"Chita, ngaku! Elo kan?!"
Chita menggeleng keras. "Bukan! Bukan gue, yang ambil uang Lo."
"Halah, ngaku aja, Emang dasar anak pencuri!"
"Orang tua gue, bukan pencuri!"
"Pencuri! Anak pencuri!"
"Kepala keluarganya pencuri, anaknya juga pasti pencuri!"
"Pencuri!"
"Argghhh bukan!"
Chita berlari keluar gudang sekolah yang usang itu. Tadi saat bel pulang ia di tarik oleh segerombolan siswa kelas 12 Ips 5. Chita menangis, ia menangis seraya terus berlari. Chita berlari ke arah toilet, Karna tidak mungkin ia ke arah parkiran untuk saat ini. Untung saja keadaan sepi jdi tidak ada yang melihat Chita menangis. Ini Sangat menyedihkan! Ia tidak mau terlihat menyedihkan, apa lagi di kasihani. Ia tidak mau! Ia lebih baik di benci dari pada harus di kasihani. Bukan gengsi atau apa pun itu, Chita tidak suka mengambil simpati orang. Maksud dia begitu.
Emang dasar anak pencuri!
Anak pencuri! Pencuri!
Kepala keluarganya pencuri! Anak nya juga pasti pencuri!
Pencuri!
Kata-kata itu terus tergiang di benak Chita bagai kaset rusak. Papahnya bukan pencuri, tapi papah Chita di fitnah. Mana mungkin Papahnya melakukan hal hina seperti itu.
"Ma! Pa! Tolong Chita! Argghh!" Chita terus memukul kepala nya, dan menutup telinga nya. Kalo ada pintu kemana saja, ia pasti akan ke tempat yang tidak berpenghuni. Ya, Chita ingin sendiri dalam kesunyian dan kesendiriannya.
"Enggak! Enggak! Papah bukan pencuri!" Chita bergumam, ia terus memukul kepalanya. Jika ada obat amnesia, ia akan meminum semua obat itu sekarang juga.
"Bukan! Bukan! Hiks." Air mata Chita turun kembali. Yang ia bisa sekarang ini hanya menangis, menangis, dan menangis.
Chita memukul dinding kamar mandi dengan keras. Terlihat darah mengalir di tangannya, Chita telihat sangat frustasi.
Chita menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia terus saja menangis dan berusaha tidak membuat suara. Chita takut ada yang memergokinya dalam keadaan kacau seperti ini. Saku rok nya sedari tadi terus bergetar, Chita membiarkan itu. Ia yakin itu sahabatnya.
Chita berusaha tegar saat orang-orang menghinanya. Tapi ia tidak bisa, kenyataan nya ia rapuh. Ia tidak setegar yang kalian lihat. Chita rapuh, bahkan sangat. Chita benci jika terjebak di keadaan seperti ini. Ia hanya ingin hidup normal seperti orang-orang pada biasanya, yang tidak di ganggu kalo tidak mempunyai masalah.
***
Itu yang di mulmed, Chita yaaa.
Cerita ini, murni dari otak ku.
VOTE YA GUYS! MAKASIH!
YOU ARE READING
BimaChita.
Teen Fiction"Semoga suatu saat, aku bisa lebih jujur dengan keadaan, lebih bisa menerima fakta bahwa aku juga bisa rapuh sebenarnya. Bukan karna apa, ada dinding yang sengaja aku bangun agar orang Tidak mengetahui kelemahan yang kadang aku sendiri pun juga memb...
