1

27 3 2
                                        

Ketika yang di harapkan tak pernah terkabul.
Ketika yang di inginkan tak jua didapat.
Dan ketika yang didamba justru menghilang.
Sebagai seorang insan yang lemah ini bisa apa ?
***

"Ma! Kenapa harus aku Ma?"
Suara parau seorang gadis yang terdengar pilu mengalun sendu. Isak tangis pun terdengar menyayat hati. Telaga bening sang gadis bersurai hitam sepinggang itu menatap sendu pada seorang wanita yang tampak menatap nyalang pada gadis itu.

"Kenapa harus kau katamu?! Kau yang ingin semua ini terjadi bukan? Kau yang ingin saudarimu pergi di hari pernikahannya kan?! Jawab!"

Tuduhan yang di berikan wanita yang dipanggilnya 'Mama' itu membuatnya menggeleng tanda ia tak setuju.

"Apa maksud Mama?"

Gadis itu masih terisak pedih mendengar jawaban sang ibunda yang menatapnya penuh dengan sorot kebencian.

"Aku tak tahu dosa apa yang ku perbuat dimasa lalu hingga kau terlahir sebagai putriku. Harusnya dulu aku tak mempertahankanmu, harusnya dulu ku biarkan kau mati!"

Wanita paruh baya itu menjerit mengucapkan kalimat terakhirnya. Seakan itulah keinginan terbesarnya tanpa peduli hati sang gadis yang hancur lebur, mendengar ia tak diinginkan oleh ibunya sendiri.

"Kanaya!" bentak Panji pada istrinya yang sedang menangis hebat di tengah ruangan, berhadapan dengan sang putri.

Jangan tanyakan keadaan gadis itu, nyawanya seakan dicabut paksa dari tubuhnya mendengar pernyataan sang ibu. Walau bukan untuk yang kali pertama sang ibu berbicara kasar terhadapnya, namun kali ini ia merasakan hancur. Bahkan sangat hancur. Ia terbiasa di abaikan, ia terbiasa di bedakan, bahkan di acuhkan oleh ibu kandungnya sejak lahir. Tapi mengapa sang ibunda tega melakukan hal ini padanya? Pertanyaan itulah yang selalu berputar di kepalanya bagai kaset rusak.

"Kanaya, sadarlah!" Ucap pria paruh baya sembari mendekat pada sang istri.

"Aku membencinya! Aku membenci anak itu Mas! Aku benci!" Pecahlah tangisan wanita itu di dekapan sang suami.

"Kanaya aku mohon, jangan berbicara seperti itu. Dia juga anakmu, putri kandungmu." 

"Tidak! Dia bukan putriku! Dia anak si brengsek itu! Dia anak dari pria pemerkosa itu!"

"Ibu..." Ucap gadis itu pedih menerima kenyataan pahit. Ia mulai mengerti mengapa sang ibu selalu membedakannya dari yang lain. Nyatanya ia adalah anak yang tak di inginkan. Ia adalah anak dari hasil pemerkosaan.

Melihat sang putri sulungnya gemetar, Panji seakan iba. Lebih tepatnya ia merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal ini dari sang putri.

"Naya." Panggilan sang ayah membuatnya memfokuskan netranya pada sang ayah. Pandangan yang menyiratkan luka basah berdarah tak kasat mata. Sungguh! Ia sangat terluka.

"Ayah."

Dengan gemetar ia memanggil pria itu 'Ayah' lalu ia mengalihkan pandangannya ke wajah sang ibunda yang tampak terisak didekapan sang ayah membuatnya serasa tercekik oleh keadaan. Di satu sisi ia sedang berada pada masalah besar, yaitu menjadi pengantin pengganti untuk sang adik. Dan di sisi lain ia merasa tertohok oleh kenyataan pahit.

TOK TOK TOK

Pintu terketuk membuat perhatian ketiga orang itu beralih pada suara.

"Tuan Bratawangsa, apa ada masalah? Para tamu sudah menunggu."

"Ah, ya tunggu sebentar," "Nak, tolong selamatkan kehormatan keluarga ini. Ayah mohon dengan sangat padamu."

Permohonan sang ayah seperti belati yang memutus urat nadinya. Ia bingung. Ia kecewa. Ia marah. Marah pada takdirnya.

Titik AkhirWhere stories live. Discover now