikut pulang saja dengan mereka dan bersekolah biasa saja, supaya tak harus jauh dari mereka.
Lama sekali aku merengek, menangis agar mereka memprhatikanku dan membawaku kembali dengan mereka. Namun mereka tidak mengubrisku, tekad mereka untuk memasukan ku ke pesantren sudah bulat. Tidak peduli seberapa kencangnya aku menangis, mereka akan tetap memasukkanku ke pensantren. Dan keputusan mereka tidak akan berubah.
Akhirnya, lama kelamaan, tangisku perlahan lahan mulai berhenti, aku kini mulai sadar bahwa harapanku hilang. Kini aku sadar bahwa aku memang harus hidup di pesantren, harus hidup jauh dari kedua orangtua.
Isak tangisku pun berhenti, aku meneggakan tubuhku mulai membuka mataku dan menatap kedua orang tuaku.
Aku berfikir, aku kini harus hidup di pesantren kurang lebih tiga tahun, namun sepertinya tidak akan kuat jika aku harus hidup tiga tahun lamanya di pesantren. Berbagai macam cara aku cari agar bisa pulang dari sini, dari mulai kabur sendiri atau mogok makan, terserahlah apapun itu yang penting akau harus pulang. Namun dari banyaknya cara yang aku pikirkan ada satu cara yang mungkin akan berhasil, meskipun aku harus tinggal juga di pesantren setidaknya aku tidak perlu menghabiskan tiga tahun hidupku disana. Melaikan hanya satu minggu saja.
Aku pun langsung memberikan ide cemerlangku pada ibuku.
" Tapi bun, nanti minggu depan bunda harus kesini ya, biar nanti kalau kakak gak betah kakak bisa pulang kerumah " Akhirnya aku mengeluarkan salah satu ide ku sebagai bahan negosiasi terhadap ibuku.
Aku cemas, aku takut ibuku mencurigai rencanaku aku takut ibuku menolak ideku.
Namun ternyata ibuku setuju.
Dia tidak membantahku dan tidak sama sekali mencurigaiku, ibuku langsung menyetujui permintaanku.
"Iya deh, nanti minggu depan bunda kesini lagi, kalau nanti Rashka bener bener gak betah, nanti Rashka boleh pulang kerumah bareng ayah sama bunda".
Negosiasiku berhasil, aku mendapat persetujuan dari ibuku.
Aku senang, namun di sisi lain hatiku belum bisa menerima. Karena aku berfikir bahwa bertahan hidup di pesantren bukanlah hal yang mudah. Aku ini tidak terbiasa hidup sendiri, apalagi tinggal di Asrama. Terlalu menakutkan, pikirku, sedari kecil aku hidup bersama kedua orang tuaku, dari pagi hingga pagi, dari bangun hingga bangun kembali, dan semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh mereka, sampai sampai mencuci baju pun aku tidak bisa.
Aku bingung, mataku mulai berkaca kaca, isakku mulai terdengar, memikirkan semua itu aku tidak bisa menahan lagi, dan aku pun menagis lagi.
Kali ini lebih parah, tangisku mulai tersedu sedu, pikiranku tak karuan, membayangkan seminggu di pesantren sungguh menyeramkan.
