PROLOG

37 4 0
                                        


Perempuan di hadapan Eimi mulai mengeset alat perekam suara abu-abu metalik, kemudian meletakkan benda itu tepat di tengah meja di antara mereka berdua. Kafe tempat mereka bertemu dalam keadaan sepi. Mereka datang bertepatan dengan pramusaji yang baru saja membalikkan papan tanda 'tutup' menjadi 'buka' di pintu kafe.

Meskipun sedikit kaget dengan 2 tamu yang sepertinya 'kepagian' —karena biasanya tamu pertama kafe di hari kerja seperti ini baru datang setelah 30 menit mereka buka, pramusaji tetap cekatan menyiapkan pesanan mereka berdua. Segelas iced latte untuk Eimi dan iced Americano double shot milik perempuan bermata coklat sendu yang dibingkai kacamata dari gagang kayu itu, kini sudah tersaji di meja dalam waktu kurang dari sepuluh menit sejak mereka menginjakkan kaki di tempat itu. 

 

К сожалению, это изображение не соответствует нашим правилам. Чтобы продолжить публикацию, пожалуйста, удалите изображение или загрузите другое.


Sebuah notebook tipis juga dikeluarkan dari tote bag perempuan bermata coklat sendu. Rambut panjang sebahunya menempel di meja saat dia berusaha mencolokkan kabel charger notebook ke sebuah terminal listrik yang sengaja ditempatkan di setiap kaki meja. Seakan masih kurang, senjata perang berikutnya yang dia keluarkan dari kantong Doraemon-nya itu adalah sebuah buku catatan kecil dengan sampul pastel khas stationery ala Korea. Eimi menatap tanpa kedip segala prosesi persiapan yang dilakukan si gadis muda.

Sepertinya anak ini tipe yang harus bertempur  dengan matang di lapangan, gumam Eimi dalam hati.

Eimi baru mengenal gadis itu 4 hari yang lalu. Saat dia tengah sibuk mengurus baby Klo yang sedang belajar mengunyah makanan pendamping ASI, sebuah panggilan telepon tidak dikenal muncul di layar smartphone-nya. Setelah memperkenalkan bahwa dirinya bernama Sherin,  sebuah tawaran tidak biasa juga diucapkannya.

Kantor tempat Sherin bekerja —sebuah Production House terkenal di negeri ini dan sering memasok berbagai serial drama dan sinetron di berbagai media, hendak menjadikan kisah hidupnya menjadi sebuah serial yang rencananya akan tayang di sebuah platform OTT yang sedang naik daun beberapa tahun belakangan ini. Eimi mengerutkan kening, siapa orang yang pertama kali mengusulkan untuk  mengangkat kisah hidupnya menjadi drama 13 episode di PH tersebut?

Sherin akhirnya menyebutkan sebuah nama. Nama yang amat dikenal Eimi. Dan orang itu sekarang adalah produser Sherin. Eimi sedikit kesal karena bukan orang itu sendiri yang menelpon dia dan meminta izin.  Setelah Sherin selesai menutup telepon, Eimi menunggu baby Klo tidur, lalu setelahnya dia pergi ke teras belakang rumah dan menelpon si produser Sherin dengan nada mengamuk. 

Produser menjelaskan, dia baru masuk sekitar 2 hari di PH itu dan sudah ditodong untuk menyerahkan konsep untuk diajukan ke klien. Awalnya si produser hanya mencari aman dengan membuat deck dengan kisah Eimi, tak disangka konsep itu malah lolos saat pitching dan dimandatkan untuk segera dibuat. Jika Eimi menolak, si produser akan kehilangan pekerjaan barunya itu. Eimi dilema.  Dia takut melukai hati orang-orang yang terlibat, jika kisah itu dijadikan konsumsi publik tapi juga tidak ingin si produser kehilangan pekerjan.

Setelah berdiskusi panjang dengan sang suami, akhirnya Eimi terpaksa setuju.  Dengan catatan, PH tersebut harus meminta izin juga pada setiap orang yang nama dan kisahnya terkait dengan masa lalu Eimi. Mereka menyanggupi dan akhirnya menghubungi orang yang Eimi tunjuk. Minggu depan, mereka semua yang pernah menjadi bagian cerita Eimi akan berkumpul di kantor PH tersebut demi menghindari masalah di masa depan.

Dan di sinilah dia sekarang, bersiap untuk sesi wawancara. Eimi hanya bisa menyediakan waktu selama 3 jam untuk hari ini karena baby Klo dititipkan ke ibunya.  Dia masih merasa sanggup mengurus suami dan baby Klo sendirian tanpa bantuan asisten rumah tangga selama ini. Sejak kelahiran baby Klo 6 bulan lalu, Eimi tidak pernah meninggalkan bayi kecilnya itu sendirian. Namun akhirnya datang juga waktu di mana dia harus pergi tanpa bisa mengajak putrinya itu, seperti sekarang ini. 

Sherin mengecek HP-nya, lalu dengan muka tidak enak mengucap hati-hati, "Produser saya masih on the way, mba.. jadi kita mulai aja sesi wawancaranya ya?"

Eimi mengangguk dan tersenyum. Masih otw, berarti anak itu baru bangun sebenarnya, pikir Eimi. Eimi sangat mengenal kebiasaan produsernya Sherin, karena sejak pertama mengenalnya, dia bukan tipe 'manusia pagi'. Eimi menebak orang itu akan datang sekitar jam 12 siang. 

Sherin mengambil alat perekamnya dan mendekatkan ke mulut, seraya berucap, "14 April 2020, sesi pertama wawancara dengan mba Eimi, untuk serial Broadcaster Disaster.."  Setelah itu, dia meletakkan kembali alat perekam ke tengah meja.  

Sementara Eimi kini mulai mengingat, masa-masa waktu dia masih menjadi seorang karyawan di salah stasiun TV swasta di negeri ini: IndTV. Kantor yang pernah dianggapnya sebagai rumah kedua. Tempat dia pertama kali merasakan susahnya bekerja, bertahan hidup dari hari ke hari dengan mengandalkan gaji UMR provinsi dan juga perasaan jatuh cinta beserta dengan segala perihnya karena seseorang bernama Prana Aditia Herjadi. 

 

К сожалению, это изображение не соответствует нашим правилам. Чтобы продолжить публикацию, пожалуйста, удалите изображение или загрузите другое.
Вы достигли последней опубликованной части.

⏰ Последнее обновление: Jan 12, 2020 ⏰

Добавьте историю в свою библиотеку, чтобы получать уведомления о новых частях!

BROADCASTER DISASTERМесто, где живут истории. Откройте их для себя