Kota Solo merupakan salah satu Kota di Indonesia yang sering juga disebut sebagai 'Kota Budaya'. Solo dikenal sebagai salah satu kota yang menjunjung tinggi budaya Jawa sebagai identitasnya. Masyarakat suku Jawa yang ulet dan ramah turut menjadi ciri khas kota ini. Solo juga memiliki banyak kekayaan budaya di setiap sudut wilayahnya, sebuah citra yang asing bagi masyarakat Sumatera seperti Fara ini.
Faranisa Mahzar namanya, seorang gadis berusia 18 tahun yang amat mencintai seni, kecintaannya dengan seni inilah yang membawanya ke Kota budaya ini. Solo menjadi destinasi studi bagi para anak rantau untuk menuntut ilmu sekaligus mengais pengalaman. Budaya di sini memang sangat kental dengan adat jawa, sebuah culture baru yang sempat membuat Fara kaget.
Orang-orang di kota ini memiliki cara berbeda ketika berbicara; lembut, pelan, dan aksen jawa yang kental. Berbeda dengan orang-orang Sumatera. Bukan hanya cara berbicara yang membuatnya kaget, cita rasa makanan di kota ini pun cukup membuat lidahnya terkejut. Rupanya ada banyak hal yang memerlukan adaptasi.
Di Kota ini Fara merantau untuk melanjutkan pendidikan tingginya, ia mengambil jurusan seni teater. Dengan statusnya sebagai perantau, Fara lebih memilih tinggal di sebuah asrama khusus perempuan bersama dua orang temannya ketimbang menyewa kos-kosan. Sebenarnya ia sedikit parno untuk menyewa kamar kos, ada banyak pikiran jahat di kepalanya. Takut jika kamar kosnya tidak aman, ada perampokan, kemalingan, atau bahkan hantu. Semuanya menjadi satu.
Kedua orang teman yang menjadi kamar satu asramanya juga berasal dari kota berbeda. Mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, mereka hanya menggunakan fasilitas media sosial untuk berkomunikasi satu sama lain. Hal ini umum terjadi bagi mahasiswa baru, karena inilah cara termuda bagi mereka untuk mendapatkan teman.
Mereka menempati kamar asrama yang sama, kamar mereka bernomor 012. Ukuran kamar asrama mereka tidak terlalu luas, sebenarnya pun kurang nyaman untuk dihuni oleh tiga orang. Mereka belum ada waktu membahas ini dengan penanggung jawab asrama, jadilah hampir sepekan mereka bertiga menginap di kamar seluas 2x3 m itu.
"AAAAAAAAAAA!!"
Seperti biasa gadis penghuni kamar nomor 013 kembali berteriak di tengah malam. Suaranya melengking dan selalu membuat penghuni lain terkejut. Fara dan teman-temannya cukup terganggu dengan kejadian ini. Kamar mereka bersebelahan, sudah pasti keributan tadi mengusik malam ketiga gadis perantau itu.
"Anjir... Di asrama ini ada penjahat kah? Sumpah... Hampir setiap malem dia teriak. Atau dia kesurupan ya?"
Kaila yang pertama kali berkomentar, gadis berambut pendek sebahu menatap jengkel ke arah pintu. Kaila juga menjadi orang yang paling sewot di antara mereka setiap gadis di kamar 013 berteriak. Dia itu gadis yang realistis, tidak suka diganggu, selalu beranggapan hidupnya lurus dan tidak ada masalah
"Denger-denger sih, dia sendirian di kamar itu. Bisa aja dia kesepian terus stres terus teriak teriak begitu. Zaman sekarang kan sedikit-sedikit depresi. Sana Kaila, temani cewek itu. Siapa tau dia nggak teriak lagi."
Kalau Kaila terlalu sewot, Edlyn justru yang paling suka bergurau. Prinsip mereka sama, suka kedamaian tetapi Edlyn tidak suka berkomentar. Dia suka bercanda tapi hanya ke orang terdekat saja. Dia juga menjadi yang paling cantik di antara kedua temannya. Dia tinggi, kulitnya bersih, rambutnya halus, semuanya terawat. Selain menjadi yang paling cantik, Edlyn juga berbeda dari kedua temannya karena dia bukan penganut agama islam. Edlyn beragama katolik.
Meskipun ada dua kepercayaan di kamar 013, tetapi ketiga gadis itu tidak mempermasalahkan apapun. Kalau Edlyn ingin mengkonsumsi makanan yang tidak dihalalkan bagi agama kedua temannya, ia akan pergi makan di luar. Pun Edlyn tidak pernah terganggu dengan aktivitas ibadah kedua temannya.
ESTÁS LEYENDO
JASMINE
Misterio / SuspensoAku bisa mendengarnya, suara parau lembut yang keluar dari belah bibirnya. Aku tidak tahu siapa dia, karena dia memang sulit dikenali, dia tak nyata. Aku bahkan tak menyangka dosa apa yang telah aku perbuat hingga dia senang mengikutiku. Dan akhirny...
