Prolog

23 3 0
                                        

"Kita udahan aja ya Mir." Ucapnya sambil menatap langit yang begitu cerah tanpa terhalang awan. Ucapannya tadi mampu meluluh lantakan hatinya. Bukan bahagia. Bukan sedih pula. Bisa saja pacarnya tersebut hanya bergurau kan? Dia tipe orang yang selalu bergurau tanpa kenal situasi. Dan mungkin ini salah satunya.

Tapi kenapa tak ada tawa setelahnya. Kenapa yang terlihat hanya tampang seriusnya yang jarang ia tunjukkan? Rasanya kelu ingin menanyakan keputusannya. Seolah yang di ucapkannya bukan sebuah lelucon. melainkan ia serius mengucapkannya.

Ia takut kenyataannya tak sesuai yang diharapkannya. ia takut kehilangan sosok laki-laki di sampingnya. Ia takut itu terjadi.

Pandangannya masih sama seperti ia mengucapkan kalimat tadi, menatap langit. Seolah-olah dirinya sedang memikirkan banyak hal. Rasanya sore ini ia kehilangan sosok yang ada pada kekasihnya tersebut. Lelaki yang di sampingnya seperti orang asing yang sangat asing dipandangannya.

"Kamu pernah bilang, diam biasanya jawabannya iya kan? aku anggap jawabanmu itu iya Mir"

Semudah itu dia menyimpulkannya. Bahwa diamnya saat ini bukan menyetujui keputusannya. Tatapan Mira tertunduk. Matanya sudah nampak berkaca-kaca.

"Yuk aku antar pulang." Ia menggenggam tangan yang mulai bergemetar menahan tangis. Setiap kata yang dilontarkannya tak pernah Mira jawab kecuali dengan anggukan.

"Mau langsung pulang atau cari makan dulu? biasanya adikmu suka minta yang manis-manis." ah dia masih saja ingat kebiasaan kita dulu. Sebelum pulang selalu begitu.

"Kamu sakit Mir? Kok pucat gini? atau belum makan?" Dengan nada khawatirnya membuatnya semakin sulit menerima kenyataan bahwa yang di depannya saat ini bukan lagi kekasihnya.

"Langsung pulang saja."
Mir masih saja menunduk, menahan agar air matanya tak jatuh. Dan Triyan melakukannya lagi. Membuatnya tak percaya lagi dan lagi.

"Kenapa nunduk terus, coba senyum." Tak lama sebuah helm terpasang sempurna. Dirinya dan Triyan berada pada jarak yang dekat untuk saat ini. Hingga parfum yang sangat familiar ia cium pun sungguh menusuk hidungnya.

Selama perjalanan pulang pun tak ada yang membuka suara. Lebih tepatnya Mira yang bungkam. Sesekali Triyan mengajaknya bicara tapi Mira seolah tak mendengarnya.

"Kita masih bisa bertemankan ya Mir?"
Senyum manisnya nampak tulus, mudah baginya mengucapkan itu. Kini Triyan nya hanya sebatas temannya.

Good Day with HimWhere stories live. Discover now