"Anjing Gema!" teriak seorang gadis saat mendapati kekasihnya sedang berciuman dengan seorang wanita di sudut ruang kerjanya.
Teriakan itu membuat kedua orang yang sedang asik dengan permainannya mendecak kesal lalu menatap ke sumber suara.
Tatapan tajam Gema menusuk tepat ke dalam bola mata kekasihnya-Kiran-membuat gadis itu balas menatapnya dengan tatapan yang lebih tajam.
"Ngapain lo disini?" tanya pria itu sambil menjauhkan diri dari wanita bayarannya. Kiran tak menjawab pertanyaan Gema, ia malah berjalan mendekat ke arah wanita bayaran itu lalu menyeretnya keluar ruangan Gema. Gema yang melihatnya hanya memutar bola matanya lalu segera duduk di balik meja kerjanya.
"Belum puas lo?" tanya gadis itu sambil berjalan mendekat ke arah Gema.
Pria itu terkekeh mendengar pertanyaan Kiran. "Menurut lo?"
"Gila lo yah!" bentak gadis itu tak habis pikir.
"Kita udah mau nikah besok dan lo masih kayak gini? Otak lo di mana Gem!?" lanjut gadis itu, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan tindakan calon suaminya.
"Emang yang mau nikah sama lo siapa, huh?"
Gadis itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, ingin sekali ia menampar lelaki di depannya ini namun ia sedang tak ingin mengotori tangannya.
Ia memejamkan matanya beberapa detik lalu kembali membukanya, ia mengatur emosinya agar ia tak kelepasan dan tak membuat masalah yang lebih besar lagi.
Kiran terlihat menghembuskan nafasnya pelan, sebelum kembali menatap mata Gema yang sedari tadi sudah menatapnya. "Kalau bukan karena orang tua lo, gue juga ga bakal sudi buat nikah sama lo," ucap gadis itu penuh penekanan di tiap katanya.
"Ya udah, itu berarti resiko lo karena udah berutang budi sama orang tua gue," ujar pria itu dengan senyum tipis di akhir kalimatnya.
"Lo tau Gem, gue gak bisa nolak..." Mata Kiran tiba-tiba saja memanas. "Tapi lo bisa, lo bisa nolak pernikahan ini... Tapi kenapa lo gak nolak?" Liquid bening kini sudah membuat sungai di atas pipi Kiran.
Gema terlihat bergeming sebelum akhirnya berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah Kiran. Saat sampai di depan gadis itu tangan kanannya terulur ke wajah Kiran, namun gadis itu dengan sigap menepisnya.
"Kalau lo masih mau main-main dengan wanita-wanita bayaran lo itu, lepasin gue."
Gema menatap tangannya yang baru saja di tepis oleh Kiran, lalu mengepalkannya dengan kuat.
"Kiran, lo tau kan, gue gak pernah ngelepas orang yang udah masuk di dalam hidup gue sebelum gue bosan dan ngebuang dia layaknya sampah." Tangan pria itu bermain di rahang gadis itu.
"Kenapa gue? Kenapa harus gue? Gue sahabat lo dari SMA Gem! Kenapa lo sekarang mau ngehancurin hidup gue!" Gadis itu mulai mengeluarkan isakkan yang sedari tadi ia tahan.
Pria itu kembali terkekeh pelan. "Lo harusnya ga usah sok gak ngerti tentang masalah yang lo buat sampe kekasih gue mati Kir."
Pria itu memasang senyum manisnya di depan Kiran yang masih terisak. "Lani, kekasih yang sebentar lagi jadi calon istri gue harus mati karena keegoisan lo itu!" Gadis itu segera menggeleng tak setuju.
"Lo gak tau apa yang sebenarnya terjadi Gema, kematian Lani gak seperti yang lo pikirin-" Gema memotong kalimat Kiran menggunakan jari telunjuknya.
"Shht... Gue ga peduli cara dia mati gimana... yang gue tau sekarang dia udah ga ada dan lo yang bakal gantiin posisi dia."
¤¤¤
Kiran duduk dengan komputer di depannya di temani secangkir susu dan biskuit coklat kesukaannya, ia menatap kosong kedepan, menatap layar komputer yang sudah berlayar hitam sejak satu jam yang lalu. Pikiran gadis itu melayang kemana-mana.
Besok adalah hari pernikahannya, namun ia yang seharusnya bahagia malah terlihat sangat hancur sekarang. Gema, sahabatnya sejak awal masuk SMA kini menjadi calon suami yang sangat tidak diinginkannya. Sebuah kesalahpahaman menjerumuskannya ke dalam masalah besar, kematian Lani benar-benar di luar dugaan.
Mereka yang saat itu tengah asik berlibur malah harus dihadapkan dengan sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa gadis itu. Tak bisa dibayangkan seberapa hancurnya hati Kiran melihat sahabatnya mati di depan matanya, namun ketika takdir sudah berkata, apa yang manusia bisa perbuat?
Kecelakaan yang terjadi membuat kebocoran pada saluran bahan bakar mobil Kiran, baru saja Kiran ingin menarik tubuh Lani untuk keluar dari sana namun mobil itu sudah meledak duluan. Kiran terlempar sejauh beberapa meter dari mobil itu dan langsung pingsan seketika.
Ketika bangun kenyataan pahit harus ia terima ketika mendengar kematian Lani. Dan selanjutnya, kehidupannya berubah total ketika tunangan Lani—Gema— yang notabenenya sahabat Kiran juga, tidak terima akan kematian tunangannya itu.
Pria itu berubah 180°, pria yang dulunya sangat hangat dan manis di hadapan Kiran kini berubah menjadi pria jahat berhati dingin. Pria yang dulunya selalu mengusap lembut rambut Kiran kini tak segan melayangkan tangannya di pipi gadis itu. Pria yang dulunya selalu menghapus air mata Kiran kini menjadi salah satu faktor utama gadis itu menangis.
Satu minggu setelah kematian Lani, Gema datang menemui Kiran dan langsung memaksa untuk menikahi gadis itu. Tak menerima penolakan, pria itu kembali mengungkit jasa kedua orang tuanya yang telah menyekolahkan Kiran dari dulu sampai gadis itu tamat kuliah.
Kiran tak berkutik ketika orang tua Gema juga datang dan meminta Kiran untuk menikahi anak mereka itu. Kiran yang sangat menyayangi orang tua Gema sama sekali tak bisa menolak permintaan kedua orang tua itu.
Pernikahan mereka akan diadakan besok pagi, saat ini Kiran hanya berharap semoga ia bisa menghilang dari muka bumi dan lari dari semua masalah ini.
YOU ARE READING
G E M A
RandomCinta. Apa yang terbersit di otak kalian ketika mendengar kata cinta? Kasih sayang? Ketulusan? Pengorbanan? atau bahkan Rasa sakit? Satu kata beribu makna. Ada yang memaknainya positif dan ada juga yang memaknainya negatif. Jawaban sudah pasti relat...
