Siswa berambut hitam pekat acak-acakan itu melewati lorong XII IPA dengan seragam yang sengaja dikenakan secara serampangan, lengan dilipat ke atas, dan tali kedua sepatu Vans nya tidak tertali, awut-awutan, membuat semua laki-laki yang ada disana mendoakannya dalam diam mati dijemput maut tersandung talinya sendiri itu.
Wajah coolnya itu membuat cewek-cewek dari semua kelas IPA histeris, berlagak jaim ketika berpapasan dengannya, bahkan beberapa ada yang tertawa manis yang sangat kentara dibuat-buat demi mencari perhatian cowok itu.
Ya, semua perempuan histeris. Kecuali satu.
"Ihhhhh itu si Ardan lewatttt!! Tris, Tris, pura-pura mau jalan ke toilet yuk! Sapa tau papasan mata ama diee!" Celetuk Ina, siswi XII IPA 3 dari dalam kelasnya.
"Hayuk hayuk! Sekalian kebelet emang gue mau ke toilet," Trisna dan Ina bangun dari kursinya, bebarengan dengan Disty yang sedaritadi fokus dengan buku catatan yang ada di depannya.
"Dis, lo mau ikut caper ke si Ardan juga?" Tanya Trisna, keheranan.
"Ih ya ampuunnn, Disty mulai tertarik ama Ardan ni yeeee.." Imbuh Ina. Memang, di antara ketiganya, hanya Disty yang sama sekali tak tertarik dengan cool bad boy yang diidamkan semua perempuan di sekolahan. Setiap kali Trisna dan Ina sengaja mencari perhatian cowok-cowok cool(terutama Ardan), selalu Disty yang tak pernah bergabung.
"Ih, apaan coba? Orang gue mau nganterin ini ke Aldi. Buang-buang waktu aja caper ke cowok gak penting kayak dia." Disty mengedikkan bahunya geli, mendului kedua temannya yang masih tercengang di tempatnya.
"Ada ya orang kayak si Disty?" Tanya Trisna ketika Disty sudah jauh dari mereka, lebih seperti memberikan pernyataan.
"Lah si Disty mikir. Ada ya orang kayak temen-temen gue ini?" Balas Ina.
"Ya adalah. Buktinya kita ada."
"Ya berarti orang kayak Disty ada dong. Buktinya Disty ada." Tambah Ina lagi.
"Hah?" Trisna yang paling lemot di antara mereka bertiga itu mengernyitkan dahinya.
"Hah? Apaan si Tris? Udah ah ayok keburu si Ardan pergi." Ina menarik tangan temannya itu menjauh dari dalam kelas, berjalan di lorong menuju toilet.
***
Saat keluar dari kelasnya XII IPA 3, Disty sempat berpapasan dengan si Ardan-Ardan itu. Memang perlu diakui Ardan itu cowok yang ganteng. Perlu dibilang, paling ganteng se-SMA Gaier. Tapi Disty sama sekali tak tertarik dengan cowok itu, apalagi mengetahui sifat bad dan sok cool nya.
Mata mereka sempat bertemu walau hanya sepersekian detik, lalu keduanya saling membuang muka, saling tidak mengindahkan satu sama lain. Disty terus berjalan, sampai ia berada di depan ruangan kelas XII IPA 1, lalu ia masuk.
"Eh, Disty!" Sapa seorang lelaki yang sedang duduk di salah satu bangku barisan tengah di kelasnya. Ruangan XII IPA I itu sedang sangat sepi, hanya ada sekitar 5 murid di dalamnya, yang sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing(alias bukunya).
"Aldi, gue mau nganterin ini ke lo." Disty menghampiri cowok itu yang adalah Aldi, meletakkan buku catatannya di atas mejanya.
Galang Aldi Wijaya. Siswa unggulan XII IPA 1 yang adalah rekan OSIS Disty Alana. Keduanya sudah sangat dekat sejak LDKS Organisasi dulu kelas X, bahkan Aldi pernah menyatakan rasa suka nya pada Disty saat semester 1 kelas XI, walau Disty sama sekali tak punya perasaan dengannya saat itu. Hubungan pertemanan mereka sempat canggung di kelas XI, walau sekarang sudah tidak lagi karena Aldi pun telah memacari siswi XII Bahasa 2, Sienna.
Aldi menatap buku cewek itu sebentar, membaca konteksnya. "Proposal lomba flashmob?"
"Iya, menurut gue lebih cepet kelar lebih baik. Gimana, gas gak nih?" Ucap Disty.
YOU ARE READING
ARDANISTY
Teen FictionDisty Alana, siswi XII IPA 3 yang seharusnya tak pernah berinteraksi dengan sosok Ardano Nakarjaya siswa XII IPS 1 yang adalah troublemaker paling hebat di SMA nya. Namun, takdir berkata lain. Dengan Gema dan Aldi di hidupnya, akankah Disty berhasil...
