Prolog

35 1 0
                                        

Darah dan air mata sebagai bentuk pengorbanan.
Tangisan derita terus menggema.
Pertemanan dengan mudah dihancurkan.
Balas dendam yang memuaskan jiwa.
Suara tawa dan tangisan saling membaur menusuk sukma.
Darah bergelimah indah bagaikan mutiara mewah.

~.~.~.~

Dari balik jendela itu, dengan tatapan kosong melihat semuanya. Gadis kecil itu hanya bisa berdiri diam, menatap taman belakang rumahnya yang terlihat begitu ramai karena hari ini adalah ulang tahun kakaknya yang ke sebelas. Ingin rasanya dia keluar dan bermain sepuasnya, tapi ayah dan ibunya akan marah kalau dia kembali membuat keributan.

Sungguh dia tak butuh barang mewah yang dapat membuat orang buta, namun yang dia inginkan hanyalah kasih sayang. Hanya itu, namun tidak ada seorang pun yang mau berbagi kasih sayang dengannya. Semua orang tidak akan pernah mengerti apa yang dia rasakan.

Berulang kali dia membuat keributan, hanya untuk mendapatkan perhatian keluarganya. Dan biarlah semua orang membencinya, dia tidak peduli karena melihat orangtuanya marah terasa sudah cukup untuk memenuhi kepingan kosong dalam hatinya. Gadis itu hanya bisa tersenyum getir melihat keluarganya yang begitu bahagia diluar sana, bahkan mereka bertiga berfoto bersama diatas ayunan kayu tanpa dirinya.

Bersamaan dengan berhembusnya angin, keadaan menjadi mencekam. Tatapan yang mulanya kosong berubah menjadi datar dan acuh tak acuh. Membuatnya seperti seorang tirani yang kejam dan memandang rendah terhadap dunia.

Mata sapphire yang sebiru lautan juga telah berubah menjadi perak setajam pedang dengan pupil lonjong ditengahnya. Mata itu seperti binatang buas yang sedang mengawasi mangsanya, menatap kebahagiaan keluarga tersebut dengan seringai yang menakutkan.

THE ANGEL OF DARKNESSStories to obsess over. Discover now