Cari-cari Kesempatan

53 4 2
                                    

Sejak pandangan pertama di kelas itu, aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Aku sering memikirkan sosok Pak Fadhil. Wajahnya yang tampan selalu terbayang-bayang. Selain itu aku juga menjadi sangat suka dengan pelajaran Matematika. Jadwal dua kali seminggu terasa sangat kurang. Alangkah senangnya kalau bisa belajar Matematika setiap hari. Tapi itu jelas tidak mungkin. Karena di SMP, mata pelajarannya banyak, dan setiap mata pelajaran diajar oleh guru yang berbeda.

Hari ini kelas ku tidak ada jadwal pelajaran Matematika. Itu artinya aku tidak bisa bertemu dengan Pak Fadhil. Kadang untuk bisa melihat Pak Fadhil, saat istirahat aku sengaja lewat di depan ruang majelis guru. Kebetuan meja Pak Fadhil berada di sudut yang menghadap tepat kearah pintu masuk.

Namun hari ini aku tidak perlu melakukannya. Karena Ibu Rifma guru Kesenian memintaku untuk mengambil bukunya yang tertinggal. Dengan senang hati aku melakukannya. Begitu sampai di depan ruangan guru, aku melihat Pak Fadhil sedang sibuk di mejanya. Tidak ada guru yang lain hanya beliau sendiri.

"Assalamualikum Pak" pak Fadhil mengangkat wajahnya begitu mendengar suara ku

" Waalaikumsalam, ada apa Zahra" tanya beliau ramah

"Saya mau ambil buku di meja Ibu Rifma Pak" jawabku malu-malu

" Oohh, silahkan" kemudian Pak Fadhil melanjutkan pekerjaannya. Aku mengambil buku di meja Bu Rifma. Sambil terus mencuri-curi pandang kearah Pak Fadhil. Bruuuk!, tubuhku menabrak meja. Pak Fadhil memandangku dengan keheranan " Maaf Pak, permisi" dengan malu ku tinggalkan ruangan guru. Walau perutku sedikit sakit karena menabrak meja, tapi itu tidak seberapa dibanding rasa senang bisa bertemu dengan guru tampan itu. 

RINDU UNTUK PAK GURUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang